(25) Oblivion

59 13 5
                                        

Duduk tenang bertiga mengeliling meja kopi di lounge lantai dua sore hari menjelang malam ini bukanlah hal lazim yang Ari, Dannisa, dan Evita lakukan. Jikapun ada yang membuat mereka duduk serius bertiga bak orang main gapleh, itu adalah satu, masalah toko seperti bocornya gas di dapur untuk keduakalinya minggu ini. Dua, masalah pribadi yang tidak bisa diselesaikan sendiri seperti masalah Evita yang akhirnya curhat panjang lebar soal dirinya dan Juno. Lalu alasan ketiga, sekaligus alasan yang membuat mereka duduk rapi begini--disertai senyum-senyum penuh antisipasi, rambut tersisir sempurna, pakaian terbaik, bersih dari bubuk kopi, tepung, noda madu, bau asap, atau keringat--adalah kedatangan tamu agung yang mereka tunggu-tunggu selama sepekan.

"Itu dia." Evita bangkit dengan tenang dari duduknya. Dannisa mengikuti Evita menuruni tangga dengan sama antusiasnya. Sementara Ari mengekor sembari menghela napas berat.

"Selamat sore, selamat datang di Sunday Morning!" sapa Hanan otomatis begitu sosok itu membuka pintu hijau toko, menimbulkan denting lonceng halus.

Membelakangi dua manusia yang berjajar senatural mungkin di belakangnya, Ari otomatis nyengir canggung saat Agnar muncul dengan tampilan yang kurang lebih sama dengan saat pertama dan terakhir kali ia melihatnya seminggu lalu; kemeja kerja hitam, celana hitam, dan sepatu lari yang sama sekali tidak cocok dengan konsep eksekutif muda yang ia bawa dari kepala hingga mata kaki. Kemudian senyum malu-malu itu. His signature smile.

"Fresh from the plane," Agnar terkekeh kecil sembari menunjukkan koper ukuran sedang yang digeretnya.

Ari mengajaknya duduk setelah mengenalkannya pada Evita, Dannisa, dan Hanan. Ari lega ketiganya menyambut Agnar dengan positif. Ia tidak mengerti bagian mana dari ceritanya soal Agnar yang membuat dua temannya begitu antusias akan kedatangan pria songong satu ini.

Minggu lalu, sepulangnya dari Singapura, ia bercerita pada gadis-gadis tentang kencan butanya bersama Agnar. Seingat Ari, jawabannya lempeng-lempeng saja.

"Gimana perjodohan lo kali ini?" Saat itu Evita bertanya.

Ari termenung sejenak. "Yah... yang ini lumayan juga," jawab Ari acuh tak acuh.

Dari situlah Evita dan Dannisa menganggap ada yang lain dari perjodohan temannya yang satu ini. Mereka berdua tidak banyak bertanya soal Agnar. Ari pun tidak banyak bercerita. Tapi ia tahu kedua temannya memperhatikan dirinya diam-diam setelah itu.

Terlepas dari ketidakmengertiannya, Ari merekomendasikan hand drip coffee andalan mereka. Kali ini Ari mendesak Hanan untuk membuatnya minggir sebentar dan mengambil alih bar kopi selagi Agnar asyik berbicara bersama Dannisa di sudut ruangan.

Sementara itu Evita pergi ke dapur untuk menyiapkan beberapa iris pai bluberi, kukis Nutella, dan sepoci teh bunga untuk mereka bertiga. Yang terakhir itu murni inisiatif Evita. Ari bahkan tidak suka teh bunga.

"Kalo Sunday Morning buka cabang di Jakarta atau Singapura kabar-kabarin, ya. Saya mau banget mampir setiap hari. Kopinya enak," cetus Agnar di tengah pesta di meja kecil yang dikelilingi empat orang itu.

Keempat orang yang mendengar itu tersenyum puas, tidak terkecuali Ari yang senyumnya tanggung sejak awal.

"Mbak barista-nya harus ikutan pindah juga, dong?" Evita mengerling ke arah Ari yang diam-diam tersenyum bangga di balik mesin espresso.

"Oh, ya? Ini bukan Mas barista-nya yang bikin?" Agnar terheran.

Ada tawa tertahan di antara Dannisa dan Evita yang hampir saja lolos.

"Enak, sih. But needs some more extra work and you're good." Tambah Agnar pendek. Ari kentara sekali tampak gondok.

Ari menghela napas, merasa selesai dengan itu semua. Entah Agnar sukses menggodanya atau udara Bandung yang sedang panas mengubah mood laki-laki itu jadi lebih songong.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang