(33) Geborgenheit

55 11 2
                                        

*Geborgenheit: (n.) a state of comfort and well-being.


Evita mencoba mencerna kalimat Juno kata per kata. Keseluruhan kalimatnya tetap saja tidak masuk akal di telinga.

"Ayo, kita nikah," ulang Juno.

Sesungguhnya ini menyeramkan bagi Evita. Bukan hanya kenyataan bahwa Juno muncul lagi secara tiba-tiba di hadapannya tapi juga kenyataan bahwa Juno muncul lagi secara tiba-tiba di hadapannya untuk melamarnya. Setelah apa yang terjadi pada mereka.

"Bercanda kamu, Jun?" Evita tertawa pahit.

"Aku belum pernah seserius ini."

"Tapi kamu ninggalin aku." Kalimatnya tercekat di tenggorokan.

"Nggak, Vit... Nggak pernah sebenernya aku ninggalin kamu..."

"But you tried to, right?"

"Demi Tuhan, Evita, nggak..."

"Aku masih belum lupa kamu bilang apa waktu kita ngobrol terakhir kali."

Juno menghela napas berat, "maafin aku... Aku bersalah."

"Gimana bisa, sih dulu kamu ngomong seenaknya dan sekarang tiba-tiba dateng, pengen aku nikah sama kamu? Kamu tau nggak, Jun, segimana membingungkannya ini?"

"Tau. Aku tau banget. Aku ngerti kenapa kamu begini. Tapi untuk yang pertama kalinya, Evita, aku ingin kesempatan. Kita udah pacaran bertahun-tahun dan aku nggak pernah main-main sama kamu. Kamu tau itu."

Evita menatapnya tajam melewati kaca matanya. Mencari pembenaran. Di hadapan Juno, teori-teori yang ia pelajari tidak berlaku. Logikanya tidak bekerja.

"Aku nggak sebaik yang kamu kira, Jun..."

"Aku juga tahu itu."

"Aku bakal selalu cemburu sama siapapun yang deket-deket sama kamu."

"Aku terima."

"Aku bakal jadi perempuan yang rese, bawel, dan menyebalkan di depan kamu."

"Itu juga aku terima."

"Aku bakal bunuh kamu kalo kamu sekali lagi, sekali aja lagi, coba-coba ninggalin aku dan bikin aku sakit hati."

"Well, I'll be gladly take that risk." Juno terkekeh.

Kini ganti Evita yang mendesah frustrasi. Matanya mengawasi Juno yang merogoh saku celana jinsnya dan mengeluarkan sebuah benda kecil berkilauan. Senyumnya menggoda.

"And now, Evita Candramaya Indrabudi, will you still kill a man who gave you the biggest stone in store?" Juno meraih tangan Evita dan perlahan menyematkan cincin princess cut itu di jari manisnya. Ia lupa bahwa Juno selalu semanis dan selembut ini, sekeras apapun kelihatannya dari luar.

Napas Evita tertahan bersama dengan senyumnya. Tangan Juno terasa hangat di kulit jemarinya.

"Oh, damn yes, I will."

Mimpinya bertahun-tahun menjadi nyata malam itu. Dan selamanya, setinggi dan sekokoh apapun Evita membangun benteng untuk melindungi diri, ia akan selalu melemah di hadapan Juno. Laki-laki itu terlahir menjadi kryptonite baginya.

***

Agnar menjemput Ari Sabtu sore menjelang petang itu di studio pilates. Ketika selesai mandi dan berdandan di ruang ganti studio, Ari menyadari lipstik merahnya tidak ada di dalam tas. Ia yakin lipstiknya tertinggal di rumah Alex saat ia berkunjung kemarin malam. Dalam hati Ari agak menyesali kedatangan Agnar hari itu namun ia bersyukur telah menemukan alasan untuk menemui Alex lagi. Walau ada Agnar yang mengikuti.

[END] Sunday MorningTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang