(14) Tristful

70 14 11
                                        

Sebuah keajaiban turun untuk Evita. Pada suatu Sabtu di bulan Januari itu Juno menghubunginya malam sekali.

"Besok aku anter ke Sunday Morning, ya."

"Kamu nggak apa-apa?" adalah reaksi pertama Evita saat itu. Juno yang bukan morning person tiba-tiba mengatakan ingin bangun lebih pagi--lebih subuh tepatnya--demi mengantar Evita. Ia patut mengkhawatirkan sesuatu. Mungkin pekerjaannya di kantor mulai membuatnya sedikit hilang akal. Seperti Ari yang jika akhir bulan tiba dulu semasa masih bekerja sering melakukan video call hanya untuk mendengar suara Evita dan Dannisa mengobrol lalu tertawa pada lelucon Dannisa yang sungguh tidak lucu.

Merasa kasihan pada Juno jika ia harus mengantar ke toko pukul 5, Evita menolaknya halus dan berkata lebih baik mereka bertemu dan makan sesuatu saja di Sunday Morning pukul 6 mumpung Dannisa dan Ari belum bangun. Juno mengiyakan.

Evita yang datang lebih dulu memanggang tiga jenis kue sejak pukul 5, menyambut Juno dengan tangan berlumuran adonan tepung. Ia tampak masih mengantuk meskipun sudah mandi, kelihatan segar, dan wangi kolonye. Selama duduk menunggu Evita, entah sudah berapa kali Juno menguap dan kacamatanya melorot. Evita tersenyum-senyum geli melihatnya.

"Kita makan apa?" Juno duduk manis di salah satu meja dekat konter. Evita sedang menyelesaikan satu loyang bagel lagi di dapur.

"Berhubung kuenya baru siap sejam lagi, aku bikinin sesuatu buat ganjel aja dulu, ya? Kamu udah laper, kan?" Evita berseru dari dapur sembari mengangkat french toast dari atas penggorengan.

"Belom ada yang jadi?"

"Belom." Evita keluar setelah menyalakan timer dan membawa nampan berisi dua cangkir americano dan dua piring french toast yang diolesi selai stroberi ke hadapan Juno.

"Ini aja, nih?" Juno memandang dua tangkup rotinya dengan ragu. Evita mengangguk.

"Kan, ganjelan. Kamu bisa makan yang lainnya nanti." Jelas Evita, menyeruput kopinya. Walau ragu, Juno melahap rotinya juga. "Kamu pengennya apa, Jun?" Evita tersenyum geli.

"Apa juga boleh kalo kamu yang bikin," jawabnya nyengir. Itu benar, meski Juno membayangkan makan pagi dengan satu set sarapan ala Inggris atau Amerika yang ditata cantik seperti yang biasa disajikan di sebuah kafe.

"Kamu ngarepin brunch mewah dan cantik yang instagrammable, ya?" tembak Evita. Juno lantas tertawa malu. "Makanya nodong sarapannya agak siangan. Nanti kita pergi makan di luar aja, ya." Evita mengusap rambut Juno seperti ibu membujuk anaknya yang kecewa.

Pada saat itu Hanan masuk dengan berisik. Di belakangnya seorang pria berkemeja rapi memaksa ingin masuk juga.

"Sebentar aja, sebentar. Satu cangkir doang, ya, please. Itu di depan udah ada yang tamu yang dateng." Pria itu mendesak.

"Saya bilang bukan tamu. Itu mobil yang punya toko, Mas." Hanan berusaha keras menahan pria itu masuk. Sepertinya ia salah mengira mobil Juno di depan adalah mobil pelanggan. Atau ia hanyalah pelanggan yang benar-benar butuh sarapan segera.

"Maaf, Mas. Belum buka." Evita beranjak dari kursi. Hanan melepaskannya lalu pergi ke dapur sambil ngomel-ngomel sendiri.

"Eh, Evita?" tegur pria itu.

"...Fahri?" ucapnya ragu. Wajahnya mulai tampak familiar. "Fahri, ya?"

"Ya ampun, kebetulan banget ini. Apa kabar?" Pria itu tersenyum lebar.

Evita menghampiri Fahri yang masih berdiri dekat pintu. Pria berkemeja rapi dan berdasi itu betul Fahri, mantan pacar Evita ketika SMA yang saat ini berprofesi sebagai dokter gigi di Bandung dan sesekali masih bertemu setiap reuni tahunan. Cinta pertama sekaligus pacar pertamanya.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang