(26) The Acid Test

58 12 1
                                        

"Nan, Evita bilang tadi pagi gas bocor lagi?" seraya meletakkan sebuah nampan berisi piring dan gelas kotor, di island dapur, Dannisa mendatangi Hanan yang sedang mencuci piring dalam diam.

"Udah saya panggilin tukang," tukasnya pendek.

"Udah nggak apa-apa berarti?"

Hanan mengangguk seperlunya. Respon minimnya itu membuat Dannisa sedikit was-was. Hanan tidak pernah bersikap demikian ketus pada siapapun kecuali hari itu. Hari di mana mereka bertengkar untuk yang pertama kalinya. Dannisa bersyukur jikapun ia dan Hanan harus mengalaminya lagi hari ini, setidaknya mereka hanya berdua di sana siang itu.

Ketika berjalan mendekati Hanan, langkahnya terhenti seketika. Ia menyadari sesuatu selain lengan kemeja Hanan yang tergulung tinggi hingga siku. Ia melihat sebuah bekas luka vertikal di lengan kiri Hanan yang memanjang dari pergelangan tangan hingga sekitar lipatan dalam sikunya. Bekas jahitan yang kentara, tidak rapi, dan membentuk jaringan parut. Ia tidak yakin bekas luka itu berasal dari mana, tapi ia tahu bekas luka seburuk dan sebesar itu bukan dari sekadar kecelakaan kecil.

Hanan memergoki Dannisa menatap bekas lukanya lalu buru-buru mengulur kembali lengan kemejanya. Sontak Dannisa mengalihkan perhatian dengan berpura-pura menyusun toples-toples selai dan mustard di atas island dapur.

Setelah beberapa menit berlalu dan yang terdengar hanya denting piring, sendok, dan cangkir yang beradu dan kucuran air keran, Dannisa kembali mencuri pandang. Hanan berhenti lagi di tengah bilasan sebuah cangkir bunga-bunga untuk mengurut pelipis. Matanya terpejam, menimbulkan kerut di antara alisnya.

"Kalo capek udahan aja. Saya yang terusin cuciannya. Kamu tidur dulu di atas atau sekalian pulang cepet."

"Saya nggak apa-apa."

"Apanya yang nggak apa-apa? Kamu kayak belom tidur tiga hari, tau nggak."

Hanan kembali menyabuni piring-piring kecil sambil tetap bungkam. Ujung lengan kemejanya kini basah.

"Tadi pagi harusnya kamu pergi bimbingan, bukan? Kok, nggak berangkat? Semalem begadang nyelesein bab tiga lagi?"

"Iya."

Dannisa terkejut Hanan tetap meresponnya seperti itu. Rasanya belum lama mereka menertawakan seorang pelanggan aneh yang datang pagi-pagi sekali selagi mereka menurunkan kursi-kursi tadi.

Apa ini semacam lawakannya yang tidak lucu? Dannisa terheran.

Ia mendesah frustrasi, "kamu ada istirahatnya nggak, sih?"

"Nggak," Hanan berbalik sebentar, "ada pertanyaan lain lagi?"

"Ada. Bisa nggak jawabnya santai aja?"

"Gimana saya bisa santai, coba jelasin? Pagi saya kuliah, siang kuliah sambil kerja, pulang kerja malemn ngerjain skripsi yang besoknya selalu terpaksa saya hapus. Saya harusnya bisa lebih dari ini!"

"Kita harus, ya, ngobrol kayak begini lagi?"

"Kamu juga nggak percaya, kan sama saya? Sama kayak semua orang."

"Kenapa lagi, sih kamu, Hanan?"

"Kalo kamu nggak percaya sama saya buat apa kamu ada di sini dan tanya ini itu seolah kamu peduli?"

"Kalo gitu apa...? Kasih tahu apa yang kamu pengen saya dan orang lain percaya...""

"Saya nggak seharusnya ada di sini!" Hanan membanting cangkir bunga-bunga ke bak cuci piring dan membuat Dannisa terlonjak. Ketakutannya terjadi.

"Oke... Bisa, kan kita ngomongnya pelan-pelan? Kamu mulai bikin saya takut..."

"Siapa yang mau denger saya..." Hanan berbalik menghadap bak dan mengambil sebilah pisau besar bernoda krim putih segar. Ia mencoba menenangkan diri dengan kembali bekerja meski tangannya yang memegang pisau gemetar hebat.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang