(6) Redamancy

109 19 11
                                        

Ia tidak menahannya lagi. Seminggu sudah genap dan ia ingin segera selesai berpikir dan memutuskan. Dirinya butuh dukungan dan pembenaran. Maka pagi itu, dengan kepala berat dan mata perih karena semalaman tidak tidur, Dannisa melakukan video call bersama Ari dan Evita.

"Eh, seriusan lo tumben telepon?" Evita tertawa. Dannisa ikut terkekeh canggung, bingung harus mulai dari mana.

"Masih hidup kaliaaan?" Satu suara lagi menyahut heboh dari seberang telepon. Suara Ari nyaring dan melengking seperti gelombang ultrasonik lumba-lumba.

"Barely." Tukas Evita.

"Kalian ngutang cerita, kan sama gue. Insting gue kuat banget kali ini." Dannisa mendahului pembukaan percakapan mereka. Ada dorongan untuk menunda pernyataannya. Ia sendiri tidak siap.

"Elu kali, Dan. Ngaku." Ujar Ari lagi, "ditipu klien? Ditolak publisher? Eh, udah keseringan itu mah, ya. Nggak mungkin telepon gara-gara itu doang."

"Disuruh pulang lagi. Iya, kan? Udah berapa kali tahun ini lo disuruh pulang?"

Keduanya hanya mendengar helaan napas Dannisa yang berat.

"Berita serius dan mengejutkan banget, ya ini?" Sambung Evita.

"Gue mau pindah lagi ke Bandung."

Tidak terdengar apa-apa dari sisi Evita.

"Okay. It's not that surprising, though. Gue selalu yakin lo bakal balik lagi ke Bandung suatu saat. Ada lagi yang lebih mengejutkan?" Ari berkata.

"Gue dipecat. Udah seminggu gue jadi pengangguran." Malah Evita yang menyahut. Yang terdengar selanjutnya adalah 'oh my god' Ari berulang-ulang yang tumpang tindih dengan repetan Dannisa yang tidak jelas, antara omelan dan seruan setuju. Gendang telinga Evita hampir pecah. 30 menit setelahnya mereka lewatkan dengan mendengar cerita detil Evita secara kronologis dan alasannya tidak lekas memberitahu mereka. Evita bilang ia masih yakin bisa kembali ke kantornya karena sampai saat ini ia masih menyelesaikan sisa tugas-tugas medianya.

Ari berdehem di akhir cerita panjang Evita, "gue selesai jual isi closet dan ngembaliin mobil merah gue. Gue mau kabur dari bokap."

Hening sesaat. Persis reaksi Alex waktu itu, malah lebih parah, Dannisa dan Evita tertawa tergelak-gelak.

"Oke, Ri. Gue sedih dan merasa malang tapi kalo ternyata itu bener, elo bakal lebih menyedihkan. Sori, sori. Aduh." Susah payah Evita menahan tawa.

"Iya, ketawa sana kalian guling-guling."

"Kalo mau bercanda siangan dikit, Ri." Dannisa akhirnya berhasil pulih dari tawanya.

"Gue lagi di rumah. Di garasi tepatnya." Ari mengambil jeda, "ngambil mobil nyokap."

Dannisa dan Evita terdiam lagi. Keduanya paham jika Ari berada di rumahnya, terlebih mengambil barang pribadi ibunya itu berarti sesuatu yang besar benar-benar terjadi. Selanjutnya ia dan Evita mendengarkan detil ceritanya, bahwa Ari hanya menyisakan beberapa baju yang murni Ari beli sendiri. Juga beberapa barang lain miliknya di apartemen.

"Gue nggak tahu siapa yang lebih menyedihkan sekarang."

"Apa ini semacam halusinasi? Gue belom tidur soalnya." Dannisa menguap.

"Kalo Dannisa beneran balik ke Bandung, gue bakal pindah ke Bandung juga."

"Kenapa?"

"Cuma itu tempat yang bisa gue pikirkan." Dannisa yang menjawab. Suaranya terdengar berat dan lelah.

"Gue juga. Bodo amat ah, pokoknya di mana ada kalian, itu tempat yang gue pikirkan."

Kesimpulan sudah tercapai tanpa perlu repot-repot ada yang bertanya. Masing-masing sudah membacanya.

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang