Tanah dan rumput yang basah karena hujan yang baru saja reda tidak mengurungkan niat Ari berlutut dan menodai celana hitamnya.
"Mama, maaf Ari lama." Ari berkata lirih sembari meletakkan sebuket anyelir merah muda di atas nisan keramik hitam. Kemala Sartika Prasatya binti Sena Prasatya. Dukanya yang merebak bercampur dengan perasaan lega karena akhirnya ia berkunjung lagi setelah setahun berlalu.
Ari memimpikan ibunya beberapa kali belakangan ini. Ia percaya bahwa jika seseorang memimpikan orang yang sudah tiada, itu artinya orang itu sedang rindu dan ia harus mengirim doa sebagai wujud rindunya yang berbalas agar orang itu tenang. Tapi alih-alih mengirim ibunya doa, Ari terlalu lama tenggelam dalam tekanan batinnya seorang diri lalu mencari kesibukan sebagai pelarian. Lalu akhirnya lupa akan mimpi itu berkali-kali.
"I shall not cry too long, right? I wouldn't have time to." Ari menyusut setitik air di ujung matanya.
Kalimat itu membawanya kembali ke masa 14 tahun yang lalu. Malam sebelum Ari mengikuti kompetisi debat Bahasa Inggris antar SMP tingkat nasional. Saat itu adalah beberapa hari setelah Ari jatuh sakit dan tinggal sendiri bersama staf rumah tangga di rumahnya. Ia masih gugup bahkan setelah berlatih di depan kaca selama bermalam-malam.
Pada latihan mandirinya yang terakhir malam itu seperti biasa Kemala masuk. Ia duduk bersama Ari di kursi pendek meja rias sembari menyisiri rambut Ari yang panjang, kebiasaan yang mereka pelihara setiap hari sebelum Ari tidur. Dalam kediamannya merasakan tangan Kemala di rambutnya, Ari mulai menangis. Ia gelisah dan takut akan melakukan kesalahan besok.
"Menangislah, nak. Tapi sebentar saja. Banyak yang akan menjatuhkan kamu nanti dan kamu akan sangat terpuruk. Kamu nggak akan punya waktu untuk menangis karena kamu harus sibuk bangkit." Kemala berkata sembari mengelus-elus rambut Ari.
Seperti sihir, kegelisahan itu sirna seketika. Ari naik ke tempat tidur sesudah Kemala selesai menyisiri rambut dan mencium keningnya lebih lama dari biasa. Malam itu Ari tertidur nyenyak sekali.
Keesokan paginya Ari berangkat ke sekolah untuk kemudian pergi bersama tim dan rombongan. Kemala berkata akan datang menonton nanti siang ketika gilirannya tiba karena ia harus ke kantor dan akan datang bersama Harry di sela istirahat siang mereka. Kemala memberinya pelukan yang panjang dan Ari pun pergi dengan hati ringan.
Tidak ada yang aneh sama sekali. Hari itu terasa sama saja seperti hari-hari biasa. Ketika tiba gilirannya, Ari menduga ayah dan ibunya sedang berada di bangku penonton bersama dengan orang tua-orang tua peserta lainnya walau ia tidak bisa melihat mereka. Ia bekerja keras di atas panggung. Semua hasil latihannya berhasil ia manfaatkan dengan baik. Ari merasa yakin akan kemenangannya.
Hingga sebuah telepon datang hampir bersamaan ketika Ari sedang gugup menunggu pengumuman pemenang di belakang panggung bersama tim dari sekolahnya. Guru Bahasa Inggrisnya memanggil Ari sebentar dan memberi Ari telepon genggamnya. Gurunya bilang ayahnya menelepon. Tanpa berpikir macam-macam ia menjawab telepon itu.
"Ari... denger Papa, ya." Suara Harry bergetar. Napasnya satu-satu. "Mama udah nggak ada, Ri."
Ari membeku untuk beberapa detik dan akhirnya tersadar apa yang ayahnya maksud. Tiba-tiba saja ia tidak merasakan apa-apa lagi di tubuhnya selain kepala dan matanya yang perih dan basah. Lututnya lemas. Pada saat yang sama, namanya dipanggil dari panggung diikuti dengan nama sekolahnya. Syok yang hebat melingkupinya dan dengan langkah yang tidak ia sadari ia naik ke panggung. Seisi aula gegap gempita. Ari menerima buket bunga dan sebuah piala yang besar sementara ia menangis sejadi-jadinya di tengah riuh penonton, taburan konfeti, dan teman-temannya yang bersorak bahagia.
Kemala mengalami kecelakaan di jalan tol. Mobil yang dikendarainya menabrak pembatas jalan dan terbalik. Sekretaris Harry yang ditugaskan untuk menjemput Ari ke rumah sakit berkata bahwa Kemala bersikeras menyetir sendiri ke gedung tempat kompetisi itu berlangsung setelah Harry membatalkan janji ikut menonton. Karena terlambat, Kemala mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga hilang kendali. Seketika gelombang kemarahan menyerangnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)