Keesokan harinya Ari terbangun pagi sekali. Ia melihat jam dan menyadari masih banyak waktu tersisa hingga penerbangannya nanti sore. Dari pada hanya tidur-tidur bodoh di kamar sampai sore, Ari berencana berenang di kolam renang hotel lalu pergi mencari sesuatu yang sekiranya bagus untuk dijadikan kado untuk Alex hingga jadwal penerbangannya tiba.
Dengan pikiran masih berputar-putar antara pemutar piringan hitam baru dan kaus band yang langka, Ari turun ke lobi hotel. Ia tidak yakin akan dapat menemukan sesuatu yang cukup hebat untuk Alex. Mungkin akhirnya ia akan mengikuti saran Dannisa saja jika perburuannya sudah mentok. Payah memang, Ari sendiri mengakuinya tapi saat ini ia tidak bisa memikirkan apa-apa lagi. Terutama setelah kabar Evita semalam.
Ari menghela napas. Bingung harus pergi ke mana terlebih dulu, ia duduk di sofa lobi dengan harapan ide akan menyambar seperti kilat di siang bolong.
"Saya kira kamu ikut Om Harry pulang."
Sontak Ari mengangkat kepalanya dan mendapati sosok tinggi besar Agnar berdiri menjulang di hadapannya.
"Papa kasih tahu kamu kalo saya masih bakal di sini sampai sore?"
Agnar menggeleng, "buat apa?"
"Harusnya kamu dan Papa saya yang paling tahu itu."
"Nggak, tuh. Saya ke sini karena ada yang mau saya temuin di atas."
"I see." Ari memvalidasi itu dari setelan Agnar yang setipe dengan yang dikenakannya semalam juga tas kerja yang ditentengnya.
Agnar mengangguk singkat sebagai isyarat meminta diri tetapi kembali menghampiri Ari beberapa langkah kemudian.
"Saya bukan orang yang gampang bermurah hati apalagi sama orang yang nggak percaya sama saya," jelas Agnar cepat, "tapi kalo kamu butuh sesuatu mungkin kamu bisa biarin saya bantuin kamu. Because I'm a native of some sort, if you ask why."
"Saya mau pergi sendiri abis ini."
"Shopping?"
"Nggak tahu."
"Saya bisa bantu walaupun saya bilang itu cuma sekadar manner."
"Kamu lucu, ya. Paradoksial." Tawa Ari hambar.
"You should try me. Walking with a paradox is something you won't do very often, right?"
"I've read all of your upcoming moves, for your information." Ari melipat tangan di dada.
"And for your information, I know my moves and to my own acknowledgement, none of them involving you. Seenggaknya nggak hari ini." Untuk pertama kalinya lagi seusai makan dan berpisah semalam, Agnar tersenyum langsung padanya. Senyum miring yang cuma butuh otot di sudut bibir beberapa detik saja.
Ari mencibir. Sekali lagi terkesan pada cara pria ini menarik dan mengulur seperti bermain tarik tambang.
"I'll take that as a yes," tukas Agnar tanpa persetujuan siapa-siapa, "you know you have that tiny little trust in me. I'll trust you, too."
Setelah berkata untuk menunggu 30 menit, Agnar menaiki lift dan menghilang dari pandangan. Ari sudah ingin beranjak saat itu juga dan memutuskan untuk tidak memedulikan ajakan orang aneh itu tadi. Masa bodoh, pikirnya. Ia hanya akan buang-buang waktu meladeni orang yang jelas-jelas tidak ada maksud lain selain koneksi ayahnya. Itu cuma akan membuat dirinya sama rendah. Tetapi insting Ari memaku duduknya semakin kencang dan mengatakan bahwa ia harus menunggu paling tidak 30 menit saja.
Ari kira Agnar akan kembali dengan sebuah mobil mentereng di driveway hotel--seperti lagi-lagi para pria yang sudah-sudah--mengingat pekerjaannya, tempat tinggalnya, dan segala yang ia pakai semalam.
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Storie d'Amore3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)