Untuk Minggu yang kesekian kalinya Ari duduk sendiri, berharap sesuatu yang tidak jelas. Sore itu ia pergi ke Sunday Morning. Bercakap-cakap dengan dirinya sendiri. Pekerja-pekerja renovasi mereka sudah pulang, menyisakan setengah pengerjaan langit-langit. Harusnya Ari datang besok pagi, mengawasi pekerjaan mereka hingga siang, bergantian dengan Evita yang sudah melakukan gilirannya sejak seminggu lalu. Namun Ari tidak tahan. Ia harus melihat tempat itu walau ia nyaris tidak bisa duduk di mana-mana selain di atas kayu-kayu balok dan karung semen dan hanya bisa melihat jelaga dan kerak kehitaman pada dinding dan kayu sisa furnitur yang hampir hancur.
Shits really happen, don't they? bisiknya, memandang kaca depan toko yang stikernya mengelupas.
Pada saat-saat seperti ini Dannisa akan menuruni tangga dengan tergesa, memaki kecil karena hampir melompati anak tangga terakhir, menghampiri Ari di konter dan meminta Ari menyeduhkan secangkir espresso meski Ari sedang murung dan menolak dengan malas. Dannisa lalu akan merayu dan bilang bahwa dirinya tampak cantik dan seksi dan lebih ceria ketika sedang membuat kopi. Lalu Evita akan datang dari dapur, membawa sepiring roti panggang Nutella resep andalan, dan satu-satunya, milik Ari dan minta dibuatkan secangkir kopi juga. Ini akan jadi sore yang manis dan menyenangkan. Dengan mereka.
Ari mulai rindu Dannisa yang mulai sibuk bolak-balik ke penerbitannya di Jakarta padahal belum pernah ia begitu rindu pada anak itu. Ketika Dannisa pindah lagi ke Jogja setelah lulus kuliah pun Ari tidak pernah rindu-rindu amat. Rindu pun ketika itu ia tinggal memesan tiket kereta atau pesawat, pergi saat itu juga dan pulang pada akhir pekan. Tapi sekarang ia punya sekretaris yang mengatur setiap agendanya di kantor dan agenda pertamanya adalah pergi ke Jakarta, menemui tim legal dan pengacara keluarganya untuk menaikkan Ari sebagai chairman. Dan agenda-agenda lain yang akan menyusul dan berderet-deret tanpa ampun seperti yang Harry punya. Pergi ke sana kemari tidak akan lagi semudah itu.
Ia juga mulai rindu Evita. Padahal Evita ada di rumahnya, mungkin sedang duduk di teras belakang, minum teh sambil membaca The Art of Hearing Heartbeats untuk kesejutakalinya. Rindu pun Ari tinggal menelepon taksi dan langsung pergi ke rumahnya. Tapi keadaan Evita pun tidak lebih baik darinya. Ia butuh sendiri, Ari tahu. Dan, seberapa butuhnya ia, teman yang baik harus mengerti kapan temannya butuh sendiri dan kapan butuh ditemani.
Dirinya ingin mengirim satu pesan instan atau menelepon beberapa menit saja, bertanya, bagaimana kabar kalian?
Lalu satu suara muncul dan bertanya, bagaimana kabar Alex?
Ia baik-baik saja, jawabnya.
Bagaimana kabar perasaanmu untuk Alex? Tanya suara itu lagi.
Ari diam. Tidak mampu menjawab. Tidak punya jawaban apapun.
Pintu depan yang sudah tinggal kerangka dibuka dan menimbulkan derit yang menyedihkan. Melihat siapa yang datang, Ari ingin tertawa sendiri pada matanya yang mulai ngaco.
"Lo memang selalu ngintilin gue ke mana-mana atau gimana, sih Lex?" tanya Ari pelan.
Alex menutup pintu kembali dan ikut duduk di atas balok-balok kayu di tengah ruangan bersama Ari. Tidak ada alasan bagi Ari untuk beranjak atau berteriak kesal atau memaki ke arahnya dan menyuruhnya untuk tidak dekat-dekat lagi. Ia sudah lelah untuk itu. Ia tidak ingin begitu.
"Gue mencoba mencari... celah." Alex tersenyum. Alex tidak pernah tersenyum demikian halus dan penuh emosi pada Ari. Alex biasa nyengir, memamerkan deretan giginya yang tidak jernih karena kafein. Alex biasa menjadi badut untuknya.
Ia biasa ada hidupku. Sepanjang umurku.
"I miss you, Lex."
"I miss you even more."
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)