(46) The Wavering Heights

54 10 7
                                        

"Kamu suka yang ini?" Agnar menyodorkan dua cincin lain pada Ari, yang satu marquise-cut dengan satu berlian oval besar di tengah, yang satu lagi dengan cincin berpotongan sederhana dengan berlian di sekeliling permukaannya. "Atau yang ini aja? Ini bagus, loh. Kamu bilang kamu suka yang simple aja, kan. Gimana?"

"Yang kamu suka aja," jawab Ari, tersenyum sekilas pada Agnar. Telapak tangannya tertangkup di atas display kaca, sudah menolak dipasangkan lagi cincin yang ditawarkan Agnar.

Mulai lelah dan bingung, Agnar akhirnya memilihkan cincin sederhana itu. Ari mengangguk setuju begitu saja. Dilihat dari sudut manapun sebenarnya berlian sebanyak itu sama sekali tidak sederhana, apalagi setelah Ari mendengar harganya. Tapi, toh ia menerimanya. Ia pasrah sejak Agnar bersikeras memberinya cincin dan ia tidak lagi punya alasan untuk menolak. Lagipula tidak akan pernah seorang wanita seperti dirinya menolak Tiffany.

"A woman needs a ring if she's going to marry someone," ujar Agnar beberapa malam lalu saat Ari sekali lagi menghampiri Agnar di kantornya.

"Ri?" tegur Agnar. Tangan Ari meraih ponselnya yang tergeletak di display kaca, di sisi ponsel Agnar.

"Ya?"

"Itu... Kebalik." Agnar menunjuk ponsel yang Ari pegang.

"Apa? Oh... Ini. Maaf." Reflek ia menyodorkan ponselnya pada Agnar.

"Itu punya kamu." Agnar membalik ponsel Ari hingga logonya berada dalam posisi yang benar.

Agnar cuma tersenyum kecil memperhatikan wajah Ari yang merona malu. Bahkan dalam keadaan melamun dan tidak fokus begini, Ari tetap terlihat lucu di matanya.

"Udah laper?" tanya Agnar lagi sesampainya mereka dalam mobil Agnar yang masih diparkir di basement. Ari tidak menjawab hingga beberapa lama. Asyik dengan ponselnya, entah sedang mengetik apa.

"Aku udah, nih. Makan siang, yuk?" ujarnya lagi.

"Ya? Aku belom pengen makan." Ia menatap Agnar sebentar lalu kembali ke ponselnya lagi.

"Minum sesuatu kalo gitu? Mau dicariin boba yang biasa?"

Ari menolaknya.

"Kamu bukannya harus balik ke Jakarta, ya? Sebentar lagi jam 8, loh. Besok pagi ada meeting, kan?"

Agnar menggeleng. "Meeting-nya baru aja di-cancel tadi."

"Kamu yang cancel?"

Agnar tergelak, "bukan lah. Papa kamu yang cancel. Nggak cancelled, sih. Postponed."

"Tumben."

"Itulah dia. Aku jadi merasa bersalah. Papa kamu tahu aku belum kasih kamu cincin. Dan, harusnya aku nggak bilang apa-apa soal schedule aku minggu ini."

"What a privilege." Ari mendengus.

"Kita manfaatin aja, sih mendingan. Aku suka lupa sisa kontrak aku cuma sampai awal tahun depan." Agnar terkekeh di akhir kalimatnya.

"Terus pulang ke Singapura lagi? Aku gimana?"

"Tunggu sebentar sampe aku resmi jadi partner Papa kamu. Di firma financial consultant kami sendiri nanti."

Ari melotot kaget, "yang bener??"

"Shouldn't you be happy, like, right now?"

"Well, Nar, I am beyond happy." Ari tertawa senang.

"So I'm gonna make the best out of this privilege. Tapi tolong rahasiain dulu, ya. Tahap preparation-nya masih panjang."

"Tetep aja kamu harus pulang cepet. Jangan sampe telat ngantor besok."

[END] Sunday MorningCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang