*Camhanaich: (n.) early morning twilight.
Malam itu adalah satu malam lagi yang Ari habiskan dengan berguling-guling di tempat tidurnya di apartemennya yang baru, mencari posisi yang paling nyaman untuk memejamkan mata setidaknya satu atau dua jam saja. Desember tiba, sudah hampir satu bulan sejak kematian ayahnya, Ari mulai merasa tenang dan terbiasa tapi masih belum bisa tidur dengan nyenyak dan makan dengan benar. Tak ada yang terasa enak lagi sepertinya di dunia ini, bahkan bergelas-gelas wine dan berkaleng-kaleng bir pun tidak sanggup melenyapkan entah apa yang mengganjal.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul 12 .15 tengah malam Ari meraih ponsel yang ia letakkan di bawah bantal, mencari-cari apa yang bisa ia lakukan agar bisa tidur atau sedikitnya merasa lebih lega. Dulu scrolling Instagram beberapa menit saja bisa jadi hiburan utama jika ia sedang tidak ada kerjaan. Sekarang melihat ponselnya sendiri saja ia bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan selain memandangi wallpaper-nya: foto wajahnya sendiri sedang menunggu shot glass penuh tetesan-tetesan espresso di depan mesin kopi di Sunday Morning. Agnar yang mengambilnya secara candid yang kemudian Ari minta setelah Agnar menunjukkannya. Di foto itu Ari tampak sangat... normal.
Dipanggilnya nomor Agnar tanpa pikir panjang. Mengakhiri apanya dengan Agnar? Ari mendengus, teringat kalimat ancaman itu pada ayahnya.
"Aku baru mau ngabarin," ujar Agnar, sebelum deringnya sampai ke dering ketiga. Suaranya masih segar.
"Belum tidur?"
"Lagi nggak bisa tidur. Had too much coffee today. You know, I don't have as high tolerance as you do." Agnar terkekeh. "Kamu?"
"I can't sleep."
"So, let's can't sleep together, then."
Kurang lebih dua puluh menit kemudian, secara mengejutkan, Agnar tiba di depan pintunya. Agnar bilang ia baru akan datang besok pagi. Jadi itu pertama kalinya Agnar berkunjung ke apartemen baru Ari dan pertama kalinya Ari melihat Agnar tanpa kemeja dan celana setelannya yang biasa. Ari tertawa, tawa pertamanya setelah berhari-hari, melihatnya di ambang pintu, mengenakan kaus oblong abu-abu, celana pendek, dan sandal jepit. Rambutnya dibiarkan tidak ditata dan tampak lucu dengan poni yang agak panjang. Ari berharap ia melihat pemandangan itu sejak lama.
"Kenapa? Jelek, ya? Dekil? Tapi aku mandi, kok." Agnar menyugar rambut yang jatuh di dahinya dengan canggung.
Ari menggeleng sambil masih menyisakan tawa kecil, "ganteng, kok, ganteng."
Agnar mengikutinya duduk di sofa sambil sibuk bertanya pada Ari sebelah mananya yang lucu. Ari menyalakan lampu dan beranjak ke kulkas, mencari sesuatu untuk disuguhkan.
"Is this really okay, calling you at this hour and just came straight away?" Tanya Agnar.
"What, it wasn't, like, booty call. I didn't call for that, ya, kalo-kalo kamu aware sama tanggapan tetangga aku."
Kini ganti Agnar yang terkekeh. "Booty call juga nggak apa-apa, sih. But you wouldn't want it. I know. Aku juga nggak... yah... since we don't do it anymore. Ari, please shut my mouth before I say something else."
"Stop being so charming. Now I feel like putting you back in my pocket." Ari tertawa kecil. "Minum berapa gelas kopi hari ini?" Mereka masuk ke dalam dan duduk bersisian di sofa.
"Hmmm," Agnar tampak menghitung, "enam?"
"Enam? Kamu beruntung lambung kamu masih sehat. You sure you got low tolerance of caffeine?"
KAMU SEDANG MEMBACA
[END] Sunday Morning
Romance3 sahabat sepakat untuk meninggalkan hidup yang kacau dan memulai rencana ternekat dalam hidup mereka: membuka kedai kopi. Ari, gadis populer berjiwa bebas, Evita, sang hopeless romantic, dan Dannisa, si domba hitam keluarga, berjuang membangun bis...
![[END] Sunday Morning](https://img.wattpad.com/cover/359763321-64-k166741.jpg)