happy reading😘
Laras melangkahkan kakinya lesu menuju rumah Nila, Sepertinya bicara dengan Nila mungkin bisa membuat bebannya sedikit berkurang.
Setelah pulang dari butik bersama Adrian mencari gaun yang cocok untuk acara nanti malam, Laras memutuskan kerumah nila untuk curhat kepada sahabatnya itu, karena jujur ia sangat kalut!otaknya berhenti berpikir, Membayangkan menikah saja tak pernah terlintas di kepalanya dan sekarang dirinya harus menjalani hal tersebut, dengan orang yang baru beberapa hari dikenalnya.
Laras memang pernah membayangkan menikah dengan Reno, mantannya!tapi membayangkan akan menikah dengan Adrian membuat kepalanya seketika pusing dan bagaimana ia akan menjelaskan kepada ayahnya dan juga ibunya.
Tiba-tiba akan menikah lalu setelah kontrak berakhir dirinya akan bercerai, Laras tak mau menjadi janda seperti kakaknya. "Aarrgghhh." Laras menggeram bahkan menjambak rambutnya sendiri saat sudah berada di depan pintu rumah Nila.
"Mulai gila ya lo!"pekik Nila sedikit khawatir dengan sahabatnya yang mulai menjambak-jambak rambutnya sendiri.
"Mau mati aja gue La hari ini, gue capek!" keluh Laras lalu memejamkan matanya.
Nila pun menyuruh Laras masuk terlebih dahulu, karena Nila sudah menikah dan ini masih jam kerja jadi ia sendirian dirumah karena Suaminya masih bekerja.
"Lo kenapa Ras?" tanya Nila.
Laras mengambil minum dulu lalu merebahkan diri di sofa ruang tengah. "Dafa mana?kok gak kelihatan?" bukan menjawab, Laras justru bertanya keberadaan anak Nila.
"Lagi di tempat neneknya! lo kenapa sih Ras? ditanya malah nanyak balik?" geram Nila karena Laras tak juga menjawab pertanyaannya.
"Gue di ajak nikah kontrak La sama pak Adrian yang uangnya gak bisa gue balikin gara-gara gue pake buat bayar utang bang Randa." jawab Laras sambil menatap kosong keatas.
"APA! lo yang bener Ras kalo ngomong." Nila memekik kaget mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya itu.
Laras pun mendudukkan dirinya lalu mulai menceritakan apa yang menimpanya hari ini, Nila adalah satu-satunya teman yang ia miliki. Walaupun sudah menikah Nila tetap tak pernah berubah bahkan suaminya juga baik kepadanya dan tak pernah memandang dirinya rendah seperti orang-orang.
Nila hanya melongo mendengar cerita Laras, bagaimana mungkin sahabatnya bisa mengalami kesulitan yang seperti ini, Nila paham akan pekerjaan Laras ia juga percaya kepada sahabatnya itu.
Walaupun lingkungan kerja Laras tidak pantas dimata orang-orang tapi Nila selalu berpikir positif akan hal ini. Nila juga selalu berkata. "Orang lain gak pantes menilai kita karena mereka tak menjalani apa yang kita rasa." itulah kalimat yang selalu Laras pegang sebagai penguat untuk dirinya.
Laras benar-benar tak tau harus bagaimana, bercerita dengan Nila mungkin tidak menyelesaikan masalah tapi setidaknya bebannya berkurang sedikit.
"Terus ini apa?" tunjuk Nila pada paper bag yang Laras bawa saat datang tadi.
"Itu pakaian dan juga beberapa perhiasan sama sepatu buat gue pake entar malam ketemu keluarga tu bapak."jawab Laras.
Nila menghela napasnya lelah ia tak pernah membayangkan sahabatnya ini akan bernasib seperti ini, menikah atas dasar saling mencintai saja sulit apalagi harus nikah kontrak tanpa dasar perasaan.
"Tu bapak emangnya tua ya?usianya berapa?"karena Laras terus berkata pak pada pria yang mengajaknya nikah kontrak, Nila berpikiran pria itu adalah tua bangka.
Laras pun mengambil ponselnya lalu menunjukkan foto Adrian.
"Waah!" Nila sedikit terkejut melihat wajah tampan Adrian. "Kalo ini sih gue gas Ras, lagian lo kenapa manggil pak mulu sih?gue jadi mikirnya tua bangka."
KAMU SEDANG MEMBACA
Gaun Milik LARAS
Roman d'amourFollow sebelum membaca😎 #dewasa Awalnya laras harus mencarikan wanita untuk adrian,pria 35 tahun yang diancam oleh sang nenek tidak akan medapatkan warisan dari almarhum ayahnya jika tidak menikah. Adrian pun meminta laras untuk mencarikan wanita...
