Sudah hampir seminggu Gio tidak menampakkan dirinya di sekolah dan tentu saja muncul berbagai pertanyaan dari sang guru dan mau tidak mau pun Gio menjawab pertanyaan tersebut dengan jujur.
Tidak hanya para guru yang bertanya namun Olin juga. Sejak pertama Gio masuk sekolah lagi anak itu terus mengekori Gio kemanapun kecuali di jam pelajaran.
Gio tidak merasa risih sama sekali justru dia senang bisa mendengar banyak cerita darinya karena hal itu sudah biasa mereka lakukan dulu.
Bahkan sekarang di kantin Gio hanya mendengar Olin yang sedang bercerita. Gio, Fito, dan Vernon dengan seksama mendengarkan dan sesekali merespon ceritanya. Meskipun terjadi perdebatan kecil tiap kali Fito mengejek cerita Olin.
Mata Gio teralihkan begitu melihat Alfa yang melewati mejanya begitu saja.
Sebenarnya Gio ingin menahannya dan mengajak adiknya itu makan bersama di sini namun urung mengingat apa yang baru saja kemarin terjadi, dirinya masih merasa bersalah.
Jadilah Gio hanya memperhatikan adiknya itu dari jauh.
"Samperin aja Yo, daripada diliatin sampe segitunya." Ucap Vernon.
Gio langsung menolehkan kepalanya menghadap Vernon lalu menautkan alisnya bingung. "Kalo diliatin doang mah mana bisa baikan, emang kalian bisa telepati?" Lanjur Vernon.
Gio menghela nafasnya pasrah, "ga dulu bang, Alfa serem kalo lagi marah soalnya." Ucapnya.
"Mau aku yang bilangin ke Alfanya kak?" Tanya Olin yang sedaritadi juga memperhatikan Gio. Gio tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "gausah Lin biar gua aja."
Olin pun mengangguk lalu lanjut menyantap maknannya yang ada dihadapannya.
"Nara di perpustakaan kan Lin?" Tanya Gio.
Baru saja ingin menyuapi bakso kemulutnya namun dijeda sejenak karena pertanyaan Gio, "iya kak, biasa lah anak ambis sehari ga ke perpustakaan kayanya meriang dia."
Gio tertawa akan jawaba Olin, ya hal itu tidak salah. Bahkan semasa pacara dulu Gio dan Nara lebih sering menghabiskan waktu di perpustakaan dibanding tempat lainnya.
Sulit sekali untuk mengajak Nara ke tempat lain karena katanya hal itu hanya membuang-buang waktunya dan tidak bermanfaat sama sekali.
Namun hal tersebut tidak membuatnya bosan berpacaran dengan gadis itu.
"Dasar Nara si kutu buku, ko bisa si lu ga bosen pacaran sama nak ambis itu dulu." Ucap Fito.
"Sebarangan ngatain Nara kutu buku." Geram Gio sambil menjitak kening Fito.
Fito pun meringis kesakitan karena jitakan Gio tidak main-main, "anjir lah sakit woy." Kesal Fito. Tanpa rasa bersalah bukanya minta maaf Gio hanya terkekeh dan tentu saja Fito tidak berniat membalas jitakan itu bisa-bisa bukan jitakan lagi yang dia dapetin tapi bogeman dari sahabatnya itu.
.
.
.
Setelah bel pulang sekolah tadi Alfa langsung saja pulang ke rumah. Sepanjang perjalanan dia terus saja teringat kakaknya yang entah mengapa hari ini sikapnya berbeda.
Yang biasanya Gio akan menghampirinya sekedar mengajaknya makan siang bersama atau menyapanya namun kakaknya itu hanya diam saja, bahkan saat Alfa dengan sengaja lewat di depan Gio, kakaknya itu hanya diam saja.
Apa kakaknya marah? Tapi bukankah seharusnya dia yang marah? Kemarin Gio lah yang menyinggung perasaannya tapi sekarang malah Gio yang mendiaminya.
Alfa jadi teringat perkataan kakaknya pada kedua orangtuanya. Apakah selama ini Gio merasa kalau sikap Dafa dan Alya pilih kasih padanya? Tidak disangka kakaknya berfikir sejauh itu.
Tidak lama kemudian Alfa pun tiba di pekarangan rumahnya, langsung saja dia memasukkan motornya ke garasi dan masuk ke rumah.
Saat melewati ruang makan Alfa melihat mamahnya yang sedang asik membuat kue bersama bi Ratih. Alfa pun menghampiri mereka dan mengulurkan tangannya untuk memberi salam.
"Sore mah, lagi bikin apa?" Tanya Alfa yang duduk di island bar dapurnya tangannya mengambil sepotong mangga yang memang sudah di potong-pitong dan siap santap.
"Sore sayang, ini mamah lagi bikin kue buat arisan nanti." Jawab Alya.
Akhir-akhir ini Alya memang lebih sering di rumah karena belum ada project weding yang di handle belakangan ini.
Alfa mengangguk lalu hendak beranjak dari stool bar setelah menghabiskan semangkuk buah mangga, "aku naik dulu ya mah mau ganti baju." Ucapnya.
Alya pun mengangguk lalu melanjutkan kegiatan memasaknya.
"Den Alfa beruntung ya nyonya, punya keluarga yang selalu nge dukung dia gimanapu keadaannya." Ucap Bi Rati memperhatikan punggung Alfa yang perlahan menghilang dibalik tembok.
Senyum manis Alya pun merekah tentu saja karena Alfa adalah anak bungsunya yang sangat ia sayangi begitu juga dengan Jeno dan Gio.
"Kalau liat den Alfa saya jadi keinget anak saya yang baru aja meninggal." Lanjut bi Ratih sambil mengusap sudut matanya yang mengeluarkan cairan bening.
"Yang sabar ya bi, semoga anak bibi tenang disana." Ucap Alya.
"Iya nyonya saya harap juga begitu, saya sedikit menyesal karena kurang memberi perhatian ke anak saya."
Entah mengapa hati Alya juga ikut merasa sedih mendengarnya tiba-tiba saja dia teringat akan perkataan Gio semalam.
Apa itu yang selama ini anaknya rasakan? Dirinya pilih kasih dan belum menjadi orang tua yang baik untuk Gio? Tapi selama ini Alya merasa kalau yang di lakukan tidak ada salahnya, saat itu Alfa sedang sakit jadi tentu saja perhatiannya ia tumpahkan pada Alfa dan seharusnya Gio paham akan hal itu lalu apa yang membuat Gio merasa dibedakan?
"Saya terlalu sibuk kerja tau-tau dapet kabar dari kampung kalau anak saya meninggal, rasanya duhh hancur hati saya." Kata bi Ratih memecahkan lamuna Alya.
Tangan Alya langsung mengusap pundak bi Ratih yang sedikit bergetar karena menangis. Akhir-akhir ini art nya itu memang suka menangis teringat anaknya yang baru saja meninggal.
"Duh maaf nyonya lagi-lagi saya nangis gini."
"Gapapa bi, saya paham. Pas Alfa sakit juga saya merasa sedih sepanjang hari." Ucap Alya.
"Anak bibi sudah tenang disana jadi dia ga ngerasain sakit lagi." Ucap Alya menenangkan bi Ratih sama seperti saat Gio menenangkannya dulu.
Saat itu biasanya disaat Alya sedih karena kondiisi Alfa yang sering kali menurun, selalu ada Gio yang mengatakan kalau Alfa itu anak yang kuat jadi Alfa bisa melawan penyakitnya. Benar, kini Alfa bahkan sudah sehat. Bagaimanapun sekarang Alya jadi merasa bersalah pada Gio.
"Bi gimana kalau kita bikin bika ambon juga, Gio suka kue itu soalnya." Tiba-tiba saja Alya mengingat kalau anaknya itu menyukai kue tersebut dan ingin membuatkannya.
Bi Ratih pun mengangguk dan mulai menyiapkan apa yang diminta oleh Alya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Cuts
Genç KurguBagaimana bisa dalam beberapa waktu dia mendapatkan tatapan kebencian dari semua orang? Dari kedua orang tuanya, adiknya, kekasihnya bahkan temannya "Dari mana aja kamu? Baru sekarang muncul? Kamu ga mikirin kondisi adek kamu hah? Dia lagi berjuang...
