43. Sama-Sama Keras Kepala

826 80 9
                                        

Setelah Jeno pergi tidak lama kemudian Vernon dan Fito pun datang ke Apartemen untuk menemani Gio. Tidak lupa dengan beberapa menu hidangan masakan Hera yang mereka bawa seklian untuk makan malam mereka.

Kini Fito sedang sibuk menata makanan di dapur karena Hera menitipkan semua makanannya pada Fito agar hidangannya disajikan sebaik mungkin kepada Gio. Tentu saja tanpa keberatan Fito pun menuruti perintah mamahnya.

Meskipun semua makanannya sudah matang dan siap di sajikan Fito masih harus mengecek dan memastikan makanan mana yang boleh dan tidak boleh dimakan Gio.

Sedangkan Vernon dan Gio bermain game console di ruang tamu dengan hebohnya. Sebelumnya Bernon dan Gio mencoba untuk membantunya namun bukannya pekerjaannya cepat selesai mereka malah mengacaukannya jadilah Fito meminta mereka jauh-jauh dari dapur.

"Itu serang final boss—nya dulu sambil ambilin peti-peti biru itu, siapa tau dapet hp (heal point) tambahan." Ucap Gio, matanya fokus menuju ke layar televisi lebar di hadapannya dengan tubuhnya berbaring lurus diatas sofa.

Berbeda dari Gio, Vernon justru anteng duduk di bawah dengan kaki yang bersila dan menjadikan bantal sebagai tumpuan sikunya.

"Susah Yo, damage—nya sakit banget."

Vernon terus menekan tombol-tombol di console itu tanpa henti untuk meraih kemenangan.

"Duh anjir, lincah banget bos nya." Celetuk Gio sambil meletakkan console—nya diatas meja saat game yang mereka mainkan berakhir dengan kekalahan.

"Ya lu abisan pake hero yg  punya damage geli-geli. Mau main lagi ga?" Tanya Vernon.

Gio menggelengkan kepalanya kemudian melentangkan badanya menghadap langit-langit dengan lengan yang menutupi begaian wajahnya, "ga deh udah pusing pala gua." Ucap Gio.

Vernon mengangguk paham, "Masih lama siapin makannya?" Tanya Vernon kepada Fito.

Fito pun menghentikan kegiatannya sebentar dan langsung menoleh kearah sumber suara, "bentar lagi tinggal di angetin." Ucapnya.

"Nih lo bantuin gua bawain ini dulu ie meja situ." Titah Fito memajukan bibirnya untuk menunjuk ke arah meja dekat Vernon sambil mengangkat panci ricecooker yang tentunya berisi nasi.

Dengan segera Vernon menghampiri Fito dan membantunya untuk menyajikan makanan di meja depan televisi.

Tidak lama kemudian setelah semua hidangan siap dan tertata rapih di atas meja mereka pun mulai menyantap makanan mereka.

Setelah selesai menghabiskan makanannya Gio pun kembali ke kamarnya karena sepertinya tubuhnya sudah mulai memberontak dan sebaiknya dia segera meminum obatnya kemudian mengistirahatkan tubuhnya.

Vernon menatap layar ponselnya dan ada sebuah pesan dari Jeno yang mengatakan kalau dia kemungkinan tidak pulang malam ini karena bermalam di rumah.

"Abang lu ga pulang katanya. Kita nginep ya disini nemenin lu. Gua sama Fito tidur di ruang tamu kalau butuh apa-apa panggil kita aja." Ucap Bernon menyampaikan pesan Jeno.

Gio pun mengangguk kemudian membalut tubuhnya dengan selimut tebalnya dan siap untuk tertidur.

.
.
.
Setelah satu jam setengah lamanya perjalanan akhirnya Jeno pun tiba di rumahnya, setelah memasukan dan memarkirkan motornya dia langsung saja masuk tidak lupa menyapa beberapa pekerja di rumahnya.

Jeno menatap jarum jam pada jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan malam, agak telat tapi dia harap masih sempat untuknya bergabung untuk makan malam bersama keluarganya.

Paper CutsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang