Matahari pagi menyambut dengan sinarnya. Meskipun terik sinar matahari di luar sana, suasana pagi tetaplah dingin di kota ini.
Seorang pemuda melenguh dalam tidurnya merasa terusik dalam tidurnya. Baru saja dia berhasil tidur tiga jam yang lalu namun tidak terasa waktu berlalu begitu cepat.
"Sayang bangun, udah jam berapa ini." Ucap wanita cantik yang tidak lain adalah Alya.
Alya menghampiri anaknya itu karena sedari tadi namanya dipanggil namun tetap tidak ada sautan dan akhirnya Alya memutuskan untuk naik ke atas.
"Kamu itu, kenapa begadang terus si Fa. Ga baik tau, liat ni sekarang jam segini masih tidur padahal masuk sekolah."
"Hmmm." Alfa hanya berdehem. Nyawanya belum cukup terkumpul untuk merespon perkataan Alya.
"Kalo kamu kaya gini terus lama-lama mamah bilangin papah, biar tau rasa diomelin." Tidak menyerah, kini Alya menarik selimut yang menutupi tubuh Alfa.
"Mamah...aku masih ngantuk, 5 menit lagi ajaa."
"Ga ada lima menit lima menit, kamu udah telat gini. Abang kamu udah nungguin tuh di bawah mau anter kamu. Lagian kamu ngapain begadang si? Jangan bilang gara-gara Gio lagi?"
Alya kini melembutkan suaranya ada Alfa, mencoba memberikan pemahaman pada anak bungsunya.
"Alfa sayang, denger mamah. Mamah tau kamu jadi susah tidur tiap harinya karena Gio, tapi kamu juga harus mikirn diri kamu sendiri. Bergadang itu ga baik juga buat tubuh kamu."
"Tapi A Gio..."
"Sssst udah, jangan bahas itu lagi udah jam berapa ini Alfa ya ampun, susah banget nyuruh kamu bagun pagi doang buat sekolah tiap harinya. Mamah gamau tau, mamah selesai masak kamu harus udah ada di bawah."
Alya kemudian beranjak meninggalkan kamar Alfa dan entah mengapa kakinya malah melangkah menuju kamar anak tengahnya itu, Gio.
Selalu ada dorongan tiap hari untuknya mengecek keadaan kamar anak tengahnya itu.
Alya menghela nafas menatap kamar kosong tersebut, kamar itu selalu rapi ketika dia memasukinya. Sangat mencerminkan Gio yang tidak suka berantakan. Aroma khas dari kamar itu bahkan tercium candu. Aroma yang tidak akan hilang.
Setelah mengecek Alya langsung saja turun, melanjutkan aktivitasnya di dapur.
.
"Selamat pagi semuanya." Ucapan selamat pagi dari Alfa yang baru saja turun dari tangga. Entah sejak kapan Alfa mulai menyapa orang-orang di pagi hari.
Tentunya sapaan Alfa disambut dengan hangat oleh semua orang yang kini ada di meja makan.
"Abang, beneran bakal anter aku ke sekolah kan?" Tanya Alfa begitu duduk di kursi makan samping Jeno.
"Iya aman."
"Makasih bang, mobil aku lagi di bengkel soalnya. Sempet bingung mau berangkat naik apa soalnya papah lagi keluar kota." Ucap Alfa.
"Ya makanya abang pulang, semalem kan kan kamu bilang motor kamu rusak."
Tidak lagi seperti dulu, kini Alfa lebih berani berbicara dengan Jeno. Tidak ada lagi kecanggungan diantara mereka.
"Heran, gua ada disini fungsi gua apa ya. Kan gua juga bisa anter lu." Kini Gio angkat suara sejak tadi dia hanya fokus pada makanannya.
"Mata lo anter gue! Naik motor aja lo ga dibolehin sama papah. Yang ada gue kan yang jadi supir lo A."
Gio terkekeh, "mah tuh mah, Alfa ngomongnya lo gue sama kakaknya."
"Adek, jangan gitu sama AA kamu, harus lebih sopan." Titah Alya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Cuts
Ficção AdolescenteBagaimana bisa dalam beberapa waktu dia mendapatkan tatapan kebencian dari semua orang? Dari kedua orang tuanya, adiknya, kekasihnya bahkan temannya "Dari mana aja kamu? Baru sekarang muncul? Kamu ga mikirin kondisi adek kamu hah? Dia lagi berjuang...
