Hari esok pun tiba, cuaca cerah dengan matahari yang memberikan kehangatannya. Angin pun berhembus tenang menyapu dedaunan gugur di jalan. Hari ini adalah hari yang cocok untuk beraktivitas di luar.
Pagi tadi Jeno dan Alfa telah menyelesaikan aktivitas mereka di luar rumah dengan berolahraga bersama mengelilingi komplek rumahnya dan tentu saja Alya dan Dafa ikut juga namun mereka sempat berpisah di tengah jalan.
Kini mereka sudah kembali ke rumah dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Setelah membersihkan dirinya, Alfa kini hanya sedang bersantai di sofa sambil menonton acara televisi kesukaannya.
Begitupun dengan Jeno yang baru saja keluar kamarnya kini sudah mandi dan rapih siap untuk pergi ke luar. Kemudian Alfa melihat Jeno yang akan menuju keluar rumah pun mengikuti kakaknya itu.
"Lo mau ke Jakarta bang?" Tanya Alfa yang berdiri diambang pintu memperhatikan Jeno dari sana.
Jeno berdehem singkat, dirinya masih sibuk mengecek apa saja yang perlu dibawa.
"Kabarnya A Gio gimana bang, sehat kan?" Tanya Alfa yang sedari pagi tadi sebenernya ingin menanyakan itu namun karena ragu ia mengurungkan pertanyaan tersebut.
Jeno tersenyum singkat lalu menghentikan kegiatannya mengalihkan perhatiannya pada Alfa.
"Kamu penasaran?" Tanya Jeno.
Tangannya terangkat menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Alfa hanya mengangguk sebagai jawaban, entah mengapa dirinya sedikit gugup.
"Ikut aja yu ke Jakarta."
"Boleh?" Ragu Alfa, meyakinkan bahwa Jeno benar-benar akan mengajaknya.
"Ya boleh lah, lagian kan sekarang sabtu dan lu libur sekolah kan, tapi izin dulu sama mamah papah."
Kepala Alfa mengangguk semangat, "oke, tungguin ya bang gua siap-siap dulu terus izin sama mamah papah." Kemudian dia berlari ke dalam rumah.
Jeno hanya tersenyum melihat tingkah adiknya itu, padahal tadi saat olahraga bersama mereka tidak banyak mengobrol dan suasananya sedikit canggung seperti olahraga bersama orang asing.
Karena suasana yang canggung itu dirinya hanya melemparkan pertanyaan-pertanyaan tidak penting pada adiknya. Alfa juga tidak banyak bicara dengannya, dia hanya menjawab pertanyaan yang Jeno tanyakan.
.
.
Setelah di beri izin oleh Dafa dan Alya, Afla pun akhirnya ikut bersama Jeno ke Jakarta.
Yang awalnya datang menggunakan motor kini Jeno pulang menggunakan mobil, namun bukan Jeno yang menyetir melainkan supir Dafa. Karena area parkir apartemen terbatas dan mobil Jeno sudah terparkir disana jadi dia sekarang sekedar diantar oleh supir ayahnya, mobil yang digunakan pun juga milik ayahnya.
karena ternyata banyak yang perlu dia bawa jadi dia harus menaiki mobil apalagi ternyata Alfa juga ikut dengannya.
Alya sudah menyiapkan banyak makanan untuk Gio karena sebelumnya dia berjanji akan membekalkan masakannya kalau Gio tidak datang ke rumah.
Kini Jeno dan Alfa sedang dalam perjalanan menuju Apartemen, mereka sudah sampai di pinggiran kota Jakarta.
Jalanan sedikit macet karena ini adalah akhir pekan yang dimana sebagian orang akan menghabiskan waktu liburnya untuk jalan-jalan bersama keluarga, teman ataupun pasangan dengan Jakarta sebagai tujuan mereka.
Kalau di hari kerja kota Jakarta akan macet karena di penuhi orang-orang yang akan berangkat kerja, maka di akhir perkan kota Jakarta ini justru akan kedatangan orang-orang yang sekedar ingin berlibur di ibu kota tersebut.
Alfa memperhatikan setiap bangunan pencakar langit yang menghiasi kota tersebut, bisa dibilang dia sangat jarang pergi ke kota Jakarta.
Dia sedikit kagum dengan tatanan kota Jakarta. Berbeda dengan kota Bogor, sama-sama memiliki gedung tinggi namun tidak setinggi dan sebanyak yang ada di jakarta. Jarak antara gedung tersebut pun jauh-jauh tidak seperti kota Jakarta yang berdekatan membuatnya terlihat lebih menarik.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Cuts
Novela JuvenilBagaimana bisa dalam beberapa waktu dia mendapatkan tatapan kebencian dari semua orang? Dari kedua orang tuanya, adiknya, kekasihnya bahkan temannya "Dari mana aja kamu? Baru sekarang muncul? Kamu ga mikirin kondisi adek kamu hah? Dia lagi berjuang...
