46. Fakta Yang Mengejutkan

1.2K 89 8
                                        

Dafa yang baru saja pulang dari kantornya langsung saja naik ke lantai atas rumahnya menuju kamar Alfa. Pagi tadi saat Alfa baru saja pulang setelah menginap di apartemen kakaknya dia berpapapasan dengan anaknya di ruang keluarga dan Alfa ingin mengajaknya berbicara namun saat itu dia sedang terburu-buru.

Entah hal apa yang ingin anaknya bicarakan itu namun sepertinya hal tersebut adalah hal serius karena dia melihat wajah anaknya juga sangat serius. Saat itu dia tidak bisa menanggapi Alfa karena ada pekerjaan yang penting yang harus dia lakukan di kantornya.

Kemudian dia berjanji akan mendengarkan anaknya setelah pekerjaannya selesai namun ternyata kerjaannya itu cukup memakan waktu dan baru selesai malam.

Saat ini Dafa sudah berada tepan di depan kamar Alfa. Dia kemudian mengetuk pintu kamar anaknya itu namun tidak ada jawaban dari dalam kamar. Untuk beberapa saat dia menunggu dan mengetuk kembali dan tetap tidak ada jawaban dari dalam.

Dafa memutuskan untuk masuk saja tanpa menunggu lebih lama lagi. Dia liat sekeliling kamar namun sang pemilik ruangan tersebut ternyata tidak ada di dalamnya.

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan sudah seharusnya ini jamnya tidur namun kemana perginya anak bungsunya itu.

Dafa mencari Alfa di tiap ruangan yang ada di rumahnya namun nihil bahkan dia sudah bertanya kepada Alya dan istrinya itu menjawab kalau sore tadi Alfa mengirim pesan pada  dirinya dan bilang kalau akan menginap di rumah Vernon karena ada tugas yang harus di kerjakan dan butuh bantuan kakak sepupunya itu.

Dafa menghela nafasnya panjang karena merasa lega, setidaknya anak itu tidak pergi bermain-main tidak jelas di malam hari.

Kemudian dia memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya saja untuk menyimpan berkas-berkas yang sedaritadi dia bawa dari kantornya. Belum sempat di simpan karena dia ingin bertemu Alfa secepatnya.

Dilangkahkan kakinya ke dalam ruang kerjanya yang di dominasi dengan warna coklat tua dan memiliki aroma berkayu. Kemudian dia simpan berkas yang dia bawa itu diatas meja kerjanya.

Dafa kemudian duduk diatas sofa untuk merehatkan tubuhnya sesaat.

Perhatiannya teralihkan pada sebuah amplop coklat yang beberapa hari lalu satpam rumahnya berikan. Sampai saat ini Dafa belum juga membuka amplop coklat tersebut karena katanya Gama lah yang memberikan itu bahkan awalnya dia ingin langsung membuangnya tapi sekarang dia merasa penasaran.

Tercetak logo rumah sakit yang dimiliki ayahnya di bagian bawah amplop tersebut.

Dafa terkekeh, untuk apa ayahnya itu memberikan amplop ini. Apa mungkin isi dari amplop ini adalah hasil tes kesehatan Gama, agar ayahnya mendapatkan simpatinya untuk meminta maaf?

Atau mungkin ada masalah dengan rumah sakitnya dan meminta bantuannya? Entahlah dia hanya bisa tau setelah membukanya.

Dafa mengeluarkan lembaran-lembaran kertas dari dalam amplop tersebut lengkap dengan hasil ct scan dan dia memperhatikan dengan seksama hasil ct scan tersebut.

Bukan hal yang sulit baginya untuk menebak apa yang di tampilkan pada hasil ronsen itu karena dulunya dia juga lulusan kedokteran di universitas terbaik di dunia apalagi dia lulus sebagai salah satu mahasiswa tebaik disana.

Dafa mengerutkan keningnya, kondisinya cukup memprihatinkan. Sel dari kanker sepertinya sudah menyebar di beberapa area pada paru-paru yang dia lihat dari hasil ronsen tersebut. Apa ayahnya menderita penyakit itu?

Ia pun kemudian mulai membaca detailnya dari lembaran-lebaran kertas yang di tangannya hingga pada saat dia membaca nama anaknya Giovino Dafalian, tertulis jelas sebagai pasien. Matanya membulat sempurna dengan jantungnya yang berdebar kencang.

Paper CutsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang