Kini Nara sedang sibuk berkutat di dapur, membantu sang nenek melakukan aktivitas rutin di tiap paginya yaitu memasak untuk sarapan dan bekal sekolah Nara dan Olin nantinya.
Seperti biasa Nara akan membantu neneknya untuk menyiangi sayur-sayuran yang akan di masak nantinya dan kemudian memotong sayur tersebut.
"Olin masih sare neng?" Tanya sang nenek.
(Olin masih tidur negng?)
"Heeuh nek. Si Olin mah teu tiasa hudang isuk-isuk kieu" jawab Nara.
(Iya nek, si Olin mah ga biasa bangun pagi-pagi gini)
"Ulah poho nya neng nanti si Olin hudangkeun. Besi kasiangan." (Jangan lupa ya neng si olin bangunin. Takuk kesiangan) Nara mengangguk sebagai jawaban. Dia sedang fokus dengan kegiatannya yaitu menata bekal yang akan dia berikan untuk seseorang sebagai ucapan trimakasihnya yang tidak lain adalah kepada Ino.
Nara berdiri sambil berkacak pinggang, memastikan bekal yang dia tata sudah pas kemudian senyumnya mereka ketika melihat hasilnya yang memuaskan. Dia harap Ino menyukai bekal darinya.
Meskipun makanan yang Nara buat sangat sederhana yaitu telur dadar dengan soup cream wortel tetapi yang penting adalah ketulusannya saat membuat. Sebenarnya Nara tidak begitu pandai memasak biasanya kalau di dapur neneknya hanya menyuruhnya memotong-motong sayuran saja.
Tetapi Nara yakin masakannya kini enak karena dari penampilannya saja sudah sangat menggugah seleranya.
Tidak hanya untuk Ino, Nara juga menyiapkan bekal untuk dirinya sendiri dan juga Olin. Setelah itu Nara merapihkan semua kotak bekal itu ke dalam tas lalu mulai menyiapkan makanan untuk sarapan sebelum membangunkan adiknya yang masih terlelap di kamar.
.
.
.
Sepertinya cuaca di pagi hari ini sangat mendukung mood baik setiap orang. Hari yang cerah namun tanpa terik matahari yang membuat hawa panas, justru rasa adem lebih mendominasi.
Angin bertiup dengan pelan, dengan dedaunan yang berjatuhan satu demi satu dan berserakan di jalan. Para pekerja menyapu jalan meminggirkan dedaunan yang berserakan itu sambil membalas satu per satu murid-murid yang menyapa ketika melewatinya.
Lingkungan sekitar sekolah ini memang dikelilingi oleh pohon yang rindang membuat suasana sekolah menjadi teduh dan nyaman. Bahkan sepanjang trotoar di tanamkan pepohonan kecil membuat area hijau mendominasi sepanjang jalan.
Meskipun dibilang sekolah ber gengsi, SMA Adiwijaya memberlakukan peraturan yang di mana siswa yang belum berada di tingkat akhir tidak diperkenankan membawa kendaraan pribadi.
Jadi mau tidak mau banyak dari mereka yang memutuskan untuk naik bus untuk berangkat sekolah.
Seperti menyatu dengan para adik kelas, Gio pun ikut menaiki bus sekolah. sebenarnya dia sudah bisa menggunakan motornya karena tadi pagi papahnya menyimpan kunci motornya di dekatnya meskipun papahnya itu tidak mengatakan apapun saat meletakkannya.
Alasan Gio tidak menggunakan motor yaitu karena dia ingin bertemu dengan Nara. Meskipun tidak dapat berinteraksi secara langsung cukup melihat Nara saja Gio sudah senang.
Hubungan mereka memang sudah lama berakhir namun hati Gio tetaplah sama. Dia masih sangat menyukai Nara bahkan perasaannya tidak pernah berubah sama sekali semenjak mereka putus.
Tidak terasa ternyata bus sudah berhenti di depan sekolahnya. Para siswa bergerombol turun dari bus, pun dengan Gio.
Gio melangkahkan kakinya dengan cepat agar bisa mengekori langkah Nara di belakangnya. Namun tiba-tiba saja dia kehilangan keseimbangannya dan tanpa sengaja tubuhnya tersungkur ke depan menabrak punggung Nara.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Cuts
RomanceBagaimana bisa dalam beberapa waktu dia mendapatkan tatapan kebencian dari semua orang? Dari kedua orang tuanya, adiknya, kekasihnya bahkan temannya "Dari mana aja kamu? Baru sekarang muncul? Kamu ga mikirin kondisi adek kamu hah? Dia lagi berjuang...
