Bukan pasar, tapi inilah ruang rawat Gio yang dipenuhi anak-anak Rather. Untung saja ruang rawat Gio ini VIP jadi hanya ada satu pasien dalam ruangan dan ruangannya sedikit kedap suara.
Namun tetap saja, saking ramainya bahkan sampai beberapa kali perawat masuk untuk menegur mereka.
Setelah mereka tau kebenarannya dari Fito dan mengetauhui keadaan Gio sekarang, mereka langsung saja datang untuk menemui Gio dan ingin meminta maaf secara langsung. Dan setelah berdamai mereka kembali bercerita dan bergurau seperti dulu.
Kini Gio merasa senang karena bisa kembali dengan teman-temannya. Sejujurnya dia tidak memiliki teman selain mereka meskipun dirinya dikenal ramah dan mudah bergaul namun sayangnya dia tidak bisa mengakrabkan disi dan selama beberapa bulan terakhir dirinya selalu sendirian di sekolah.
Mengingatnya saja sudah membuatnya prihatin pada dirinya sendiri.
"Bro kita balik dulu ya, maaf ga bisa nemenin lu pengobatan nanti." Ucap Daffin salah satu anggota inti Rather.
"Iya Yo, sorry banget. Kita udah ada janji temu sama geng lain soalnya." Kini Cale yang bersuara.
Gio tersenyum menatap mereka semua dan mengangguk, "santai aja, lagian juga kalian udah lama nemenin gua dari tadi. Makasih ya." Ucapnya.
Mereka pun akhirnya pergi meninggalkan Gio, kecuali Vernon yang izin tidak ikut untuk menemani Gio.
"Kalo butuh apa-apa telpon gua ya Yo, jangan sungkan." Ujar Fito kemudian menutup pintu ruang rawat Gio.
Dan kini hanya tersisa Vernon dan Gio saja di dalam ruangan.
Gio menatap kosong langit-langit ruangan. Mengingat nanti sore adalah kemoterapi pertamanya. Arta sudah menjadwalkannya kemoterapi padanya setelah melakukan sekian cek kesehatan dan kini Gio sedang berada di kondisi stabil dan bisa langsung melakukan pengobatan yang di sarankan, kemoterapi.
Sebenernya Gio sudah pernah melakukan pengobatan ini namun tetap saja dirinya tetap merasa gugup.
Tak ayal dirinya juga merasa senang sekarang karena berbeda dari saat itu yang dimana dia melalui itu semua sendiri dan hanya ada Jeno di sampingnya itu pun terkadang Jeno tidak dapat menemaninya karena sibuk kerja jadi dia tidak bisa selalu menemaninya.
Tapi sekarang ada keluarga dan teman-temannya yang selalu menemaninya dan tidak akan membiarkannya kesespian barang semenit pun.
Meskipun ada sedikit rasa bersalah karena merepotkan banyak orang tetapi Gio juga senang mendapatkan perhatian lebih dari mereka semua.
Dirinya jadi berfikir gimana kalau kedua orang tuanya juga ada di sampingnya dan memberinya semangat agar cepat sembuh, itu adalah hal yang sangat diharapkannya namun sepertinya mustahil.
Gio tidak ingin membuka luka masalalu kedua orang tuanya lagi dan merepotkan mereka juga.
"Jangan bengong nanti kerasupan." Celetuk Vernon yang sedaritadi memperhatikan Gio menatap kosong langit-langit.
Pikiran Gio pun buyar seketika dan langsung mengalihkan tatapannya kearah sepupunya itu yang sedang duduk manis di sofa.
"Loh lu ko masi disini? Gua kira lu pergi ikut mereka" Tanya Gio heran, dia kira sekarang hanya ada dirinya seorang di dalam ruangan.
"Mikirin apa si lo Yo, sampe ga nyadar gua ada disini."
Tidak menjawab Gio hanya terkekeh pelan sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal dengan jari telunjuknya.
"Nih minum biar fokus, kata kakek lu juga harus banyak-banyak minum." Vernon menyodorkan segelas air mineral pada Gio dan Gio pun langsung meminumnya hingga tandas.
"Tangan lo ga ada bengkak atau sakit kan?" Tanya Vernon memperhatikan lengan kori Gio yang terpasang Kateter.
Gio pun ikut memperhatikan lengannya. Terdapat suatu alat yang dipasangkan pada lengannya sebelumnya berbentuk tabung kecil dengan selang yang menggelantung di tangannya.
Dia sendiri tidak tau apa itu dokter bilang kalau itu semacam kateter untuk mempermudah memasukkan obat-obatan nantinya.
"Ga ko, cuman aga kurang nyaman aja kaya ada yang nge gelantung-gelantung di tangan."
Gio mengangkat tangannya dan sedikit menggoyangkannya menunjukkan kateter yang menempel di tangannya.
"Dih malah di goyang-goyangin gitu, ngilu tau!" Vernon merasa ngilu melihatnya membayangkan tangan Gio yang di lubangi dan dipasangkan selang ke dalam tubuhnya yang menembus pembulu darahnya.
Gio tertawa puas melihat reaksi Vernon, "gimaan si lu, katanya mau jadi dokter tapi baru liat gini aja udah ngilu." Ledeknya.
"Tau dari mana lu gua mau jadi dokter."
"Gua liat buku-buku lu di kamar semuanya tentang kedokteran loh." Ucap Gio.
Vernon mengangguk, benar dia akan mendaftar kuliah kedokteran nantinya namun itu bukan sepenuhnya keinginannya. Fajar menuntutnya untuk menjadi dokter mau tidak mau dia harus memenuhi keinginan ayahnya itu.
"Yah, papah berharap gua jadi dokter soalnya jadi sebagai anak yang berbakti gua bakal memenuhi harapan papah gua." Ucap Vernon sambil tersenyum tipis.
"Semoga lu sukses ya bang, jadi dokter beneran biar nanti kalau gua atau yang lain sakit biar lu aja yang ngobatin."
"Lumayan dapet diskon harga kerabat, kalo bisa mah gratis." Ledek Gio.
"Buat lu mah anti diskon sori."
"Dih najis pelit banget sama ade sendiri."
"Bukan pelit, bisnis ini bro."
Mereka pun saling ledek-ledekan satu sama lain hingga waktu berlalu tanpa ada yang mau mengalah.
.
.
.
Waktunya kini tiba, dimana Gio sekarang sedang menjalani pengobatannya di temani Gama yang duduk tenang di sofa dalam ruangan.
Kali ini bukan Arta yang menangani Gio, melainkan dokter khusus lain yang ahli dalam bidang tersebut. Bahkan dokter tersebut Gama sendiri yang memilihkan dan dia menunjuk dokter terbaik yang ada di rumah sakitnya ini.
Gama memperhatikan setiap gerakan dokter yang sedang memberikan obat kemoterapi tersebut.
Obat tersebut disalurkan melalui selang Peripherally Inserted Central Catheter atau PICC yang terpasang pada bagian dalam vena selama beberapa waktu, biasanya beberapa minggu hingga bulan. Sementara selangnya dihubungkan pada sebuah pompa yang berfungsi untuk mengatur dosis obat dan seberapa cepat obat tersebut disalurkan.
Selain itu, pemberian obat kemoterapi juga bisa disalurkan melalui selang yang dimasukkan dalam dada dan dihubungkan dengan pembuluh vena yang dekat dengan organ jantung. Bisa juga melalui selang cannula yang dipasang selama beberapa waktu dalam vena pada punggung tangan atau bagian bawah lengan.
(Sumber google:hallodoc)
Sepanjang waktu Gama terus berdoa agar cucuknya diberi kesehatan dan dapat menjalankan hari-harinya dengan normal seperti biasanya. Dirinya sangat sedih ketika melihat Gio yang beberapa hari lalu terbaring lemah di ranjang pesakitan.
Setelah membujuk dan meyakinkan Gio untuk melakukan pengobatan, hatinya mulai terasa tenang. Itu berarti masih ada kesempatan buatnya agar dapat menghabiskan waktu dengan cucuknya yang telah terbuang selama belasan tahun ini.
Banyak sekali hal-hal yang Gama harapkan bisa dilakukan bersama cucuknya nanti saat sudah sehat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Paper Cuts
Teen FictionBagaimana bisa dalam beberapa waktu dia mendapatkan tatapan kebencian dari semua orang? Dari kedua orang tuanya, adiknya, kekasihnya bahkan temannya "Dari mana aja kamu? Baru sekarang muncul? Kamu ga mikirin kondisi adek kamu hah? Dia lagi berjuang...
