"Ayo, sayang... turunnya pelan-pelan, ya..." ucap Lian dengan suara lembut penuh kehati-hatian. Tangannya sigap menopang tubuh Salsa yang masih belum sepenuhnya pulih, sementara Salsa tetap menggendong Syabil dengan hati-hati di pelukannya.
Gerakan mereka perlahan, nyaris seperti menjaga sesuatu yang sangat rapuh. Lian membuka pintu mobil lebih lebar, lalu satu tangannya melingkar di pinggang Salsa untuk membantu menyeimbangkan langkahnya. Wajahnya tampak fokus, matanya tak lepas memperhatikan setiap gerakan istrinya, memastikan tidak ada satu pun langkah yang membuat Salsa merasa tidak nyaman.
Setelah lima hari sejak Salsa tersadar dari koma panjangnya, akhirnya dokter mengizinkannya pulang. Meski tubuhnya sudah jauh lebih membaik, Lian tetap memperlakukannya dengan penuh kehati-hatian, seolah sedikit saja lengah bisa membuatnya kehilangan lagi.
Begitu Salsa berhasil berdiri dengan stabil, Lian perlahan menutup pintu mobil, lalu kembali meraih tangan istrinya. "Pelan-pelan, ya... jangan buru-buru," bisiknya lagi, suaranya tenang namun penuh perhatian.
Salsa mengangguk kecil, langkahnya masih pelan, namun senyum tipis terukir di wajahnya. Ada rasa lega yang sulit ia jelaskan ketika akhirnya kembali menginjakkan kaki di rumahnya sendiri.
"Assalamualaikum..." ucap Lian dan Salsa bersamaan saat mereka memasuki rumah.
Suasana rumah terasa hangat, familiar, dan menenangkan. Aroma masakan samar-samar tercium dari arah dapur, membuat Salsa tanpa sadar menarik napas sedikit lebih dalam, menikmati perasaan pulang yang selama ini ia rindukan.
Saat mereka sampai di dekat sofa, Lian dengan sigap membantu Salsa untuk duduk. Tangannya menopang bahu istrinya dengan lembut, memastikan posisinya benar-benar nyaman sebelum akhirnya ia melepaskan perlahan.
"Makasih..." ucap Salsa pelan, suaranya lembut dengan senyum kecil yang tulus.
"Iya, sayang..." balas Lian sambil mengecup kening istrinya dengan penuh kasih, kecupan singkat namun hangat. "Tunggu ya, aku masukin barang-barang dulu," lanjutnya.
Salsa mengangguk pelan. Ia kemudian menyesuaikan posisi duduknya, perlahan membuka blanket yang membungkus tubuh kecil Syabil, memastikan bayinya tetap nyaman di pelukannya.
Belum lama Lian pergi, terdengar suara langkah dari arah dapur. Mama Rita muncul dengan wajah yang langsung berubah hangat begitu melihat Salsa.
"Loh, Nak, udah pulang? Mama kira pulangnya nanti siangan," ucap Mama Rita sambil mendekat, raut wajahnya penuh rasa lega dan bahagia.
"Iya, Ma... aku udah nggak betah di sana, makanya minta cepet pulang," jawab Salsa dengan nada ringan, meski suaranya masih terdengar sedikit lemah. Ia lalu menatap ibunya. "Mama dari mana? Habis ngapain?" tanyanya penasaran.
Mama Rita tersenyum, lalu duduk di samping Salsa dengan gerakan lembut, seolah ikut menyesuaikan diri dengan kondisi anaknya. "Habis masak, Nak. Lian minta Mama masakin sayur buat kamu," jelasnya dengan nada penuh perhatian.
Salsa tersenyum hangat mendengarnya. "Oh iya? Makasih ya, Ma..." ucapnya tulus. Pandangannya kemudian berkeliling sebentar, seperti mencari seseorang. "Papa ke mana?" tanyanya lagi.
"Lagi jemput mertua kamu," jawab Mama Rita. "Tadi katanya mau ke sini, tapi di jalan ban mobilnya bocor. Jadi Papa yang jemput, mobilnya sekalian dibawa ke bengkel."
Salsa mengangguk pelan, mencerna penjelasan itu. "Dari tadi, Ma?" tanyanya lagi.
"Barusan, kok. Nggak lama Papa pergi, kamu udah nyampe," jawab Mama Rita sambil mengelus lembut tangan Salsa.
Tak lama kemudian, Lian masuk kembali ke dalam rumah. Di tangannya terlihat beberapa tas yang ia bawa dari mobil. Langkahnya sedikit cepat, namun tetap hati-hati saat melewati ruang tamu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Our Marriage
Fanfiction"Our Marriage" adalah kisah tentang Lian, seorang pria muda yang sukses, dan Salsa, seorang wanita cerdas dan berambisi. Keduanya dihadapkan pada sebuah perjodohan yang tak terduga, sebuah permintaan terakhir dari nenek Lian yang sedang sekarat. Lia...
