6

2.5K 85 4
                                        

"Salah lo? Lo itu bego tolol apa gimana sih?!" Bentaknya.

"Tapi apa salahku?" tanya Salsa takut.

"Jaket kesayangan gue mana?"

Jaket? Salsa mengernyit tidak mengerti. Salsa saja tidak tau jaket yang dia maksud. masalah apa ini?

"Jaket apa?" Tanya Salsa.

"Jaket favorite gue!"

"Aku aja bahkan ngga tau jaket kesayangan kamu itu yang mana."

"Halah! Lo pasti yang naro jaket itukan? Kan lo yang bersihin rumah ini kan? Dimana?!" teriak Lian.

"Gue yakin lo yang ngambil! gue udah cari ke semua sudut rumah ini tapi ngga ada, siapa lagi kalo bukan lo?" tuduhnya.

"Ng-ngga li beneran. Mungkin kebawa temen kamu."

"Ngga ngaku lagi! Anjing. Sini!" Lian menarik pergelangan tangan Salsa dengan kasar. Salsa hanya meringis menahan sakit dipergelangannya karena Lian terlalu kuat mencengkram pergelangannya.

Gudang?

Salsa didorong ke gudang hingga ia terjatuh. Lalu, Lian mengunci pintu.

"Liannn Liann li bukaa lian bukaa!! Aku takut gelap! Lian aku mohonn!!" Salsa meronta ronta memohon agar Lian membuka pintunya yang terkunci.

"Mampus lo. HAHAHA." Lian tertawa jahat. Setiap kali Lian badmood, ia selalu membuat Salsa menderita demi kepuasannya. Lian seperti psikopat.

"Liann!! Buka!!"

"Lian aku mohon..." lirih Salsa.

"Aku ngga tau apa apa,hiks..."

"LIAN!!!"

Gelap. Lampu gudang ini sudah mati, tidak bisa menyala memberikan keterangan sama sekali. Salsa sangat takut kegelapan. Ia menangis sambil menggedor pintu berharap Lian membukanya.

Lian mengunci pintu gudang dan membawa kunci nya. Tidak mempedulikan Salsa yang terus menggedor pintu.

Salsa memeluk kakinya sendiri. Ia menutup kedua mata nya. Salsa tidak berani membuka mata karena gelap.

Salsa semakin Terisak berat. Salsa terus memeluk kedua kaki nya dan menelungkupkan wajahnya.

Salsa berpikir. Hanya karena jaket? Lian bilang jaket kesayangannya? Salsa saja tidak melihat jaket itu sama sekali. Bagaimana bisa Lian menuduhnya begitu saja dan langsung mengunci Salsa digudang?

Entah kurang sabar apalagi Salsa menghadapi sikap Lian. Andai orang tua nya tahu semua ini. Tapi mau bagaimana lagi? Lian seringkali mengancam Salsa jikalau Salsa memberitahu semua ini ke orang tua nya.

Salsa diam. Berhenti terisak. Percuma saja ia menangis sekeras apapun, Lian tak akan membuka nya.

Tanpa sadar Salsa mulai mengantuk. Ia tertidur sambil memeluk kaki nya sendiri.

Sebelum benar benar tidur Salsa bergumam dalam hati kecilnya.

Mah pah, caca takut. Ruangan ini bener bener gelap. Caca gak tau harus apa. Caca takut gelap mah pah. Tolongin caca.

Caca adalah panggilan kesayangan mamah dan papahnya.

****

Esoknya,

"Halo," Suara seseorang yang menelpon diseberang sana

"Iya?" Balas Lian.

"Sorry bro. Jaket lo kemaren gak sengaja kebawa gue."

"Jadi, jaket gue ada di lo?" Kata Lian bernapas lega. Karena bagaimanapun jaket itu benar benar jaket kesayangannya. Padahal hanya jaket berwarna hitam biasa.

"Iya. Sorry."

"Oke gue kerumah lo aja ya. Ngambil jaket."

"Oke oke."

Lian bergegas keluar rumah. Menuju rumah temannya yang kemarin datang kerumahnya dan tak sengaja membawa jaket miliknya.

****

Perlahan, Salsa membuka kedua matanya. Mengumpulkan nyawa. Ternyata ia Masih didalam gudang. Salsa membuang napas gusar.

Salsa tak berani membuka mata lama-lama, ia menutup mata nya lagi. Sekarang, tubuh nya pegal-pegal karena semalaman tertidur digudang ini.

"Woi!" Terdengar suara Lian didekat pintu.

Mata Salsa berbinar mendengar suara Lian.

"LIANNN buka!" Teriak Salsa sambil menggedor pintu.

'ceklek

Terlihat cahaya terang saat pintu terbuka. Lega sekali. Akhirnya Salsa keluar dari ruang yang gelap itu.

Setelah membuka pintu Lian langsung pergi keluar rumah, entah kemana. Salsa hanya menggidik bahu kemudian berjalan gontai menuju kamarnya.

Salsa duduk dipinggir tempat tidurnya. Kemudian melirik jam dinding didepannya.

Terlihat jam menunjukkan pukul. 08:00

Membuat gadis ini terkejut. Padahal ia kira masih jam 6 karena saat ia keluar gudang, cahaya diluar terlihat seperti jam 6 pagi.

Salsa mendengus kesal. Hari ini sepertinya ia akan bolos sekolah. Untuk pertama kali nya.

Dengan langkah malas. Salsa berjalan gontai ke kamar mandi. Walaupun tidak sekolah. Salsa tidak betah rasa nya jika ia belum mandi.

Setelah Mandi Salsa hanya dikamar. Menonton televisi. Berbaring. Membuat makanan. Menonton televisi lagi. Memainkan ponsel.

Rasanya Salsa ingin sekali pergi ke sekolah. Daripada dirumah hanya seperti ini, tidak ada kerjaan.

Huftt

Malam tiba. Gadis cantik ini tertidur pulas disofa depan tv. Setelah seharian hanya menonton televisi saja. Salsa mungkin bosan dan tanpa sadar tertidur.

"Sal. Beresin kamar gue."

"Woi! Salsa!" teriak Lian.

"Heh!"

"Bangsat!"

Salsa masih tertidur pulas. Sama sekali tidak mendengar ucapan cowok kasar didepannya.

Kesabaran Lian habis. Lian mendekati Salsa dan menarik rambut nya.

Salsa sontak membuka mata dan meringis kesakita.

"Aww!" rintih Salsa kesakitan.

"Liann lepas! Sakit!" pekik Salsa memegangi rambut nya.

"Beresin kamar gue! Jangan tidur mulu!"

Salsa melirik jam dinding. Ternyata sudah jam 11 malam.

Salsa diam. Karena jika ia terus merespon Lian pasti Lian akan tambah kesal dan bisa bisa mengurungnya lagi? sungguh Salsa tidak mau berada ditempat gelap itu lagi!

"Cepet rapihin kamar gue. Gue ngantuk pengen tidur!" sentak Lian lalu melepas rambut Salsa.

Salsa mengangguk. Berjalan menuju kamar Lian dengan lemah.

Hati Salsa selalu terluka. Lian selalu kasar padanya.. Tidak pernah baik. Hanya didepan Shinta saja, itu pun pura-pura.

Dengan sabar Salsa terus menjalani hidup seperti ini. Habis mau bagaimana lagi? Bunuh diri? Itu jelas bukanlah sosok salsa. Salsa tidak pernah berpikir sampai kesana.

Setelah membereskan kamar Lian. Salsa ingin melangkah keluar kamar. Tetapi dengan tiba tiba Lian muncul didepan pintu dan menarik lengan Salsa untuk masuk kedalam kamar nya.

"Kenapa?" Tanya Salsa.

"Sini."

"Ng-ngapain?"

"Tidur sama gue."

****

enaknya lian kita apain yaa?

Bastard BoyTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang