Fira kesal karena Maulana tidak juga kunjung datang, ia pun pergi mencari pria itu di ruang kerjanya.
Maulana berusaha menegakkan tubuhnya yang duduk, tapi rasa sakit yang menusuk membuatnya mengernyitkan dahi. Dia memaksakan diri untuk duduk tegak, tapi setiap gerakan kecil terasa seperti gelombang sakit yang menghantam tubuhnya. Saat mendengar suara langkah kaki Fira yang semakin dekat, Maulana mengerahkan sisa tenaganya untuk menampilkan wajah yang biasa saja, meski keringat dingin mengalir di keningnya dan rasa sakit membuat otot-ototnya tegang. Dengan pelan, dia menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri dan menyembunyikan rasa sakit yang semakin menajam.
"Assalamualaikum, Mas." Fira berjalan masuk ke dalam ruang kerja Maulana.
"Walaikumsalam."Suaranya yang dalam dan biasa terdengar tenang, tapi ada getaran halus yang tidak bisa disembunyikan, seperti benang tipis yang hampir putus, menandakan bahwa dia sedang menahan rasa sakit. Ekspresi wajahnya yang biasa saja menjadi kontras dengan nada suaranya yang sedikit terpotong-potong, saat menjawab salam Fira, Maulana memaksakan senyum tipis di bibirnya, mata yang tajam dan tenang tetap fokus pada Fira, tapi ada sedikit ketegangan di sekitar matanya yang menunjukkan bahwa rasa sakit itu nyata.
Fira melangkahkan kaki mendekati Maulana, wajahnya cemberut saat melihat pria itu bersama Sui, ia mengira bahwa Maulana keasikan ngobrol dengan Sui hingga lupa dirinya sedang menunggu.
"Mas lama sekali, aku sudah menunggu Mas dari tadi." Suara yang keluar dari bibirnya terdengar berat dan sedikit tertekan, seperti beban yang tidak terlihat sedang menumpuk di dada. Nada yang biasanya jernih dan tenang kini terdengar kasar dan sedikit terpotong-potong, menandakan bahwa kesal dan frustrasi sedang menguasai dirinya. Setiap kata yang diucapkan terdengar seperti dipaksa keluar, dengan intonasi yang naik turun tidak teratur, memberikan kesan bahwa dia sedang berusaha keras untuk menahan emosi yang bergolak di dalam hatinya. Suara itu seperti getaran senar yang terlalu tegang, siap meledak kapan saja jika tekanan tidak dilepaskan.
"Maaf, tadi Mas ada keperluan sedikit dengan Sui." Maulana tersenyum lembut, ia mengulurkan tangan meraih tangan gadis itu, menggenggam tangan itu dengan lembut.
"Kemari, jangan marah lagi." Maulana menarik pelan tangan gadis itu, lalu mendudukkan gadis itu di atas pangkuannya.
Saat Fira duduk di pangkuannya, Maulana merasakan gelombang hangat yang menyebar dari titik sentuhan tubuh mereka. Rasa sakit yang sebelumnya menghantuinya seketika mereda, digantikan oleh perasaan lembut dan nyaman. Berat badan Fira di pangkuannya terasa seperti balutan pelukan yang hangat, membuat otot-ototnya yang tegang sedikit rileks. Maulana merasakan detak jantung Fira yang stabil dan hangat, serta aroma lembut dari rambut Fira yang mengenai wajahnya, menambah rasa nyaman yang dia rasakan. Dalam keheningan itu, Maulana merasakan kehadiran Fira membawa ketenangan dan rasa aman yang mendalam, membuat rasa sakit yang dialaminya menjadi lebih tertahankan.
"Sayang, jangan marah. Mas sudah minta maaf."
Fira masih kesal, ia menyandarkan tubuhnya dengan kasar pada Maulana.
Maulana merasakan gelombang sakit yang intens di perutnya saat Fira menyandarkan tubuhnya dengan kasar. Rasa sakit yang tajam dan menusuk membuat Maulana mengernyitkan dahi, berusaha menahan diri untuk tidak menunjukkan rasa sakit yang dialaminya. Berat badan Fira di pangkuannya terasa seperti beban tambahan yang memperparah rasa sakitnya, membuat Maulana merasakan tekanan yang luar biasa di perutnya. Napasnya menjadi terengah-engah, dan otot-ototnya menegang, berusaha menahan rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Meskipun demikian, Maulana tidak bergerak, membiarkan Fira bersandar pada dirinya, berharap kehadirannya bisa memberikan kenyamanan bagi Fira.
Sui semakin heran dengan Maulana, ia pun bangkit dari tempat duduknya."Jhon, aku pergi dulu."
Maulana mengangguk."Jika masih tidak percaya, tanya saja pada Fransis. Tapi jangan berkelahi."
"Hm." Sui menjawab sambil berjalan meninggalkan ruang kerja Maulana.
Maulana kembali tersenyum, ia menggerakkan tangan hendak memeluk pinggang gadis itu dari belakang, namun Fira yang masih kesal malah menyikut Maulana.
Saat Fira menyikut Maulana dengan gerakan kasar, rasa sakit yang membara di perut Maulana seperti api yang disiram minyak, semakin membesar dan membakar setiap serat ototnya.
Maulana mengernyitkan dahi, menahan napas, dan mengeluarkan suara keluhan yang tertahan."Ugh..." Karena rasa sakit yang tajam dan menusuk semakin menjadi-jadi.
Suara keluhan itu terdengar seperti desahan yang berat, menandakan bahwa Maulana sedang berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa. Fira yang masih terfokus pada kekesalannya sendiri, tidak menyadari bahwa dia telah membuat Maulana merasakan sakit yang begitu intens. Maulana berusaha menahan diri, tapi rasa sakit itu seperti gelombang yang terus menghantui, membuat dirinya semakin tidak nyaman.
Saat rasa sakit yang tajam dan menusuk menghantui perutnya, tangan Maulana spontan langsung memegangi perutnya, seolah-olah mencoba melindungi bagian tubuhnya yang sakit dari rasa sakit yang semakin menjadi-jadi. Gerakan itu dilakukan dengan cepat dan refleksif, menandakan bahwa Maulana sedang berusaha menahan rasa sakit yang luar biasa. Wajahnya yang terkernyit dan napasnya yang terengah-engah menunjukkan betapa sakitnya itu mempengaruhi kondisi fisiknya.
Fira terkejut melihat reaksi Maulana yang tidak biasa, biasanya pria itu selalu menunjukkan wajah tenang dan sabar, bahkan dalam situasi yang tidak nyaman sekalipun. Namun, kali ini, Maulana menunjukkan reaksi yang berbeda, wajahnya terkernyit dan dia memegangi perutnya dengan erat, membuat Fira sadar bahwa dia mungkin telah membuat Maulana merasakan sakit yang lebih dari yang dia duga. Fira merasa sedikit bersalah dan khawatir, melihat Maulana dalam kondisi seperti itu.
"Mas, Mas kenapa?"
Maulana tidak langsung menjawab, dia masih menahan napas dan memegangi perutnya dengan erat, berusaha menahan rasa sakit yang masih menghantui. Wajahnya terkernyit, menunjukkan betapa sakitnya itu mempengaruhi kondisinya. Fira melihat reaksi Maulana dan semakin khawatir tentang kondisinya.
Fira memutar tubuhnya di atas pangkuan Maulana, menghadap ke arahnya dengan gerakan yang cepat dan tidak terduga. Maulana merasakan sakit yang tajam di perutnya karena perubahan posisi Fira yang tiba-tiba, membuat wajahnya terkernyit menahan rasa sakit. Fira sekarang berada dalam posisi yang lebih dekat dengan Maulana, dengan wajah mereka yang hanya berjarak beberapa senti, membuat Maulana merasakan tekanan tambahan pada perutnya. Rasa sakit yang semakin intens membuat Maulana menahan napas, berusaha untuk tidak menunjukkan reaksi yang berlebihan.
Maulana menarik napas dalam-dalam, suaranya yang biasanya lembut kini terdengar teredam oleh rasa sakit. "Sayang, turunlah sebentar," katanya dengan nada yang lembut namun penuh tekanan, sambil tangannya yang satu masih memegangi perutnya yang sakit.
Fira yang berada di atas pangkuannya melihat ke wajah Maulana yang terkernyit, mata yang biasanya cerah kini terlihat kusam karena rasa sakit.
Dengan gerakan yang lambat dan hati-hati, Fira mulai turun dari pangkuan Maulana, berusaha untuk tidak menambah rasa sakit yang sudah sangat intens. Maulana menutup mata sejenak, menahan napas dalam-dalam, berharap rasa sakitnya bisa mereda sedikit demi sedikit.
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Terbaik 2
RomanceDipaksa menikah dengan seorang rentenir ternyata Fira justru mendapat anak dari si Rentenir.Sosok pria yang lembut pada dirinya namun sangat dingin pada orang lain, awalnya Fira berpikir kalau Suaminya itu juga sama kejam seperti mertua tapi ternyat...
