Dari sisi yang lain Ariskana duduk di meja, sedang membaca buku sambil berbicara di telepon dengan Mayu. Suasana di ruangan tersebut tampak tenang dan nyaman. Ariskana, dengan sikap tenangnya, terus memindahkan halam buku sambil mendengarkan Mayu di ujung telepon.
"Konbanwa, Mayu. Apa kabar?" Ariskana
Konbanwa, Ariskana! Aku baik-baik saja. Aku baru saja selesai makan malam. Bagaimana denganmu? Masih tenggelam dalam buku itu? - Mayu
"Ya, masih. Buku ini memang cukup menarik. Tapi, mendengarmu juga membuatku merasa lebih baik." Ariskana
Oh, jadi kamu lebih suka mendengarku daripada membaca buku ya? Itu sangat manis - Mayu
"Apanya yang manis, tidak ada manis-manisnya" Ariskana
Ada, sayang. Senyumanmu - Mayu
Ariskana diam-diam menahan senyumannya.
Kamu tidak percaya, ya? Setiap kali kamu tersenyum, rasanya seperti dunia menjadi lebih cerah. Bahkan buku yang aku baca pun terasa lebih menarik ketika aku bisa membayangkan senyummu - Mayu
"Oh, jadi sekarang kamu mengaitkan senyumku dengan buku?" Ariskana membuka halaman selanjutnya
Tentu saja! Dan kalau kamu terus meragukan betapa berartinya kamu bagi hidupku, aku akan terus mencoba menjelaskan betapa spesialnya kamu. - Mayu
"Hmm, kamu tidak belajar?" tanya Ariskana
Oh, jangan khawatir tentang itu Ariskana sayang. Aku sudah selesai belajar untuk hari ini. Lagi pula, aku tidak bisa belajar terus-menerus tanpa istirahat, kan? - Mayu
"Maksudnya, kamu tidak merasa tertekan dengan semua tugas dan ujian?" tanya Ariskana keheranan
Kadang-kadang. Tapi, saat aku memikirkan betapa berartinya waktu yang aku habiskan bersamamu walaupun lewat chat atau berbicara lewat telepon seperti ini, semua stres itu terasa tidak ada artinya. -Mayu
"Jadi, kamu menggunakan aku sebagai alasan untuk menghindari stres?" tanya Ariskana yang masih bersikap tenang.
Lebih dari itu. Kamu adalah motivasi dan penyemangatku. Setiap kali aku merasa lelah atau tertekan, aku hanya perlu memikirkan senyummu, dan semuanya terasa lebih ringan. -Mayu
"Kamu memang pandai membungkus kata-kata. Tapi jujur, kamu memang membuatku merasa lebih baik." Ariskana membuka buku di halaman selanjutnya.
Dan aku harap aku bisa terus membuatmu merasa seperti itu. Karena setiap saat bersamamu adalah cara aku untuk melepaskan stres dan menunjukkan betapa berartinya kamu bagiku. - Mayu
Ariskana diam sejenak.
"Mayu, dari dulu sampai sekarang, di hatimu aku ini yang ke berapa?" tanya Ariskana blak-blakan
Hmm, dari dulu sampai sekarang, kamu adalah yang pertama dan satu-satunya. Tidak ada yang lain yang bisa menggeser posisimu. - Mayu
"Hah, jangan berlebihan. Aku yakin kamu punya banyak mantan atau setidaknya ada yang lain sebelum aku." kata Ariskana dengan datar
Sungguh, tidak ada yang lebih penting daripada kamu. Semua yang sebelumnya hanyalah latar belakang yang mempersiapkan aku untuk bertemu denganmu Ariskana sayangku, cintaku, kasihku - Mayu
"Hmm, jadi kamu bilang aku adalah yang pertama dan terakhir?" Ariskana
Tepat sekali. Kalau kamu bertanya tentang jumlahnya, maka kamu bisa bilang kamu adalah satu-satunya yang benar-benar ada di hatiku.- Mayu
"Hmph jangan-jangan kamu hanya mengatakannya supaya aku merasa lebih baik." Ariskana
Tidak sama sekali. Aku benar-benar percaya bahwa kamu adalah yang pertama dan satu-satunya. Semua yang lainnya? Hanya statistik belaka. - Mayu
KAMU SEDANG MEMBACA
DAFTAR PUSTAKA: DAFINA TARISTA X PUSAKA TAMA KARISMA
RandomLanjutan dari cerita saya sebelumnya yang berjudul: KARISMANYA AMERIKA DAFTAR PUSTAKA bukanlah kumpulan referensi atau sumber yang digunakan dalam penulisan suatu karya, seperti buku, jurnal, artikel, situs web, atau sumber lainnya yang relevan deng...
