12 a.m
Di jam istirahat, Lukas berkumpul dengan teman-temannya yang lain di kantin menikmati makan siangnya. Ia melihat notifikasi line dari Aida yang mengirimkan beberapa foto. Ketika Lukas mengunggah foto tersebut ternyata itu foto Tama yang tengah memasak di dapur, dan foto kebersamaan Tama bersama Karisma dan teman-teman kelas 3A.
"Waaah mereka kelihatannya menikmati festifal bunkasai, Kena-chan juga di ajak ke sekolah" kata Lukas merasa ikut senang mellihat photo Tama dkk di hp-nya.
"Aku mau lihat" Ariskana bangun dari tempat duduknya dan melihat layar hp Lukas sejenak
"Aku juga mau lihat" Danilo, Erhan dan teman-teman mereka yang lain langsung berkumpul karena ingin melihat foto Tama bersama keluarga dan teman-temannya. Dafina, yang duduk di dekat mereka hanya fokus menikmati bakso yang sudah di pesan.
"Dafina, kamu tidak mau melihatnya juga?" tanya Ariskana melihat ke arah Dafina
Dafina, hanya diam tidak merespon dan terus menikmati baksonya.
"Mungkin tadi pagi sebelum Tama berangkat, dia kirim pap kepada Dafina" sahut Danilo
Dafina mendadak berhenti memakan baksonya ketika rasa pusing tiba-tiba menghantam kepalanya. Seperti ada sesuatu yang menusuk pikirannya, memaksa ingatan-ingatan lama yang terkubur untuk muncul kembali. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha menenangkan diri dari rasa pusing yang semakin menjadi-jadi. Namun, di balik rasa tidak nyaman itu, potongan-potongan ingatan mulai muncul satu per satu sebuah ingatan yang sudah lama hilang dan hampir terlupakan.
Dalam benaknya, ia melihat dirinya duduk di kantin yang sama dengan senyuman cerah di wajahnya. Di sekelilingnya ada Tama dan beberapa teman lainnya. Mereka tertawa bersama, bercanda tanpa henti, dan menikmati waktu istirahat sekolah yang terasa begitu menyenangkan. Kantin itu menjadi tempat di mana mereka sering berkumpul, sebuah titik pertemuan yang penuh kenangan manis. Dafina melihat wajah Tama yang selalu penuh perhatian, mendengarkan cerita-ceritanya dengan sabar, dan sesekali menyisipkan gombalan yang membuat wajahnya merona. Semua momen itu tiba-tiba terasa begitu jelas, seolah-olah terjadi kemarin. Rasa akrab dan nyaman yang pernah ia rasakan di kantin itu kembali menyeruak dalam pikirannya.
Dafina membuka matanya perlahan, pusing yang tadi dirasakannya mulai mereda. Namun, ingatan yang kembali itu menimbulkan campuran perasaan di hatinya antara kebahagiaan, kerinduan, dan sedikit penyesalan. Ia menyadari betapa pentingnya masa-masa itu dalam hidupnya, dan bagaimana Tama serta teman-teman mereka memainkan peran besar dalam membentuk siapa dirinya sekarang. Tanpa disadari, senyum kecil muncul di wajahnya, meskipun ada sedikit rasa melankolis yang tersirat di baliknya.
"Dafina?!"
Panggilan dari Lukas memecahkan lamunannya.
"Ada apa?" tanya Dafina melihat kepada Lukas
"Apa kamu baik-baik saja" tanya Lukas
"Iya" Dafina melanjutkan aktifitas makan siangnya menikmati bakso, matanya tertuju kepada hp yang berbunyi di letakkan di meja di depannya.
Ariskana, Erhan, Lukas dan Danilo dengan lancang melihat siapa yang menelpon Dafina. Dafina berusaha sekuat tenaga untuk tetap terlihat tenang dan cuek meskipun hatinya sedang berdebar kencang. Tatapan teman-temannya tertuju padanya, dan suasana di meja makan tiba-tiba berubah menjadi penuh antisipasi.
"Tama breeee" kata Lukas
Suasana di sana mendadak heboh.
"Dafina, angkat cepat!" Danilo sambil tersenyum lebar, mencoba mendorong Dafina untuk segera mengangkat telepon.
Namun, Dafina hanya menggelengkan kepala dan berusaha fokus pada bakso yang ada di depannya. "Tidak mau," katanya dengan nada dingin, meskipun di dalam hatinya dia merasa gugup dan ingin sekali tahu apa yang ingin dikatakan oleh Tama. Ia mencoba untuk tetap santai sambil menikmati makanannya, meski pikiran dan hatinya bercampur aduk.
KAMU SEDANG MEMBACA
DAFTAR PUSTAKA: DAFINA TARISTA X PUSAKA TAMA KARISMA
AcakLanjutan dari cerita saya sebelumnya yang berjudul: KARISMANYA AMERIKA DAFTAR PUSTAKA bukanlah kumpulan referensi atau sumber yang digunakan dalam penulisan suatu karya, seperti buku, jurnal, artikel, situs web, atau sumber lainnya yang relevan deng...
