Ketika itu, usia Fabian masih 4 tahun.
Fabian kecil senang sekali mengikuti kemana kakaknya pergi. Jarak usia yang cukup jauh membuat Fabian kecil begitu tergantung kepadanya. Terkadang Brian cukup kesal dengan adik kecilnya yang menempel terus. Tapi apa yang mau dikata? Dia tidak punya pilihan lain.
Maka, saat Brian hendak pergi latihan renang di akhir pekan, Fabian merengek tidak mau ditinggalkan kakaknya. Dia terus merajuk, berteriak dan menangis sejadi-jadinya.
Orang tuanya kewalahan melihat sikap Fabian kecil. Mereka tidak tega membuat Fabian seperti itu. Tapi mereka juga tidak bisa menemani Fabian kecil dan menjaganya karena kesibukan mereka di kantor yang menumpuk.
"Fabian di rumah aja ya."
"Ga mau! Bian mau ikut kakak!"
Bian berseru dengan keras. Kemudian tiduran dilantai sampai mendorong kakinya ke atas. Bergerak sembarang arah seperti ingin menendang angin.
"Tapi, ga ada yang jagain kamu disana."
"Bian mau ikut!"
"Mau ikut!"
Setelah itu Fabian terus-terusan menangis, Brian yang merasa kasihan akhirnya mendekati adiknya dan menenangkannya.
"Jangan menangis."
"Tapi Bian mau ikut."
Wajah Fabian sangat dipenuhi oleh air mata dan ingus. Membuat wajah kecil itu semakin menggemaskan.
"Iya, kamu boleh ikut."
"Hore!!"
Fabian langsung bangkit dan berlari ke depan rumah meninggalkan semua orang di belakang. Kedua orang tuanya melihat Brian dengan tatapan khawatir.
"Tidak apa-apa. Brian bisa menjaganya."
Setelah mendapatkan persetujuan dari kedua orang tuanya, Brian dan Fabian akhirnya pergi menuju tempat latihan renang. Mereka bersua diantar pleh supir.
Sepanjang perjalanan Fabian begitu gembira. Dia sangat antusias dan ingin melihat tempat renang kakaknya. Karena selama ini dia tidak pernah memiliki kesempatan.
"Bian senang kak!"
Serunya dengan senyuman lebar.
"Tapi, Bian ingat nanti. Jangan dekat-dekat dengan kolam. Bian cukup duduk di kursi penonton."
"Iya! Bian tau!"
Setelah beberapa saat, mobil mereka tiba, supir dan mobil mereka langsung berbalik arah. Sedangkan Fabian dan kakaknya masuk ke gedung olahraga renang.
Fabian kecil sangat takjub oleh kolam renang yang berkali-kali lipat lebih besar dibandingkan yang ada di rumahnya. Airnya begitu jernih, Fabian sampai bisa melihat dasar kolam tersebut. Riak air sesekali menyilaukan karena terkena cahaya dari luar.
"Kamu tunggu di pinggir. Kakak mau ganti pakaian dulu."
Fabian tidak terlalu mendengarkan kalimat kakaknya. Brian akhirnya pergi dan meninggalkan Fabian kecil sendirian.
Anak kecil itu sangat terpesona oleh kolam yang jernih. Seolah terpengaruh sihir, Fabian melupakan perintah kakaknya dan malah mendekati area pinggiran kolam. Dia berjongkok di sisi kemudian tangan kecilnya berusaha menyentuh air jernih itu.
Tapi, karena tangannya masih pendek, dia cukup kesulitan untuk menyentuh air. Dia akhirnya mencondongkan tubuhnya. Baru ketika akhirnya dia bisa menyentuh air kolam, Fabian kecil senang dan membuatnya terpeleset ke dalam kolam yang dingin dan sepi.
"Kak!"
"Tolong!"
Fabian kesulitan untuk berenang. Dia berusaha mencari bantuan dengan memanggil kakaknya. Tapi apa daya, tubuh kecilnya yang berjuang tersebut mulai kelelahan. Bernafas pun semakin sulit. Pada akhirnya perlahan tubuh Fabian kecil terperangkap di dalam air.
Lalu, ada seseorang yang masuk ke dalam air. Fabian melihat orang itu secara samar. Dia tampak seperti keajaiban bagi Fabian kecil. Fabian tersenyum melihat itu. Setelahnya Fabian kehilangan kesadaran.
***
Akibat kejadian itu, selama beberapa tahun ke depan, Fabian dilarang untuk mendekati kolam air. Orang tuanya melarang keras, karena hal itu sangat membahayakan Fabian. Kakaknya Brian juga kena semprot. Dianggap lalai dan tidak memperhatikan adiknya.
Namun, walaupun mendapatkan larangan. Fabian sangat penasaran dengan orang yang menyelamatkannya. Dia ingin tahu siapa orang itu. Namun, kedua orang tuanya ataupun Brian tidak pernah mengatakan siapa itu.
Tidak punya pilihan lain, Fabian kecil berusaha mencuri hati supir pribadinya. Karena setelah kejadian itu, Fabian diminta untuk ditemani supir pribadi yang akan mengantarnya dan menjaganya.
Paman itu tidak berdaya melihat Fabian yang memohon dengan menggemaskan, akhirnya dia menuruti permintaan Fabian. Tapi dia akan tetap menemani Fabian. Dan Fabian setuju akan hal itu.
Fabian masuk lagi ke dalam kolam itu setelah 3 tahun berlalu. Dia ditemani supirnya dan duduk di kursi penonton. Tempat itu sangat ramai kali ini. Dia melihat di kolam air kalau banyak orang yang tenagah latihan.
Rentang usia mulai dari yang masih kecil sampai remaja. Dan entah kenapa, mata Fabian langsung tertuju kepada bagian tengah kolam. Dia melihat seseorang tengah berenang lebih cepat dibandingkan yang lainnya.
Ketika dia tiba pertama, dia muncul dari air dengan wajah basahnya. Fabian sangat terpesona dengan anak itu. Dia tampak seperti seorang dewa kecil yang dilahirkan dari dalam air. Tubuhnya yang dibasahi terlihat berkilauan ketika terkena cahaya lampu.
Tanpa pikir panjang dia turun dari kursi penonton, supirnya segera menyusul. Mereka bersua mendekat ke bagian kepala kolam. Fabian sudah tidak sabar menunggu anak itu naik.
Baru, ketika anak itu naik, tubuhnya cukup tinggi dibandingkan Fabian. Fabian kecil tanpa pikir panjang langsung mendekati anak di depannya.
"Hai, Aku menyukaimu!"
Anak itu mengerutkan keningnya, tidak suka dengan kehadiran orang asing di depannya ini. Dia pun pergi mengambil handuk dan meninggalkan Fabian begitu saja.
Fabian tidak menyerah, dia menyusul anak itu.
"Hei! Aku Fabian!"
"Namamu siapa?"
Anak itu tetap mengabaikan Fabian. Dia terus berjalan di pinggiran kolam. Dan Fabian menyusulnya di belakang.
"Hei, siapa namamu!"
Anak itu tetap mengabaikan Fabian. Fabian cemberut karena dewa air malah mengabaikannya. Dia tidak mau menyerah dan berlari dengan cepat, tapi sayang dia malah terpeleset.
"Ughh!"
Teriakan kesakitan Fabian membuat anak itu menoleh dan mendekati Fabian. Fabian kecil menyeringai kemudian berpura-pura kakinya semakin sakit.
"Tolong, paman, kakiku sakit."
"Tuan muda, tahan sebentar. Kita akan segera ke rumah sakit."
"Aku tidak mau! Aku tidak akan pergi sebelum dia memberitahu namanya!"
Fabian tetap memegang kakinya sambil mengeluh kesakitan. Semua orang yang ada di kolam melihat ke arah mereka. Mereka mulai mendekat.
"Tapi, tuan muda."
"Aku mau tahu namanya dulu!"
Akibat hal itu, semua orang langsung menatap anak itu. Anak itu yang merasa terpojok akhirnya menghela nafas pelan, dia berjongkok kemudian mengulurkan tangannya. Fabian kecil tersenyum dengan sumringah sambil menerima uluran tangan itu.
"Aku Devan."
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Second Time |Fabian&Devan|
Fantasía🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Fabian sangat terobsesi dengan sehabatnya, Devan. Tapi, karena hal itu, hidupnya pun menjadi hancur. Itulah yang terjadi di k...
![[BL] Second Time |Fabian&Devan|](https://img.wattpad.com/cover/374041126-64-k75492.jpg)