Ketika Devan datang, dia menemukan Fabian yang masih tidak sadarkan diri.
Fabian berbaring di atas ranjang besar itu. Tidak menunjukan tanda-tanda akan bangun. Devan pun segera mendekati Fabian lalu duduk di tepi ranjang dan mengecek dahi Fabin.
"Ini panas."
Segera setelah itu, dia bergeas keluar, sampai melupakan kalau pintu terbuka dengan lebar. Fabian di sisi lain hanya mendengar suara Devan secara sekilas.
Sebenarnya sudah sejak tadi dia bangun, hanya saja dia tidak kuat untuk membuka matanya. Tubuhnya terlalu lelah. Apalagi panas dingin terasa di seluruh tubuhnya. Bahkan saat selimut tebal menutupi tubuhnya.
Tidak hanya tubuhnya yang panas-dingin dan kelelahan, Fabian juga merasakan pusing di kepalanya. Dia sangat tidak nyaman sampai tidak mau bergerak sedikit pun.
"Bangunlah sebentar."
Suara khawatir terdengar samar-samar. Fabian yang membuka matanya pun melihat sosok kabur di depannya. Sosok itu kemudian mengompres kain hangat dan ditaruhnya di atas dahi Fabian.
Karena tindakan itu, Fabian sedikit merasakan efek nyaman di dahinya. Setelahnya Fabian tidak lagi sadar dengan keadaan disekitarnya. Dia sudah jatuh tertidur kembali.
***
Entah berapa lama waktu berlalu, Fabian akhirnya bangun dari tidurnya.
Fabian mencoba untuk duduk dan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Setelahnya dia memegang dahinya yang tidak lagi terasa panas. Dia juga merasakan kalau pusing telah hilang dan panas-dingin di tubuhnya juga ikut hilang.
Tidak berselang lama, pintu di depan terbuka dari luar. Devan datang dengan membawa nampan berisi semangkuk air hangat, bubur dan air putih hangat.
"Bagaimana dengan keadaanmu, jauh merasa lebih baik?"
Mengabaikan suara khawatir itu, Fabian menoleh ke samping. Di atas nakas dia menemukan mangkuk air putih, selain itu saat melihat kesamping, handuk kecil jatuh di bawah bantalnya.
"Kau merawatku?"
Fabian bertanya dengan ketus.
Devan menaruh barang bawaan di atas nakas dan mendekati Fabian.
"Kalau bukan aku, memangnya siapa lagi?"
"Ah, sial."
Fabian tidak mau mengakui kalau Devan adalah orang yang merawatnya di kala dia tengah sakit. Tapi, dia juga lah yang membuat Fabian sakit. Fabian yakin dia sakit karena terlalu stres dengan keadaannya saat ini.
"Apa maumu, Devan? Kau telah mengurungku disini dan membuatku sakit? Kenapa kau tidak membiarkan aku kesakitan saja sepanjang waktu? Atau, kenapa kau tidak sekalian saja membunuhku?"
Dia begitu pusing dengan maksud dan tujuan dari Devan. Apa alasan dia mengurungnya disini kalau bukan untuk menyiksa Fabian? Tapi kenapa pula dia harus merawatnya di kala sakit?
Tangan Devan datang mendekat untuk membelai kepala Fabian, tapi itu lebih dahulu di tepis oleh Fabian dengan kasar.
"Jangan sentuh aku! Itu menjijikan!"
"Aku sudah menyentuhmu lebih dari yang kamu tahu."
"Hah?"
Atas kata-kata ambigu itu, Fabian hanya melongo. Berusaha mencerna maksudnya. Jelas Fabian ingat kalau kontak dia dengan Devan hanya terjadi di masa lalu. Dan itu tidak pernah lebih dari sebuah ciuman paksaan.
"Aku sudah mengganti pakaianmu dan membasuh tubuhmu. Kamu tidak ingat?"
Fabian segera melihat pakaian yang tengah dikenakannya ini, berbeda dengan kemeja putih yang terakhir kali dipakainya. Dia sekarang tengah memakai piyama yang nyaman. Jangan lupakan juga ada celana panjang yang menutupi kakinya di bawah sana.
"Pria mesum!"
Devan hanya terkekeh pelan mendapati reaksi Fabian. Seolah terhibur melihat wajah Fabian yang marah namun tidak menghilangkan rona merah di pipi dan telinganya.
"Jangan dekat-dekat denganku!"
Fabian mendorong tubuh Devan dengan kakinya, lalu menarik selimut dan menutupi tubuhnya. Dia menatap nyalang Devan, berusaha waspada terhadap ancaman di hadapannya.
"Oh, ya. Aku bawakan bubur untukmu. Makanlah. Sudah beberapa hari ini perutmu kosong."
"Bukan urusanmu!"
"Bersikap baik dan patuhlah. Ini semua demi kebaikanmu juga. Kamu tidak ingin kembali jatuh sakit lagi, kan?"
"Kau tidak pantas mengucapkannya!"
Devan menyerahkan bubur di mangkuk plastik. Asap putih mengepul ke atas. Membawa aroma menggiurkan. Seolah tengah menggoda Fabian yang perutnya sudah memberontak sejak tadi.
Fabian menarik itu, dan berkata dengan tegas, "Aku makan karena terpaksa!"
"Lebih baik seperti itu daripada tidak sama sekali."
Devan menjawab dengan ringan, seperti tidak memusingkan alasan Fabian. Fabian pun dengan lahap makan bubur. Jika dia membiarkan menyiksa tubuhnya, sama saja dengan membiarkan Devan akan merawat dirinya untuk kedua kalinya.
Fabian tidak mau itu terjadi!
Membayangkan Devan yang melepas pakaian, membasuh keringat di seluruh tubuhnya lalu memakaikan pakaian baru. Membuat Fabian semakin marah.
"Apa buburnya enak?"
Setelah selesai, Fabian melempar mangkuk plastik itu secara sembarangan ke arah Devan. Dia tidak mau berterima kasih atau pun mengakui kalau bubur itu memang enak.
"Tidak! Rasanya seperti sampah!"
"Memangnya kamu pernah makan sampah?"
"..."
Tawa pelan malah keluar dari mulut Devan melihat tanggapan Fabian. Itu adalah hal yang paling tidak cocok di wajah bak malaikat itu. Karena iblis di dalam dirinya jauh lebih menakutkan.
"Itu adalah bubur buatanku. Aku membuatnya dengan sepenuh hati. Ah, ya. Sebagai informasi. Setiap makanan yang aku bawakan kepadamu, itu buatan diriku sendiri."
"Aku tidak peduli."
"Aku belajar memasak dalam waktu yang lama. Selama itu aku pikir kapan bisa menggunakannya dengan benar. Dan ternyata itu akhirnya terkabul. Karena kamu adalah orang pertama yang menikmati masakanku."
"Aku bilang, aku tidak peduli!"
Devan kemudian bangkit dan membawa segelas minuman, tidak lupa dia mengambil sesuatu dari saku celananya. Itu adalah sebuah pil. Dia menyerahkan keduanya kepada Fabian.
"Makan obatnya."
"Itu pasti racun, kan?"
"Alih-alih menyerahkannya kepadamu secara langsung. Sudah seharusnya aku menaruh itu dalam buburmu. Ini adalah obat pereda demam."
Devan mengulurkan obat itu. Perkataan Devan benar, seharusnya dia melakukan itu sejak lama. Fabian pun dengan kasar mengambil itu lalu memakannya. Obat itu rasanya seperti jeruk pada obat pereda demam anak-anak. Setelahnya dia mengambil gelas air dan meneguk airnya.
"Aku senang melihat dirimu patuh."
Fabian menatapnya tidak suka mendengar itu.
Setelahnya, Devan membersihkan barang-barang di atas nakas. Menaruhnya di atas nampan dan membawa itu bersamanya mendekati pintu.
Dia setengah membuka pintu lalu menoleh ke belakang, "Tentu saja aku akan merawatmu. Tidak mungkin aku membiarkan dirimu kesakitan. Selain itu, aku tidak mungkin ingin membunuhmu. Alasan aku membawa dirimu kesini bukan karena itu. Tapi, karena aku mencintaimu."
Suaranya hilang bersamaan dengan pintu yang ditutup.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Author Note : Pengakuan cinta? Sudah tidak denial lagi ya?😏
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Second Time |Fabian&Devan|
Fantasía🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Fabian sangat terobsesi dengan sehabatnya, Devan. Tapi, karena hal itu, hidupnya pun menjadi hancur. Itulah yang terjadi di k...
![[BL] Second Time |Fabian&Devan|](https://img.wattpad.com/cover/374041126-64-k75492.jpg)