Bagian#46

31.8K 2.6K 72
                                        

Sebenarnya bisa saja Fabian menusuk Devan dari hari pertama dia memecahkan beling, hanya saja itu terlalu beresiko.

Kemungkinan Fabian menang dari Devan sangatlah kecil. Kalaupun dia berhasil menyerang Devan, kalau dia tidak bisa melepaskan jerat rantai di kakinya dan menemukan kunci pintu, itu sama saja dengan sia-sia.

Makanya, Fabian mulai berperilaku patuh dan baik seperti yang diharapkan Devan. Fabian yakin dengan hal itu, Devan akan menurunkan kewaspadaan kepada Fabian. Menganggap Fabian sudah betah dan tidak mau pergi dari sisinya.

Fabian tersenyum semanis mungkin, sambil menyembunyikan kebusukan di dalam hatinya. Berpura-pura patuh dan baik tampaknya adalah hal yang benar dilakukan.

Namun, walaupun setelah semua rencana yang dilakukannya sejak hari pertama, pelarian dirinya tidak semulus itu.

"Ketemu."

Mendapati Devan ada di depannya, Fabian tidak berpikir panjang dan segera melarikan diri. Tanah di bawah sana yang becek ditambah ranting dan dedaunan sedikit menghambat Fabian berlari.

Tapi, sekilas tadi Fabian melihat kaki Devan yang masih bercucuran darah akibat tusukan beling. Fabian yakin, dia tidak mungkin mengejar Fabian secepat itu.

"Jangan melarikan diri, Fabian."

Fabian tidak mau mendengar suaranya, berusaha semakin menjauh dari sana. Namun, tiba-tiba tubuhnya ditangkap oleh seseorang dari samping. Belum sempat menyadari siapa yang menangkapnya, orang itu sudah memukul Fabian dengan keras di bagian perut, membuat kesadaran Fabian terenggut begitu saja.

Samar-samar dia mendengar suara langkah kaki yang mendekat, disusul suara omelan, "Seharusnya kau jangan memukulnya terlalu keras."

Baru saat itulah, kedua mata Fabian tertutup.

***

Ketika Fabian bangun, dia berada di dalam penjara itu lagi.

Perutnya terasa sakit, Fabian yakin akibat pukulan dari seseorang. Pasti itu telah meninggalkan bekas memar disana. Rasa sakitnya hampir menyebar keseluruh tubuh.

Kakinya yang berlari tanpa alas kaki, tubuhnya yang kehujanan, sudah dipastikan penampilannya begitu berantakan. Namun, dia entah kenapa merasa nyaman.

"Sudah bangun?"

Suara di samping mengalihkan perhatian Fabian, dia membalikkan tubuhnya dan mendapati Devan yang duduk di sofa panjang. Tampaknya itu dimasukan ke dalam ruangan ini saat Fabian tidak sadarkan diri.

"Kau! Kenapa tidak membiarkan aku pergi!"

Fabian bertanya dengan suara lemah, dia sangat lelah dengan semua ini. Pelariannya berakhir sia-sia. Apa yang telah direncanakannya.

"Devan, aku mohon kepadamu. Biarkan aku pergi dari sini."

"Tidakkah kamu bisa melakukan itu kepadaku?"

"Memangnya dosa apa yang membuatku pantas mendapatkan perlakuan seperti ini?"

Fabian begitu kalut pikirannya saat ini. Tidak hanya tubuhnya yang sakit, batin dan pikirannya pun sama. Dia merasa dunia ini telah runtuh. Dia tidak bisa memijak tanah dengan benar, tidak punya pilihan selain bergantung kepada Devan.

Tapi dia tidak mau.

"Ternyata kamu menggunakan itu untuk semalam."

Fabian berhenti dan menatap Devan tidak mengerti dengan kalimatnya. Devan duduk sambil menaruh salah kaki kanannya yang terluka di atas kaki kiri. Kaki yang terluka itu sudah dibalut oleh perban. Ada sedikit darah yang merembes dari dalam.

Devan mengeluarkan beling putih dari dalam kepalan tangannya. Darah tercetak di atas beling tersebut. Itu adalah beling yang Fabian pakai untuk menusuk lengan dan kaki Devan.

"Aku sedari awal berpikir di situasi seperti apa kamu akan memakai ini. Itu terjawab kemarin."

"... kau tahu?"

"Tidak ada yang tidak aku tahu."

Tapi kenapa? Fabian meringis menatap Devan. Seolah tidak mau percaya apa fakta baru yang telah didapatkannya ini.

"Kalau kau tahu, kenapa kau membiarkan aku menyimpannya!?"

"Kenapa kau tidak mengambil itu sejak awal?"

Devan seolah tengah mempermainkan Fabian. Fabian merasa dirinya seperti orang bodoh. Devan tahu semuanya tapi berpura-pura tidak tahu.

"Padahal, aku sungguh menyatakan cintaku padamu."

Entah kenapa, dibandingkan fakta kalau Fabian telah menyakitinya dan berusaha kabur, Fabian tidak menemukan jejak kemarahan. Dia malah menemukan Devan yang sedih. Seolah-olah pernyataan cinta dari Fabian yang palsu itu lebih penting dari kejadian setelahnya.

"Kau memangnya mengharapkan apa?"

"Kamu mencintaiku kembali."

"Tidak akan pernah!"

Setelah Fabian berusaha menunjukan cintanya, dia mengabaikan itu. Dan sekarang saat Fabian telah menyerah, dia meminta Fabian untuk kembali mencintainya?

"Memangnya aku apa? Bisa kau permainkan seenaknya!"

Devan hanya diam. Fabian sampai bingung harus bagaimana lagi mengungkapkan ketidaksukaan kepada Devan. Marah? Devan malah semakin senang. Mengeluh? Dia malah balik mengeluh.

"Aku hanya ingin kebebasan, Devan."

"Aku hanya ingin hidup bebas diluar sana."

"Seperti dulu lagi."

Tapi, sekarang itu tampak seperti sebuah harapan mustahil bagi Fabian. Dia dulu tidak menyangka kalau kebebasan itu begitu berharga. Pergi kemanapun sesuka hatimu. Bergerak dengan bebas. Tanpa ada alat atau siapapun yang menahannya.

"Tempatmu adalah disini."

Devan akhirnya buka suara lagi, wajahnya berusaha untuk tersenyum lebar. Tapi itu tampak aneh dan bengkok. Dia akhirnya berdiri dan berjalan dengan tertatih. Padahal semalam, saat dia mengejar Fabian, dia tidak berjalan seperti itu. Tampaknya dia berusaha untuk menahan rasa sakitnya itu.

Devan duduk di tepi ranjang bagian depan, dia berbicara dengan sangat lembut, "Aku begitu tulus mencintaimu Fabian."

"Kalau begitu, lepaskan aku!"

"Maaf, aku tidak bisa."

"Kalau begitu ini bukanlah cinta yang tulus! Melainkan obsesi!"

"Mungkinkah?"

Dia bertanya tampak tidak mengerti. Fabian mendengus pelan. Jadi, sudah dipastikan. Tidak bisa disangkal apapun lagi. Kenyataan kalau sekarang Devan berbalik terobsesi dengan Fabian. Bahkan lebih terobsesi dari pada Fabian sendiri.

Orang yang mencintainya dengan tulus tidak mungkin akan memaksa menculiknya dan mengurungnya disini. Dengan paksa mengurungnya di tempat seperti ini. Tidak diberi kesempatan untuk keluar.

"Aku telat menyadarinya."

Fabian mengerutkan kening mendengar itu. Devan menatapnya dengan tatapan dinginnya, tapi senyuman di bawah sana berusaha menipunya. Dia datang mendekat dan berusaha memeluk Fabian, mengabaikan dorongan dan pukulan bertubi-tubi padanya.

Darah segar sudah keluar dari bagian bahunya, tempat beling pertama kali menancap. Seolah mengabaikan itu, Devan terus memeluk Fabian. Membuat kehangatan diantara keduanya saling bertukar satu sama lain.

"Aku begitu mencintaimu dan terobsesi denganmu, Fabian."

"Aku mengakui itu sekarang."

"Kamu banar."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang