Bagian#14

55.4K 4.2K 107
                                        

Di bawah terik matahari, seluruh mahasiswa duduk sambil memakai berbagai jenis atribut penutup kepala. Berusaha menghindari matahari.

Saat ini, sudah memasuki jam istirahat. Mahasiswa baru duduk dan mulai membuka bekal makanan yang disuruh panitia. Namun, dari sekian orang yang membawa makanan, tentunya ada beberapa yang tidak membawanya, dan itu adalah Laura.

Dia terlihat menyedihkan, menatap seluruh teman-temannya makan dengan lahap. Namun, Fabian tidak mau membantunya. Walaupun dia kembali ke masa lalu, bukan berarti dia akan berubah baik kepada Laura.

Karena bagaimanapun juga, dia masih memiliki rasa cemburu yang mendalam di hatinya. Dan itu bukan sesuatu yang bisa diubah dalam semalam. Tapi, Fabian juga tidak akan tega berbuat jahat kepadanya. Dia hanya akan mengabaikannya saja.

"Laura, anak itu, aku kasihan melihatnya."

Tapi, tidak dengan Devan. Tentunya dia tidak akan bisa mengabaikan Laura. Malahan dia mulai menumbuhkan ketertarikan lewat rasa kasihan.

"Emm... bilang aja kamu memperhatikannya. Kami tahu, sedari tadi kamu melihatnya dengan lekat."

"Iya, Van. Kamu jatuh cinta pada pandangan pertama padanya."

Kedua teman Devan yang berada di kelompok yang sama mulai menggoda Devan. Devan hanya membalas dengan menggaruk tengkuknya dengan canggung. Mereka berdua terkekeh, saat menoleh ke belakang, mereka menatap Fabian dengan tajam. Memancarkan aura permusuhan.

Mereka seperti mengatakan, "Maka, berhentilah mengganggu Devan! Kamu tidak pantas untuknya!"

"Terserah." Gumam Fabian pelan.

"Aku akan membelikannya sesuatu."

"Itu bagus!"

"Ya! Cepat pergi."

Namun, sebelum Devan pergi, dia mendekati Fabian.

"Kamu mau sesuatu?"

"Tidak perlu."

Devan tidak memaksa Fabian yang menjawabnya secara acuh tak acuh. Dia lalu pergi. Fabian menatap kepergiannya.

Tidak berselang lama, Devan yang dipenuhi keringat akibat berlari datang mendekati Laura. Dia memberi Laura beberapa bungkus roti, makanan ringan dan minuman dingin.

"Makanlah ini. Jangan buat dirimu kelaparan."

"Eh, tidak usah repot Kak Devan."

"Ini tidak merepotkan. Terimalah dan makan dengan banyak."

"B-baiklah. Terima kasih Kak Devan."

Laura tersenyum sumringah, menatap Devan.

Devan di kehidupan lama dan sekarang tetap sama. Dia sama perhatiannya kepada Laura. Bahkan dia menjadi orang yang pertama inisiatif. Berbeda dengan Fabian.

Ketika ke Fabian, walaupun dulu mereka sudah bersahabat dan hubungan diantaranya baik, Devan tidak selalu menjadi orang yang berinisiatif. Selalu saja Fabian yang inisiatif. Entah itu memperhatikan Devan. Ataupun hal lainnya.

Kalau perhatian pun, dia hanya ingin agar dirinya tidak terganggu.

"Tsk."

Kalau saja Devan tidak memaksanya kembali, dia tidak akan melihat pemandangan ini lagi. Tapi, karena sudah disini, Fabian memilih menikmatinya walaupun drama percintaan di depannya begitu klise.

Fabian bangkit, dia merasa haus dan hendak pergi mencari minuman. Saat dia melewati Devan, dia menghentikan Fabian.

"Pergi kemana?"

"Kemana saja asal itu bukan tempat dimana kamu berada."

Saat dia melewati kerumunan mahasiswa, tidak sengaja kakinya menginjak kulit pisang yang diletakan secara sembarangan. Alhasil dia terjungkal ke belakang dan jatuh di atas makanan milik Laura.

"Astaga!"

"Ugh!"

Keributan datang dengan cepat karena kejadian memalukan itu, Fabian sangat ingin mengubur dirinya di dalam tanah sekarang juga. Tapi, tanah di bawahnya sudah di beton.

"Kamu baik-baik saja?"

Devan datang mendekat dan membantu Fabian untuk berdiri, tapi Fabian menepis tangannya. "Pergi. Aku tidak butuh bantuanmu."

Saat Fabian berdiri, dia merasakan kalau celana bagian belakangnya basah. Itu karena minuman yang terbuka.

"Pakai ini."

Kata Devan sambil menyerahkan jas almamater miliknya. Fabian mendorong itu.

"Ambil kembali. Aku tidak membutuhkannya."

Namun Devan tidak mau menyerah, "Jangan jadi keras kepala. Pakai ini."

Devan tidak lagi menyerahkan jas itu, melainkan melingkarinya di pinggang Fabian. Menutupi bagian belakang tubuhnya yang basah. Sontak hal itu membuat Fabian kaget. Apalagi semua mata tertuju padanya.

Fabian buru-buru pergi dari sana, saat melewati para panitia, mereka terang-terangan mencemoohnya.

"Lihat, dia kembali berulah."

"Ha... aku sudah tahu dia akan melakukannya."

"Sudah aku katakan. Kalau yang ada di dalam kamusnya itu adalah mencari perhatian Devan."

"Ya, sepertinya, perempuan itu adalah korban selanjutnya."

"Malangnya perempuan itu."

Fabian berusaha menutup kupingnya, dan mengabaikan semua cemoohan itu. Dia menundukan kepalanya lalu segera kembali ke mobilnya. Dia buru-buru pergi dari area kampus itu.

Di kehidupan sebelumnya, hal yang sama juga terjadi. Namun, dalam versi yang berbeda.

Waktu itu, Fabian sendiri lah yang melakukannya. Dia yang tidak suka melihat Devan memberi Laura makanan akhirnya menyambar semua makanan itu dan membuka bungkusnya. Lalu menumpahkannya ke seluruh tubuh Laura.

Rambutnya dan pakaiannya basah kuyup oleh cairan manis dan lengket. Kemudian makanan ringan menempel secara berantakan. Mengotori tubuhnya yang basah.

"Padahal aku tidak berniat melakukannya. Tapi, sekarang aku yang kena getahnya sendiri."

Dari pada itu, Fabian lebih malu lagi. Dia tidak tahu harus menaruh mukanya lagi dimana. Tapi, di masa lalu bahkan kejadian lebih buruk lebih terjadi. Dan dia tidak pernah malu. Mungkin kali ini, Fabian akan melakukan itu juga.

Fabian kembali ke rumah lebih awal daripada seharusnya. Karena masih di siang hari, kedua orang tuanya dan kakaknya tidak ada di rumah. Jadi, Fabian bisa lebih leluasa naik ke lantai atas.

Dia membersihkan dirinya, lalu membaringkan tubuhnya di atas kasur.

Walaupun hari ini masih siang, entah kenapa waktu berjalan lebih lambat daripada biasanya.

Fabian yang kelelahan dengan berbagai kejadian pun akhirnya tertidur pulas. Tidak tahu, kalau di tempat lain Devan mencarinya. Dan ketika menemukan Fabian sudah pergi dari kampus. Wajahnya terlihat marah dan dingin.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang