Bagian#2

87.4K 5.2K 45
                                        

"Awww, kepalaku sakit!"

"Apa yang sakit, Bian?"

"Segera periksa!"

"Kita pergi ke rumah sakit sekarang!"

Saat Fabian membuka matanya setelah sebelumnya menutup matanya karena rasa sakit tiba-tiba di kepalanya, Fabian menemukan dirinya tengah berada di meja makan bersama seluruh anggota keluarga.

"Kepala kamu sakit sayang?"

Fabian menoleh ke seberang, itu adalah wajah Ibunya yang terlihat sangat khawatir.

"Takutnya kenapa-kenapa, sebaiknya segera periksa," suara lembut dan khawatir itu datang dari samping. Tangannya menyentuh kepala Fabian dengan lembut. Itu adalah kakak Fabian, Brian.

"Nak, kalau kamu sakit. Kita pergi ke rumah sakit sekarang juga!"

Suara tegas dan keras itu datang dari pria paruh baya yang duduk di kursi kepala keluarga, ayahnya. Walaupun suaranya terdengar berat, sorot matanya menunjukan kalau dia sangat khawatir.

"Kenapa aku ada disini?"

Fabian bertanya dengan linglung. Dia kebingungan dengan situasi sekarang ini, sampai melupakan rasa sakit kepalanya yang semakin menjadi-jadi. Karena yang penting saat ini adalah fakta bahwa dia berada di ruang makan rumahnya.

"Ibu, bukannya kamu telah meninggal dunia?"

"Apa?"

"Astaga. Jaga ucapanmu Bian!"

"Jangan berbicara seperti itu, Bian."

Suara-suara dari ketiga orang di depannya semakin membuat Fabian pusing. Apa sekarang dia sudah tiba di alam baka dan berkumpul bersama keluarganya.

"Ya, sepertinya ini memang surga," gumamanya.

"Surga?"

"Apa katamu?"

"Apalagi ini?"

"Tapi, kalaupun ini adalah surga, kenapa ada Kak Rian dan Papa? Memangnya kalian sudah meninggal?"

"Omong kosong apa yang kamu katakan!"

"Kakak masih hidup Bian."

"Sayang kamu kenapa?"

Setiap kali Fabian berbicara, keluarganya silih berganti menanggapi. Dia benar-benar bingung. Mereka mengatakan kalau mereka belum mati. Tapi, kenapa Fabian bisa bertemu mereka?

Dia sangat yakin, kalau diingatan terakhir kali, Fabian menjatuhkan dirinya ke dalam lautan lepas. Apa sebenarnya dia telah diselamatkan? Dan kembali bersama keluarganya?

Tapi kenapa dia tidak memiliki ingatan apapun setelah itu?

"Ibu, Ayah, Kak Rian, apa sebelumnya aku selamat setelah jatuh dari tebing ke laut?"

"Jatuh dari tebing?!"

"Kapan itu terjadi? Kenapa kamu tidak menceritakan itu?!"

"Pantas saja kamu mengeluh sakit kepala?! Pasti karena itu?!"

"Tunggu!"

Suara teriakan Fabian membuat suasana riuh di meja makan mendadak diam. Fabian menatap Ibunya yang sudah di usia kepala 5 tapi masih terlihat sangat cantik dan terawat akibat perawatan yang sering dilakukannya.

Bukan seperti wajah pucat dan memiliki ekspresi datar dan dingin. Seperti terakhir kali Fabian ingat di pemakaman ibunya seminggu terakhir.

Dia melihat ayahnya, yang terakhir kali terbaring tidak berdaya di atas ranjang rumah sakit akibat stroke yang dideritanya. Tapi, sekarang ini, ayahnya masih terlihat sehat bugar walaupun rambutnya sudah sepenuhnya memutih.

Dan terakhir, Brian. Kakaknya masih memiliki penampilan yang rapi. Bukan seperti terakhir kali malam kemarin Fabian ingat. Wajahnya kusut, tampak tidak terurus. Mata panda yang besar karena kekurangan tidur akibat terlalu lama lembur di kantor dan tidak pernah pulang untuk membersihkan diri.

"Sayang?"

"Nak?"

"Bian?"

Semua orang memanggil nama Fabian. Ingatan Fabian tentang mereka semua seolah-olah itu hanya sebuah mimpi belaka. Tidak pernah terjadi di dunia nyata.

Tapi, Fabian sangat yakin kalau rasa sakit dari semua rentetan kejadian, itu semuanya nyata. Kalaupun ini bukan surga apa ini mimpi dari Fabian?

Anggota keluarganya tidak pernah tahu soal Fabian yang menjatuhkan dirinya. Otomatis, ini bukanlah masa depan.

"Nak, Sepertinya kamu harus segera dibawa kerumah sakit."

"Aku setuju, Pah!"

"Iya, Mamah juga!"

Kemudian Brian membantu Fabian untuk bangun, tapi Fabian menolak dan malah mundur. Menatap kembali seluruh anggotanya.

Dia sungguh tidak percaya ini.

Dia telah kembali ke masa lalu.

***

"Ibu, Ayah, Kak Rian. Aku hanya butuh istirahat saja."

"Kita ke rumah sakit saja."

"Iya, takutnya ada apa-apa denganmu."

"Iya sayang."

"Bain, baik-baik aja. Bian hanya butuh istirahat sebentar. Bian yakin, rasa sakit kepala ini akan segera hilang."

Fabian berusaha untuk membuat mereka semua percaya atas kata-katanya. Padahal rasa sakit kepalanya ini mulai terasa lebih intens dari pada sebelumnya.

Tapi Fabian tidak mau terlalu memikirkan itu. Karena kejadian sekarang ini sudah membuat kepalanya pusing dan berputar. Dia butuh waktu untuk mencerna semuanya.

"Baiklah, tapi kalau ada apa-apa segera bilang."

"Jangan memendamnya."

"Bilang ya nanti sama Mamah."

Fabian tersenyum hangat menatap semua orang yang mengkhawatirkannya. Mereka terlihat sangatlah tulus. Dia sudah lama sekali tidak merasakan ini semenjak kejadian 'itu'. Dulu dia tidak terlalu menganggap ini berharga. Karena dia terlalu sibuk dengan orang itu.

Tapi setelah kehilangannya sekali, dia sadar, kalau keluarganya lebih berharga dari apapun.

"Iya, Bian naik dulu ke atas."

Fabian masuk ke dalam kamarnya dan langsung berbaring di atas ranjang yang empuk. Dia begitu nyaman dan hangat di sini. Dia sudah lama tidak merasakan suasana ini. Dia benar-benar merindukan semuanya. Berbeda dengan perasaan gelap, dingin dan basah yang terakhir dialaminya. Itu sangatlah menakutkan.

Tapi, Fabian tidak mau terlalu berlanjut memikirkan itu.

Karena rasa sakit kepalanya mulai menjadi-jadi. Selama benerapa saat Fabian kewalahan dan hendak mengadu kepada ibunya. Namun sebelum itu, perlahan rasa sakit seperti ditusuk-tusuk itu menghilang.

Rasa kantuk pun mulai melanda. Tidak butuh waktu lama bagi Fabian hingga akhirnya bisa tidur tenang.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang