Ini adalah hari kebebasan Fabian.
Fabian begitu bersemangat, dia akhirnya bisa keluar dari kamar ini. Walaupun dia tidak sepenuhnya bebas, tapi itu jauh lebih baik daripada melarikan diri dengan Devan yang terus mengejarnya.
Itu sangat melelahkan.
"Kamu senang?"
Devan datang mendekat, Fabian mengangguk sambil tersenyum lebar. Sebagai balasan, senyuman perlahan juga tercetak di wajahnya. Dia kemudian memeluk Fabian dan mengecup bagian atas kepala Fabian.
"Kamu jauh lebih menawan ketika tersenyum."
Atas kata-kata manis itu, Fabian merasa malu dan mulai merasakan pipi dan telinganya memerah. Bahkan jantungnya sekarang berdetak dengan kencang. Begitu gugup dalam pelukan Devan.
Devan kemudian menarik tubuhnya. Lalu menarik kaki Fabian. Sebelum dia melepaskan rantai di kaki Fabian, dia sudah lebih dahulu membawa rantai lain yang sama besarnya. Hanya saja itu jauh lebih pendek. Mungkin kurang dari satu meter panjangnya.
Di kedua ujung rantai besi itu, terdapat sebuah borgol yang akan mencakup sesuatu. Devan membuka salah satu borgol dan memasangnya di kaki kanan miliknya. Sedangkan dia memasang yang lain di kaki kiri Fabian.
"Ini sebagai bentuk pencegahan."
"Tapi aku tidak akan kabur lagi, Devan."
"..."
Devan tidak membalas apapun, dan mulai melepaskan borgol rantai lain di kaki kanan Fabian yang tersambung dengan bagian belakang ranjang. Setelahnya dia mengangkat tubuh Fabian dan menaruh tubuh Fabian di atas pangkuannya.
Rona merah tercetak di tengkuk Fabian.
"Ada apa dengan posisi ini?"
"Tidak perlu malu."
"Biarkan aku turun!"
"Hehe... kamu begitu manis."
Devan kemudian menurunkan Fabian. Mereka berdua bergandengan tangan lalu berjalan keluar. Devan mengeluarkan kunci dari saku celananya lalu membuka pintu.
Keduanya sekarang berada di lorong panjang dan sedikit gelap. Sebelumnya Fabian juga melewati area ini ketika melarikan diri. Saat berlari dia merasa lorong ini begitu panjang tapi, Tapi ketika dia berjalan bersama Devan, dia merasa itu tidak terlalu panjang. Mungkin itu adalah ilusi ketika dia panik.
Di sepanjang lorong, Fabian menemukan beberapa pintu. Entah ruangan apa di balik pintu-pintu itu. Mereka berdua terus berjalan sampai bertemu tangga.
Berdiri di tempat sekarang, Fabian baru tahu kalau sekarang sudah sore hari. Cahaya matahari berwarna jingga—yang Fabian sendiri tidak tahu kapan terakhir melihatnya—masuk melalui celah jendela besar tanpa gorden.
Menerangi seluruh ruangan di lantai pertama. Sambil menuruni tangga, Fabian memperhatikan seluruh isi rumah yang terbuat dari kayu mahal. Terlihat sangat mewah di tengah-tengah hutan lebat.
Berbeda dengan terakhir kali, Fabian sekarang bisa tahu kalau setiap barang yang ada di rumah ini terlihat antik. Seperti peninggalan jaman dahulu. Membawa sedikit nostalgia.
"Agh!"
Fabian terkejut saat kakinya terpeleset, namun sebelum hal mengerikan terjadi, Devan sudah lebih dahulu menangkap tubuhnya.
"Berhati-hatilah dan perhatikan langkahmu."
Fabian mengangguk pelan, kemudian keduanya sampai di lantai bawah. Devan membawa tubuhnya pergi ke dapur. Di sana, dia mengambil teko yang berisi air hangat. Menaruhnya di atas nampan. Lalu dua gelas serta cemilan.
"Sore hari enaknya ngeteh, benar?"
Fabian mengangguk pelan. Devan memimpin Fabian. Berjalan menuju bagian belakang rumah. Setiap melewati rumah, Fabian tidak bisa berhenti menganggumi barang-barang yang dilihatnya.
Ketika Devan mendorong pintu besar, sebuah hutan lebat di bawah sana menyambut mereka berdua. Tepat di salah satu sisi ada sebuah meja dan dua kursi.
"Duduklah."
Devan menarik kursi lain agar saling berdekatan dengan kursi yang didudukinya. Setelah duduk, Fabian memejamkan matanya, udara segar dan sejuk yang telah dilupakannya sekarang kembali menyelimuti tubuhnya. Apalagi sinar matahari di sore hari juga tidak terlalu menyengat, namun cukup hangat.
"Merasa lebih baik?"
Fabian mengangguk pelan, "Ya. Ini luar biasa."
Devan tersenyum lembut. Kemudian menuangkan teh ke dalam cangkir gelas. Aroma teh melati yang semerbak bercampur dengan aroma hutan yang lembab.
Fabian menyeruput teh yang sudah suam-suam kuku. Sesekali dia memakan camilan yang tersedia. Sambil melihat pemandangan hutan lebat di bawah sana.
"Sepertinya ini adalah pertama kalinya kita bersantai seperti ini."
Fabian menoleh ke samping. Dia setuju akan hal itu. Baik di kehidupan pertama dan kedua, Fabian tidak pernah sesantai ini dengan Devan. Fabian selalu datang mencari Devan dan mengganggunya. Tanpa tahu apakah Devan benar-benar nyaman bersamanya.
Namun, lupakan saja. Tidak perlu mengingat yang telah berlalu. Yang terpenting ini adalah sekarang. Saat ini jauh lebih penting dari pada masa lalu.
Kapan lagi dia bisa bersantai bersama Devan?
"Jika kamu semakin bersikap baik, bukan tidak mungkin aku akan membawamu menjelajahi hutan ini."
"Benarkah?"
"Ya. Kamu belum tahu saja, kalau di dalam hutan ini banyak area yang sangat indah dan mengagumkan. Terakhir kali kamu tidak bisa melihatnya karena hujan dan gelap."
Fabian tersenyum canggung. Devan masih belum mempercayai Fabian seutuhnya. Tapi, itu masuk akal. Setelah Fabian berusaha kabur satu kali, kemungkinan untuk kabur kedua kalinya pasti ada. Fabian yakin itu adalah pikiran Devan.
"Devan, aku mau tanya sesuatu."
"Katakanlah."
"Kamu bilang kamu mencintaiku dan terobsesi denganku. Lebih tepatnya, sejak kapan?"
Devan tidak langsung menjawab, dia memilih untuk diam seperti tengah memilah kata-kata yang ingin diucapkannya. Tapi Fabian di sisi lain merasa tidak sabar dengan jawaban Devan. Karena kalau dia sudah terobsesi dengan Fabian sejak Fabian pergi dari Indonesia, kenapa dia tidak dari dulu mengurung Fabian? Kenapa harus saat Fabian pulang sendiri ke Indonesia.
"Kamu mungkin tidak akan percaya dengan apa yang akan aku katakan."
Fabian mengerutkan keningnya ketika mendengar suara tertahan itu. Devan berbicara dengan nada lemah dan getir. Dia seperti orang yang tampak bersalah akan sesuatu.
"Sebenarnya—"
"Diam di tempat!"
Seruan keras terdengar dari belakang tubuh keduanya, Fabian tiba-tiba membeku karena terkejut dan ketakutan mendengar suara keras dan tajam itu. Tapi, Fabian penasaran dengan suara yang sedikit dikenalnya itu. Dia perlahan menoleh ke belakang.
Hanya untuk menemukan Heri tengah menodongkan pistol ke bagian belakang kepala Devan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Author Note : Hah?!😨
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Second Time |Fabian&Devan|
Fantasia🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Fabian sangat terobsesi dengan sehabatnya, Devan. Tapi, karena hal itu, hidupnya pun menjadi hancur. Itulah yang terjadi di k...
![[BL] Second Time |Fabian&Devan|](https://img.wattpad.com/cover/374041126-64-k75492.jpg)