Bagian#21

52.7K 3.9K 68
                                        

Ketika Axel menemukan Fabian, dia tengah berada di tepian danau. Duduk sambil melemparkan batu kerikil ke atas danau. Dia tampak memiliki banyak pikiran.

"Fabian?"

Fabian menoleh pada panggilan ketiga. Dia mendapati Axel yang kemudian duduk disampingnya. Dia juga membawa batu kerikil di tangannya. Dia mulai mengikuti Fabian dan melemparkan batu ke atas danau, membuat beberapa percikan di atasnya.

"Ternyata duduk disini nyaman juga. Bagaimana kamu bisa menemukan tempat ini?"

Padahal ini adalah danau kampus, berada di salah satu sisi kampus dan menjadi salah satu tempat strategis. Banyak orang yang sering melewati area ini. Tapi memang tidak banyak yang duduk dan menghabiskan waktu di tepian danau.

Fabian menghela nafas pelan kemudian tersenyum tipis. Dia kembali melempar batu ke atas danau, hanya saja lemparannya perlahan mulai melemah hingga di batu terakhir yang dimilikinya, dia memegang batu itu sekuat tenaga digenggamannya.

Dia menoleh ke samping, Axel masih diam. Seolah mengerti kalau Fabian sedang tidak dalam suasana yang ingin berbicara. Entah kenapa dalam kesunyian ini Fabian merasakan kenyamanan.

"Kak Axel."

Axel menoleh ke samping mendengar suara pelan Fabian.

"Karena kelas sudah berakhir, aku bisa memanggil Kak Axel lagi kan?"

Axel perlahan tersenyum dengan lebar, dia mengangguk setuju, "Tentu. Aku senang mendengarnya."

"Apa Kak Axel tidak akan bertanya apapun padaku?" Tanya Fabian, malah dia sendiri yang tidak tahan. Bukan sebaliknya.

"Aku akan menunggu sampai kamu mengatakannya sendiri."

Fabian menatap Axel dengan lekat, baru kali ini dia menemukan orang seperhatian Axel. Mungkin Devan dulu juga orang yang perhatian, tapi dia tidak seperhatian Axel. Apalagi setelah Fabian menyatakan cintanya kepada Devan.

"Kadang kala, aku berpikir, apa seharusnya aku tidak pernah melakukannya."

Axel menatap Fabian, Fabian diam sambil memeluk lututnya dan menatap danau yang memantulkan cahaya jingga dari matahari di sore hari. Fabian tampak begitu rapuh dan cantik secara bersamaan.

"Apa kamu menyesal tentang sesuatu?"

Axel menatap ke depan, mengikuti Fabian. Menikmati riak air di danau yang dibuat oleh lemparan batunya.

"Semacam itu."

"Aku rasa, jika aku tidak pernah melakukannya, hubungan diantara kami berdua tidak akan seburuk sekarang ini. Mungkin kami masih menjadi sahabat yang saling mendukung satu sama lain. Berada di sisi masing-masing sewaktu membutuhkan. Menemani ketika suka ataupun duka."

Suara Fabian terdengar sangat pelan dan lemah, seolah keluar dari orang yang lelah menghadapi beratnya dunia. Padahal ini hanyalah masalah sepele.

Cinta, semua orang pernah merasakannya.

"Tidak seperti sekarang ini. Hubungan kami begitu buruk. Sampai aku bingung harus menjelaskannya dengan apa. Semuanya keluar dari jalur yang seharusnya. Aku tidak tahu harus dari mana dulu untuk memperbaikinya. Aku..."

Tiba-tiba suara Fabian menjadi tertahan, Axel menoleh dan melihat kalau Fabian tengah menyembunyikan wajahnya diantara kedua lututnya. Tubuhnya pun sedikit bergetar. Dia pun mengulurkan tangannya dan mengusap pundak Fabian selama beberapa saat.

Setelah Fabian bisa menahan tangis keluar dari kedua matanya, dia bangun lagi. Dan bertemu dengan tatapan Axel yang hangat. Senyumannya pun begitu cerah. Layaknya sinar mentari di sore hari.

"Apa yang sudah terjadi. Biakan terjadi. Lupakan apa yang terjadi di masa lalu, dan lihatlah masa depan. Mungkin ini terdengar seperti kata-kata seorang motivator yang berbicara omong kosong. Tapi, aku sungguh-sungguh dengan kalimatku."

"Aku tahu, Bian adalah orang yang bisa menghadapi semuanya. Bian bisa melewatinya. Bian adalah anak yang kuat. Anak yang ceria."

Kalimat Axel terdengar seperti angin sepoi-sepoi begitu sejuk dan menenangkan hati Fabian yang tengah berat saat ini. Fabian perlahan tersenyum.

"Seperti ini. Aku suka dengan Fabian yang tersenyum manis seperti ini."

"Senyuman sangat cocok di wajahmu."

Bahkan Devan tidak pernah semanis ini kepadanya, tapi kenapa Axel orang yang belum dikenalnya baru ini sudah sebaik ini kepadanya. Memperlakukannya dengan begitu hangat dan penuh perhatian.

Fabian merasa dirinya yang buruk ini tidak layak memiliki Axel sebagai temannya.

"Kenapa aku tidak pernah bertemu Kak Axel di masa lalu?"

Suara Fabian terdengar getir, dia pikir, jika mereka bertemu di kehidupan pertama, mungkin saja dia tidak akan mengalami apa yang telah dilakukannya. Dengan begitu dia tidak akan terobsesi dengan Devan dan bertemu orang yang baik.

"Kamu terdengar seperti orang di kehidupan kedua atau semacamnya."

Fabian menghirup udara banyak-banyak kemudian mengeluarkannya, "Kalau Kak Axel diberi kehidupan kedua, apa yang akan Kak Axel lakukan?"

Axel mengerutkan keningnya, "Ada apa dengan pertanyaan ini?"

"Jawab saja, Kak Axel."

"Mungkin aku akan membuat bisnis yang di masa depan akan sukses. Kemudian berinvestasi pada banyak hal yang di masa depan harganya akan melonjak. Atau, aku mungkin aku akan mendatangimu dan berteman denganmu sejak kecil."

Fabian terkekeh saat mendengar bagian terakhir dari kalimat Axel.

"Aku bersungguh-sungguh dengan kalimat terakhirku." Ucap Axel seolah mengerti respon Fabian.

Fabian diam selama beberapa saat, lalu menjawab dengan suara pelan, "Bukan ide buruk."

Setelahnya mereka menatap danau selama beberapa waktu ke depan. Langit yang berwarna jingga pun perlahan berganti menjadi gelap, baru saat itulah Fabian bangun.

"Kak Axel benar. Apa yang berlalu, biarkanlah berlalu. Apa yang seharusnya dibelakang biarkan dibelakang."

"Ayo menatap masa depan!"

Axel tersenyum melihat Fabian yang mengepalkan tangannya sambil mengangkat tangannya ke atas. Seperti seseorang yang siap berjuang di medan perang mempertaruhkan nyawanya demi negara tercintanya. Melawan penjajah yang selama ini menindas.

"AYO!"

Fabian menoleh dan terkekeh melihat Axel yang mengikutinya. Mereka berdua tertawa dengan begitu lepas. Tidak tahu kalau di belakang mereka ada sepasang mata dingin dan tajam yang memperhatikan sejak awal.

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

Siapa itu👀

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang