Sebelumnya saya mau promosi dulu nih,
Bagi kalian yang belum tahu, berikut ini adalah milik saya:
Sun🌻
Instagram — sunissoshine
Karyakarsa — sunissoshine
Trakteer — sunissoshine
https://taplink.cc/sunissoshine
Terima kasih
Happy Reading🌷
________________________________
"Jangan menyerah, ada aku disini."
Fabian menoleh menatap Axel. Dia membalasnya dengan tersenyum hangat. Seolah memberikan rasa nyaman kepada Fabian. Tidak hanya itu, tangan kirinya memegang erat kedua tangan Fabian. Dan tangannya yang lain mulai mengusap kepala Fabian dengan lembut.
"Aku akan terus menemanimu Fabian."
"Jadi, berhenti berpikir kamu hanya sendirian."
"Karena dengan aku ada di sisimu, bukankah itu sudah lebih dari cukup?"
Fabian menelan ludahnya dengan berat hati. Axel mungkin mau menemani Fabian. Tapi, Fabian merasa dirinya tidak layak untuk Axel. Dia terlalu baik untuk Fabian yang tidak berguna ini.
"Tidak. Aku tidak pantas untuk Kak Axel."
"Kamu tidak bisa menentukan aku pantas untukmu atau itu. Akulah yang berhak, Fabian. Tidak perlu merasa rendah diri."
Tapi, Fabian tidak mau. Lagipula jika Axel mencintainya, Fabian merasa tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Dia begitu takut. Dia tidak sanggup kalau harus melakukan sesuatu yang mungkin saja akan menyakitinya lagi.
"Aku berjanji, Fabian. Aku akan menjagamu dengan sepenuh hatiku. Merawatmu dengan penuh kesabaran. Aku tidak menuntut kamu untuk menerimaku sekarang juga, tapi biarkan aku mencoba terlebih dahulu."
Axel bahkan lebih gigih daripada sebelumnya. Tidak mau menyerah terhadap Fabian yang sudah hilang arah. Di sisi lain Fabian tidak tega juga kepada Axel, tapi dia benar-benar merasa tidak layak.
"Biarkan aku memikirkannya nanti."
Axel mengangguk mengerti. Lagipula situasi saat ini bukan waktu yang tepat. Fabian baru saja berduka atas keluarganya. Apalagi situasi dirinya sebelumnya juga buruk. Fabian butuh waktu untuk menenangkan dan menata hidupnya kembali.
"Sebaiknya kamu beristirahat saja di dalam mobil. Kita akan berangkat di pagi hari nanti. Kamu pasti masih lelah, kah?"
"Ya."
Setelahnya Fabian duduk di kursi penumpang bagian depan. Dia menyandarkan tubuhnya ke kursi mobil. Axel dengan teliti menyelimuti Fabian. Karena hal itu, Fabian merasa sedikit nyaman.
Tidak lama setelahnya, Fabian tertidur kembali. Hanya saja, kali ini dalam tidurnya air mata tidak berhenti turun.
***
Saat Fabian bangun, perasaan berat masih ada di dadanya. Apalagi wajahnya basah oleh air mata. Karena sepanjang tidur dia memimpikan keluarganya. Menyesali semuanya karena tidak bisa ada di sisi mereka di waktu yang sangat kritis seperti itu.
Menoleh ke samping, dia tidak menemukan Axel di sana. Namun, saat melihat ke depan. Di bagian luar. Dia melihat dia orang yang tengah bersama. Api unggun yang tadi masih menyala sekarang sudah padam, walaupun begitu cahaya dari bulan membuat wajah iblis itu jelas terlihat.
Fabian mengepalkan kedua tangannya dengan erat, kali ini dia kembali merasakan tusukan belati di hatinya. Melihat Axel dan Devan berbicara. Mereka terlihat akrab. Fabian merasa dikhianati untuk kesekian kalinya.
Dia mengira kalau Axel adalah sosok malaikat yang mau membantunya, namun diam-diam menyerahkan Fabian kepada Devan. Fabian begitu marah. Dia dengan kesal membanting pintu mobil.
Keduanya melihat ke arah Fabian yang sudah bangun. Fabian menatap Axel dengan tatapan tajam.
"Tidak. Tunggu Fabian. Aku bisa jelas—"
"Kalian semua sama saja!"
Setelah berseru, Fabian berlari untuk menghindari Devan dan Axel. Dia tidak mau terus bersama orang yang gila. Karena takut dirinya akan terpapar juga.
Fabian terus berlari dibawah cahaya bulan, terus mendorong tubuhnya yang semakin lemah. Meninggalkan kedua orang yang sudah menyakitinya. Pertama sudah membawa nasib buruk padanya, dan yang lain, telah mengkhianati kepercayaan yang hampir Fabian bangun.
Tadi pikirannya tidak terlalu jernih, namun sekarang Fabian sadar kalau dirinya yang bertemu dengan Axel secara kebetulan itu tampak janggal. Bagaimana mungkin, Fabian yang tiba-tiba jatuh tebing segera ditemukan oleh Axel.
Axel entah datang dari mana, dia bahkan tidak menjelaskan kenapa bisa ada disini. Daerah ini juga sepi. Mustahil bagi Axel ada disini kalau bukan karena Devan yang menyuruhnya.
"Namun kenapa?"
"Kenapa dia seperti ini kepadaku juga?"
"Lalu siapa yang perlu aku percayai sekarang ini?"
Fabian menangis sambil berlari, air matanya terjatuh di sepanjang jalan yang dilaluinya. Fabian sudah tidak tahu kemana arah dia pergi. Dia hanya ingin terus bergerak.
Tidak mau mereka menemukan dirinya.
Fabian sudah tidak mengharapkan bantuan orang lain. Yang bisa dipercayai sekarang hanyalah dirinya sendiri. Dia tidak mungkin akan mengkhianati diri sendiri.
Bertemu dengan jalan buntu, Fabian berbelok ke arah lain. Menyusuri hutan dan jalanan yang sedikit terjal. Bebatuan licin beberapa kali diinjaknya dan hampir membuat dirinya jatuh.
Fabian tidak berhenti. Apalagi saat mendengar deburan ombak di depan. Dia terus bergerak untuk melihat laut di depan.
Untuk waktu yang lama, Fabian akhirnya bisa melihat laut di bawah sana. Ternyata dia berada di sebuah tebing. Dan ombak ganas di sana menabrak tebing dengan keras. Seolah berusaha membawa Fabian untuk kembali datang.
Ini sama seperti kehidupan pertama.
Dia berdiri di atas tebing, di bawahnya laut dengan ombak ganas. Di atasnya langit gelap disinari oleh cahaya bulan. Angin yang berhembus juga dingin. Membuat tubuhnya menggigil.
Selanjutnya, petir terlihat datang entah dari mana. Suara gemuruh yang mencekam segera menyusul. Beberapa rintik air hujan juga telah turun.
Fabian menyeringai pelan.
Bagaimana pun usahanya untuk membuat kehidupan kedua agar tidak sama dengan kehidupan pertama, itu percuma saja. Tindakannya malah semakin memperburuk keadaan.
Dia tidak bisa mengubah masa lalu atau masa depan sekalipun.
"Fabian."
Benar. Devan pasti akan menemukannya. Seberapa keras pun usaha Fabian untuk menghindarinya, pada akhirnya dia akan menemukannya lagi. Dari pada terus menghindarinya—Fabian juga sudah lelah, lebih baik menghadapinya saja.
Fabian memutar tubuhnya dan bertemu dengan tatapan Devan.
"Kau pembunuh keluargaku!"
Karena semuanya akan kembali terulang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued
Author Note : My poor little baby Fabian😭
KAMU SEDANG MEMBACA
[BL] Second Time |Fabian&Devan|
Fantasy🌻 Bagi teman-teman yang mau baca karya saya dalam bentuk pdf, hubungi saya lewat aplikasi Line dari link di profil saya.🌻 Fabian sangat terobsesi dengan sehabatnya, Devan. Tapi, karena hal itu, hidupnya pun menjadi hancur. Itulah yang terjadi di k...
![[BL] Second Time |Fabian&Devan|](https://img.wattpad.com/cover/374041126-64-k75492.jpg)