Bagian#8

63.6K 4.8K 75
                                        

Devan memang luar biasa.

Seberapa keras pun usaha Fabian untuk tidak melirik Devan yang ada di dalam kolam renang, itu tidak bisa dihindarinya. Padahal Fabian berusaha untuk fokus memperhatikan kakaknya.

Teknik Devan jauh lebih baik dibandingkan kakaknya, apalagi beberapa kali Devan bisa mengungguli dan menyalip kakaknya.

"Aku tahu, dia memang dewa air."

Fabian tersenyum dengan puas setelah mengatakan itu. Devan memang sangat cocok dengan julukan dari dirinya sejak kecil itu.

Sejak kejadian di dia berkenaln dengan Devan, Fabian kecil kembali merengek kepada kedua orang tuanya. Memintanya dipindahkan ke sekolah Devan. Kedua orang tuanya awalnya tidak tahu apa alasannya namun tetap menuruti perkataan Fabian kecil.

Fabian akhirnya bisa mengikuti Devan di sekolah barunya.

"Aku memang tergila-gila padanya sejak kecil."

Mengingat masa lalu, malah membuat Fabian merasa bernostalgia. Ada perasaan miris, kecewa dan hal-hal lain tercampur di dalamnya.

Fabian duduk di kursi pinggir kolam. Tidak ada banyak orang di gedung olahraga renang ini, mungkin karena malam dan di akhir pekan. Jadi, orang/orang lebih suka menghabiskan waktu mereka di luar.

Di ujung kolam, Devan mulai muncul dari dalam air bersama kakaknya. Keduanya terlihat mengobrol beberapa hal. Tapi, Fabian tidak terlalu peduli itu.

Fabian lebih memperdulikan penampilan Devan yang sangat mempesona. Akibat latihan belasan tahun, tubuhnya jauh lebih tinggi dari pada kakaknya. Memiliki otot yang sempurna. Dibalut air yang terus mengalir.

Struktur wajahnya tidak jauh berbeda ketika di masa depan. Dia tetap tampan dan sempurna. Apalagi bahu lebarnya itu sangatlah menggoda.

Naik ke atas dan ingin mengagumi wajah Devan lebih lanjut, malah bertemu dengan tatapan Devan.

"Astaga!"

Tidak sadar, Fabian yang melongo akhirnya tersadar akibat bertemu tatapan Devan. Dia segera menghindari tatapan itu dan berbalik ke belakang. Jantung berdetak dengan kencang dan pipinya sudah memerah seperti terpapar sinar matahari.

"Memalukan saja!"

Seru Fabian kepada dirinya sendiri karena menatap Devan dengan lapar. Pasti Devan sudah mengetahui itu!

Akhirnya sepanjang waktu, Fabian mengalihkan perhatiannya dengan bermain ponsel. Sampai dia merasakan kehadiran seseorang di dekatnya.

"Fabian."

Itu suara kakaknya saat Fabian menoleh. Kakaknya terlihat sangat basah dan mulai kedinginan dan kelelahan.

"Kamu tunggu disini. Kakak ganti pakaian dulu."

"Ya."

Setelah kakaknya masuk ke ruang ganti, Fabian menaruh ponselnya. Dia memperhatikan dan tidak melihat siapapun di dalam kolam. Mungkin Devan sudah pergi sejak tadi.

Fabian akhirnya mendekati kolam, dia selalu saja terpesona dengan kolam ini. Sama seperti dulu, dia merasakan ada sesuatu yang menarik minatnya untuk datang.

Walaupun ada sedikit rasa takut karena dulu pernah terjatuh di tempat yang sama, Fabian mengabaikan itu. Merasa dia sekarang sudah dewasa dan bisa menyelamatkan dirinya sendiri.

Fabian akhirnya mendekati kolam. Melepaskan kedua sepatunya, menarik celananya sampai selutut, kemudian memasukan kakinya ke bawah. Perasaan dingin, basah langsung menyebar dari kakinya menuju ke atas.

Senyum senang terukir di wajahnya, dia kemudian bermain dengan air. Menarik kakinya naik ke atas dan kebawah secara bergantian.

Namun, di momen yang menyenangkannya itu, Fabian tiba-tiba merasakan tubuhnya ditarik ke belakang secara paksa.

"Ehh!"

Fabian terkejut dan sampai kehilangan keseimbangannya laku akhirnya terjatuh di atas lantai. Saat dia menoleh, ada Devan disana."

"Apaan sih! Menarik secara kasar dan sembarangan! Kamu gila ya!"

Seru Fabian dengan kesal kepada Devan. Devan yang rambutnya turun ke depan membuat tatapan matanya jauh lebih tajam dan dingin dari sebelumnya.

"Kamu yang gila. Apa yang kamu lakukan di pinggiran kolam sendirian."

Devan balas dengan tajam kepada Fabian.

"Kenapa kamu yang marah! Harusnya aku! Aku yang marah! Aku sampai jatuh!"

"Salahmu sendiri duduk di pinggiran kolam."

"Apa yang salah tentang itu?"

Fabian sungguh tidak mengerti dengan Devan. Devan akhirnya berjalan mendekat, Fabian sontak merasa tidak asing dengan dengan situasi sekarang. Dia didorong ke belakang. Berusaha untuk menghindari aura gelap yang datang.

"Berhenti."

Devan memegang bahu Fabian, menghentikan Fabian yang terus mundur. Saat satu tangannya memegang bahu Fabian dengan erat, tangan lainnya memegang kepalanya. Devan seolah tengah kesakitan disana. Wajahnya juga terlihat pucat entah karena tadi di dalam air terus menerus atau karena hal lain.

"Lepaskan!"

Fabian mendorong tangan Devan di bahunya. Lalu menatap Devan dengan kesal.

"Ada apa denganmu?"

Tanya Fabian khawatir yang sedari tadi melihat Devan memejamkan matanya. Tapi setelah itu Devan terlihat baik-baiknya.

"Tidak bisakah kau diam dan tidak mengacau?"

"Dengar. Aku tidak pernah membuat kekacauan apapun!"

Fabian tidak terima tiba-tiba di peringati Devan seperti itu. Padahal dia tidak melakukan apapun. Hanya menonton dari pinggiran dan bermain dengan air kolam.

"Kau sengaja datang kesini bukan karena datang bersama kakakmu. Kau hanya menggunakan itu sebagai alasan kan? Supaya kau bisa mengamatiku dari samping dan membuat sesuatu yang akan menarik perhatianku?"

Fabian mendengus kecil.

"Kamu tahu Devan. Kamu mungkin adalah orang yang aku sukai, tapi jangan berpikir dunia berputar di sekitarmu."

"Setelah apa yang kamu lakukan selama ini?"

Katanya dengan wajah mengejek. Seolah apa yang dikatakan Fabian adalah omong kosong belaka saja. Fabian mengerti itu.

"Ya, aku akui diriku memang telah melakukannya. Tapi, aku tidak akan pernah melakukan itu lagi!"

"Apa aku bisa memegang kata-kata itu?"

Devan masih terlihat ragu dan meremehkan omongan Fabian.

"Ya, karena kamu bukan duniaku lagi."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang