Bagian#52

26.6K 2.1K 100
                                        

Menekan rasa takutnya setelah mendengar tembakan, Fabian kembali berlari menuju gerbang yang kali ini terkunci dengan rapat. Gerbang besi yang tinggi dan tebal itu digembok. Tidak ada kunci yang terlihat untuk membukanya. Dan Fabian disini takut akan kemungkinan yang akan terjadi selanjutnya.

"Ah, Sial! Kenapa tidak bisa dibuka!"

Bahkan jika dia memukul gembok itu dengan batu, itu masih tidak bisa terbuka juga. Fabian menggigit bibirnya karena gelisah.

Di keadaan mendesak seperti itu, tiba-tiba dia merasakan seseorang datang dari belakang tubuhnya. Fabian yang mendengar suara langkah kaki, membayangkan itu adalah Devan. Fabian berbalik secara perlahan. Jantungnya sudah berdetak begitu kencang.

"Biarkan aku yang membukanya."

Atas pernyataan itu, Fabian mendapati seorang pria bule dengan rambut pirang dan mata biru. Warna cerah itu cukup menyilaukan mata ketika terkena cahaya matahari.

"P-philip?"

Fabian tergagap, seolah tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya ini. Dia adalah tetangga di gedung apartemen yang sama selama dia tinggal di Inggris. Orang yang selalu saja mengganggu Fabian dan lebih banyak menghabiskan waktunya di apartemen Fabian.

"Iya, aku Philip."

Katanya dengan lugas, setelahnya gembok yang ada di tangannya terbuka secara sempurna. Gerbang besi yang berat itu kemudian di dorong oleh tubuhnya.

"Ayo pergi!"

Tanpa menunggu jawaban Fabian, Philip segera menarik tangan Fabian. Fabian yang masih kaget dengan semua kejadian ini, tidak berdaya dibawa oleh Philip.

Baru ketika Philip berhenti tepat di sebuah mobil hitam, Fabian kembali tersadar. Dan melepaskan tangannya dengan kasar.

"Ada apa ini Philip? Kenapa kau bisa ada disini?!"

"Masuklah."

Philip membuka pintu mobil di sisi penumpang.

"Jelaskan padaku sekarang ini!"

Fabian benar-benar bingung. Dia merasakan dirinya tiba-tiba linglung. Karena tetangga apartemennya bisa ada di Indonesia. Lebih anehnya lagi dia berada di area rumah Devan. Tempat Fabian dipenjara selama ini.

"Masuklah, akan aku ceritakan nanti."

"Sekarang?!"

Fabian berseru dengan keras, dia merasa kesal dan berbagai hal membingungkan tercampur aduk bersama.

"Cepat naik, atau Devan akan segera menyusul!"

Mendengar seruan Philip, Fabian menoleh ke belakang. Disana, tepatnya di depan pintu rumah kayu, Devan baru saja keluar. Tatapan tajamnya itu bahkan bisa sampai pada jarak yang jauh.

Dia masih hidup.

Jadi, yang mati...

"Ayo, Fabian!"

Fabian tidak lagi membuang waktu, dia segera masuk dan duduk di kursi penumpang. Dan Philip di sisi lain juga segera masuk dan menghidupkan mobil. Mobil hitam itu segera melaju melewati jalan tanah yang kering.

Fabian menoleh ke belakang untuk memastikan Devan belum mengejarnya. Baru setelah mobil yang dikendarai Philip semakin jauh meninggalkan rumah kayu itu, Fabian bisa sedikit bernafas lega.

"Ini benar-benar gila!"

Setelah mengatakan itu, dia langsung menoleh ke samping. Tadi, dia tidak terlalu memperhatikan Philip dengan benar. Tapi, sekarang dia bisa tahu kalau wajah Philip memiliki luka lebam di beberapa tempat. Tidak sebanyak Heri, namun itu cukup parah.

"Aku butuh penjelasan."

Philip meringis di tempatnya, kedua matanya fokus melihat jalanan berkelok di depan. Tidak ada rumah yang terlihat atau dilewati sepanjang jalan. Hanya ada hutan lebat.

"Aku minta maaf untuk semuanya."

"Katakan dengan benar!"

Suara Fabian mendesak, dia tidak butuh permintaan maaf untuk suatu kesalahan yang tidak diketahuinya. Alasan dibalik permintaan maaf sekarang ini jauh lebih penting. 

"Sedari awal aku tinggal di apartemen itu kemudian menjadi tetanggamu dan berusaha untuk dekat denganmu. Itu semua bukanlah kebetulan. Aku sudah merencanakan semuanya. Tidak, lebih tepatnya, Dia  yang merencanakan ini semua."

"...apa?"

"Sebelum aku tinggal di apartemen itu, dua tahun sebelumnya aku memantau kamu. Mulai dari memperhatikan kamu pergi kemana saja, kamu tengah melakukan apa, tengah bersama siapa, pada waktu apa dan hal-hal lainnya."

"KAU PENGUNTIT!"

"Ya, aku."

Fabian mendengus pelan, seolah tidak percaya kenyataan ini. Padahal dia menganggap Philip sebagai temannya. Walau terkadang Philip bertindak menyebalkan, Fabian tidak sampai marah besar.

Tapi, saat mendapati kenyataan ini. Ini terasa jauh lebih menyakitkan. Seperti perasaan seorang teman yang telah dikhianati temannya.

"Kau bajingan!"

"Aku minta maaf."

"Aku tidak butuh itu!"

Fabian begitu marah dan kecewa. Jadi, setelah dua tahun mengikutinya, dia pura-pura tinggal di apartemen itu, menempati apartemen tepat di depannya dan bertetangga dengannya.

"Apa lantai 5 yang hanya diisi kita berdua itu bagian dari rencanamu?"

"..."

Pantas saja, selama dia tinggal tidak pernah ada yang mau menempati lantai 5. Selain itu, tidak pernah ada penghuni lain yang mau naik ke atas. Dan sepertinya itu memang yang dilakukan Philip. Mencegah orang lain mengganggu pekerjaanya.

"Kau bilang pengangguran, tapi ternyata bekerja untuk memata-mataiku! Kau sampah masyarakat!"

"Padahal aku menganggapmu sebagai teman dekat, tapi bisa-bisanya kau—!"

"Aku kecewa padamu!"

Kemarahan, kekecewaan, kesedihan semuanya bercampur aduk. Dia menatap Philip, dan dengan keras, bogeman mentah mendarat di pipinya. Alhasil dia terbatuk dan darah sedikit keluar dari mulutnya.

Karena itu juga, mobil yang dikendarainya oleng ke samping, sebelum akhirnya berhenti karena menabrak pohon besar.

"Kau dan Heri sepertinya sama!"

"Tapi, kenapa kalian berdua melakukan ini?!"

"Kenapa harus aku?!"

Philip hanya memegang pipinya yang sebelumnya sudah bengkak, sekarang tambah bengkak lagi. Selama beberapa saat dia diam, sebelum akhirnya berbicara.

"Maaf."

"Kalau menguntitku, itu sama saja kau berada di bawah kendali Devan, kan?"

"..."

Fabian memijat pelipisnya. Devan, Devan dan Devan lagi! Fabian cukup muak mendengar semuanya.

"Kalau kau bawahan Devan, lantas kenapa kau membawaku pergi dari sana? Apa sebenarnya ini bagian dari rencana kalian juga? Diam-diam membawaku pergi hanya untuk kembali kepada Devan. Karena pada akhirnya kau adalah bawahan Devan."

"Tidak. Aku melakukan ini bukan bagian dari rencana. Tapi sebagai bentuk penebusan atas tindakanku."

"Memangnya aku akan kembali percaya setelah kau menipuku selama 2 tahun ini?"

"..."

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

Author Note : Philip, aku kecewa padamu😭

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang