Bagian#39

36.8K 3.1K 180
                                        


"Orang gila!"

"Bajingan gila!"

"Lepaskan aku sekarang juga!"

"Kau tahu ini adalah sebuah tindakan kriminal! Ini merenggut hak asasiku sebagai manusia! Kau telah merenggut hak kebebasanku! Lepaskan aku sekarang juga atau kau nanti akan diproses oleh hukum!"

Fabian memusatkan semua tenaganya dalam amarahnya ini. Jika tubuhnya tidak bisa mendekati Devan. Biarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya ini melakukan tugas itu. 

"Aku tidak habis pikir terhadap kelakuan aneh dan bejatmu ini! Padahal aku sudah bilang, aku tidak mau bertemu denganmu, sekarang ataupun masa depan sekalipun! Namun, kenapa kau menculikku dan mengurungku di tempat seperti ini!"

"Devan Gila! KAU PRIA GILA!"

Setelahnya Fabian yang tanpa hentinya mengamuk mulai merasa lelah, kerongkongannya terasa perih dan kering. Walaupun begitu, Fabian berusaha untuk menunjukan ketidak sukaanya kepada Devan.

"Puas?"

"KAU!"

Kedua bola mata Fabian melotot secara sempurna, gigi bagian atas dan bawahnya juga saling berderit, rahangnya mengeras dan kepalan kedua tangan di bawah sana siap untuk memukul Devan.

Devan tersenyum begitu manis dan memuakkan. Dia dengan sengaja mencondongkan tubuhnya ke depan. Fabian berusaha meraih wajahnya dan ingin menghancurkannya. Tapi, hanya ada jarak satu senti, dan Fabian hanya bisa sampai jarak itu.

"Kau pasti sangat merindukan wajah ini, kan? Jadi, sedikitlah berusaha lebih keras lagi, aku yakin kamu bisa menyentuh wajah idamanmu ini dengan senang hati!"

Ludahan langsung mendarat di wajah Devan. Devan selama beberapa saat membeku. Aura dingin mencekam keluar dari tubuhnya. Membuat ruangan itu jauh lebih sempit dari sebelumnya. Tapi, Fabian di sisi lain tidak menyesali perbuatannya ini.

"Rindu? Tidak akan pernah!"

Fabian berseru dengan ganas. Bagaimana mungkin dia akan merindukan bajingan seperti ini. Orang yang membuat kehidupan pertama dan keduanya menjadi kacau.

Bahkan, selama 4 tahun tinggal di Inggris Fabian sudah tidak ingat lagi wajah Devan. Dia menghapus wajah menjengkelkan itu selamanya dari hidupnya. Namun, naas. Saat dia kembali ke Indonesia, dia harus berurusan dengan orang gila ini.

"KAU GILA!"

"Aku memang gila. Tergila-gila padamu, Fabian."

"..."

Fabian tersentak begitu saja mendengar kalimat itu, Devan mulai membersihkan wajahnya dengan sapu tangan yang diambilnya dari bagian depan jas miliknya. Selanjutnya dia menaruh kembali sapu tangan itu ke tempat semula. Seolah ludahan itu hal biasa.

"Sepertinya tinggal di luar negeri benar-benar membuatmu melupakanku?"

"Kamu memang layak untuk dilupakan! Kau itu tidak berguna! Tidak berarti apapun dalam hidupku!"

"Oke, baiklah."

Devan kemudian menyandarkan tubuhnya ke pintu yang tertutup rapat, mengikat kedua tangannya di depan dadanya. 

"Aku cukup kecewa mendengar itu. Padahal disini, aku selalu merindukanmu, Fabian. Setiap detiknya, kamu selalu berada di dalam pikiranku. Tidak sepertimu yang melupakanku, aku terus mengingatmu."

"Aku benar-benar sedih."

Untuk pertama kalinya wajah Devan terlihat murung, terlihat begitu pilu dan sedih. Seolah kekasih yang paling penting di hidupnya melupakan dirinya begitu saja.

"Hentikan semua omong kosongmu itu!"

Fabian tidak mau mendengar bualan yang keluar dari mulut bajingan itu. Dia benar-benar muak terhadapnya. Dia tidak mau terus berhubungan dengan orang ini. Tapi orang ini jugalah satu-satunya yang bisa membebaskan Fabian dari sini.

"Biarkan aku pergi dari sini."

"Setelah apa yang aku lakukan untuk membuatmu berada disini? Aku tidak akan membebaskanmu begitu saja."

Fabian heran sebenarnya selama 4 tahun terakhir ini apa yang terjadi dengan kehidupan Devan? Apa dia masih dengan Laura? Apa mereka sudah menikah dan bahkan memiliki anak? Tapi, kalaupun iya, kenapa Devan melakukan hal semacam ini terhadap Fabian.

4 tahun terakhir ini, Fabian memang dengan sengaja mengurung dirinya dari dunia luar dalam arti lain. Dia tidak mau menerima informasi apapun atau kabar apapun yang berkaitan dengan Devan. Dia hanya berhubungan dengan keluarganya itupun hanya saling mengutarakan kerinduan diantara keluarga.

Dia benar-benar tidak tahu kabar jelas semua orang yang ditinggalkannya di Indonesia. Apa yang terjadi kepada keluarganya dan kepada Devan.

Yang membuat Devan sampai berperilaku seperti ini.

Sekarang ini yang begitu jelas terlihat di matanya adalah, Devan yang memang semakin dewasa. Garis rahangnya semakin menguat. Kedua pasang mata yang semakin menajam.

Dan, senyuman aneh itu.

Itu benar-benar tidak seperti Devan.

"Devan, biarkan aku pergi."

Senyuman di bibir Devan semakin melebar, kedua matanya terlihat bersinar namun gelap secara bersamaan. Menatap Fabian dengan sorot asing tapi familiar.

"Akhirnya kamu memanggilku dengan nada yang akrab ditelingaku."

"Aku pikir, kapan terakhir kali kamu memanggilku seperti itu. Mungkin beberapa tahun yang lalu?"

"Aku tidak tahu kala itu. Tapi, setelah mendengarnya saat ini. Aku sangat yakin kalau aku merindukan suaramu itu. Tentu, aku lebih merindukan dirimu dibandingkan apapun."

Setelahnya hanya ada hening, baik Fabian dan Devan hanya berkomunikasi lewat mata mereka.

"Kamu tahu hal apa yang terlintas di benakku saat bertemu denganmu?"

"Sudah aku bilang, aku tidak mau mendengar bualan apapun darimu! Lepaskan aku sekarang juga! Devan!"

"Aku benar-benar ingin melakukannya. Tapi, melihatmu yang semakin ganas. Kadang kala aku mempertanyakan keputusanku di masa lalu."

"Berhenti! Aku tidak mau mengerti ucapan anehmu itu!"

Devan mendekat ke arah Fabian. Di jarak yang sedekat ini, Fabian bisa langsung meninju pipi Devan dengan keras. Beberapa kali dia melakukan itu di bagian wajah dan perutnya. Tapi, tubuhnya yang keras itu membuat pukulan dari Fabian tidak berdampak apapun. Mungkin hanya ada sedikit lecet. Berbeda dengan Fabian yang sudah lama tidak latihan bela diri. Dia merasakan kepalan tangannya kaku dan sakit. Lebih sakit dari apapun yang pernah dirasakannya.

Fabian tiba-tiba terkesiap saat Devan memeluknya dengan erat. Dia mengikat kedua lengannya di pinggang Fabian dan menaruh wajahnya di antara bahu dan leger Fabian. Menghirup dalam-dalam aroma yang selalu dirindukannya itu.

"Aku ingin memelukmu."

"Memelukmu dengan erat dalam balutan kedua tanganku."

"Ini adalah hal pertama yang selalu ada dibenakku ketika melihatmu. Kamu tahu?"

.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Continued

Author Note : Satu kata untuk Devan?

[BL] Second Time |Fabian&Devan|Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang