Too Much, Too Sweet

842 100 74
                                        

"M-mwoya?" Jantung Dain seakan mau keluar usai mendengar tawaran frontal dari Ahyeon yang berniat untuk menciumnya.

Ia tidak salah dengar bukan? Dain tidak sedang bermimpi bukan? Mengapa alur hubungan ia bersama Ahyeon bisa se-kompleks ini?

Bukan, ia bukan tidak senang karena bisa menjalin kedekatan yang lebih intens dengan sang direktur, tapi.... bukankah ini terlalu cepat?

Ia masih belum percaya jika hubungan mereka bisa sampai ke tahap dimana mereka terlihat seperti sepasang kekasih.

Hanya saja, belum diresmikan secara lisan, namun perilaku mereka belakangan benar-benar menunjukkan seolah mereka sudah saling memiliki satu sama lain.

"K-kenapa unnie bicara seperti itu? Apa maksud unnie?" Dain berusaha menetralisir perasaannya, bohong jika ia tidak spot jantung. Bahkan saking deg-degannya, telapak tangannya sampai lembab karena keringat.

Ahyeon tak menjawab. Ia malah semakin memepetkan tubuhnya, mempertipis jarak sembari memperlihatkan sorot mata yang sulit diartikan.

Dain reflek mundur. Ia bukannya tak suka jika Ahyeon menunjukkan ketertarikannya, tapi ini terlalu frontal. Ia belum siap jika harus menghadapi sikap implisit sang direktur yang seperti ini.

"Wae? Kenapa kau mundur Dain-ah, unnie hanya ingin tau apa reaksimu jika unnie menciummu seperti yang dilakukan Asa tempo hari, mengapa kau terlihat ketakutan?" Ahyeon menatapnya tajam, ada gelombang tekanan dalam setiap kalimatnya.

"Unnie.... bagaimana kau mengu....."

Tanpa membiarkan Dain bicara lebih lanjut, Ahyeon setengah berjinjit dan langsung mengecup pipi kanan gadis itu tanpa basa basi.

Chuu

Ciuman itu tak sebentar, tapi juga tidak terlalu lama. Mungkin ada sekitar 7 detik, Ahyeon membiarkan bibirnya menempel pada pipi ranum Dain yang lembab setelah ia melakukan bersih-bersih tadi.

Pipinya lembut, kenyal, dan juga harum. Ingin rasanya Ahyeon mencium pipi itu jauh lebih lama. Tapi ia tak ingin dikatai sebagai wanita agresif karena tak bisa menguasai hasrat nya sendiri, meski pada kenyataannya, Dain sudah membuatnya tak tahan sedari tadi.

Rora yang mendapat ciuman spontan dari sang direktur hanya bisa terpaku. Ia tak bereaksi apa-apa, tapi dari raut wajahnya, ia kelihatan shock.
Nafasnya yang sejak tadi sudah memburu, semakin bertambah tak karuan lagi, hal itu dapat dilihat dari bagaimana dadanya yang naik turun dalam tempo yang cepat, dan Ahyeon memperhatikan itu.

"Bagaimana rasanya, katakan pada unnie?" Ahyeon kembali berjinjit, ia berbisik seduktif ditelinga Dain sambil tersenyum smirk.

Ada rasa puas yang tercetak jelas pada wajahnya saat menyaksikan bahasa tubuh Rora, yang sepertinya juga ikut menikmati moment manis mereka kali ini.

"U-unnie.... mengapa kau lakukan itu padaku" Dain tergagap, ia mengusap pipinya, masih tak percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan dari Ahyeon.

"Jawab saja Dain, apa yang kau rasakan? Apa ciuman unnie tidak lebih baik dari Asa?" Sang direktur mulai menuntut, ia merasa jika Rora terlalu bertele-tele, padahal ia cuma ingin tau apa yang dirasakan gadis itu setelah ia mencium pipinya.

Melihat ekspresi jengah yang ditunjukkan Ahyeon, Dain mulai panik. Ia menggigit bibir bawahnya, agak ragu, tapi ia berusaha memberanikan diri untuk menarik tangan Ahyeon dan meletakkan itu di dadanya, tepat di jantungnya.

"See? Kau membuat jantungku berdebar tak karuan unnie. Apa kau merasakan hal yang sama?" Rora menelisik kedalam manik Ahyeon. Mereka kembali beradu pandang, seolah tengah mencari keyakinan akan perasaan yang tercipta.

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang