Saat ini jam telah menunjukkan pukul 17:55 KST, Dain dan Ahyeon telah menyelesaikan agenda berkencan di mall selama kurang lebih 2 jam lamanya.
Mereka berbelanja segenap kebutuhan, membeli beberapa snack, makan es krim bersama, dan yang terakhir Dain berinisiatif untuk membeli gelang couple yang bentuknya cukup unik dan lucu, agak berbeda dari bentuk gelang pada umumnya.
Gelang tersebut terbilang sederhana dari segi harga, meskipun secara look benar-benar sangat indah saat mereka kompak memakaikannya pada pergelangan tangan masing-masing.
Sejujurnya Ahyeon mampu membelikan kekasihnya itu berupa gelang mahal di toko perhiasan langganan mommy-nya jika memang Rora menginginkan gelang couple, tapi saat Ahyeon menawarkan idenya tersebut Dain langsung menolak dengan dalih, kalau ia tak mau mengambil kesempatan dengan sengaja menguras isi ATM Ahyeon meski wanitanya tersebut tidak keberatan sama sekali.
Menurutnya, walau sang direktur kaya raya, dan merupakan anak tunggal yang akan mewarisi seluruh harta dan juga bisnis keluarganya, namun tetap saja, Dain tidak memandang itu untuk menjadikannya sebuah peluang agar ia bisa memanfaatkan Ahyeon disini.
Ibarat, memperoleh pasangan kaya dan tajir tanpa planing, itu hanyalah bentuk dari jackpot dan juga bonus yang kebetulan Dain mendapatkannya tanpa disangka-sangka.
Lagipula sudah sejak dulu Rora memang dikenal jauh dari kata materialistic, selain karena ia di didik dengan sangat baik oleh kedua orangtuanya, pada dasarnya Rora memang memiliki kepribadian yang mandiri dan low profile sedari kecil.
Dain terbiasa menjalani hidup sesuai dengan kebutuhannya tanpa suka bersikap berlebihan dalam hal apapun, entah itu membeli barang, makanan, berbelanja, dan lain sebagainya, ia selalu menempatkan kebutuhannya terlebih dahulu ketimbang apa yang menjadi keinginannya.
Dan karena sejak kecil ia menanam mindset yang demikian, alhasil sikap sederhana dan mandirinya itu jadi terbawa-bawa hingga Dain dewasa.
Itulah mengapa, disaat ia dihadapkan oleh sebuah takdir bertemu dengan sosok Ahyeon dan mulai menjalin kedekatan dengan wanita tersebut, lalu ketika dirinya mulai tau bahwa Ahyeon ternyata adalah seorang anak tunggal dari keluarga konglomerat, Dain tidak serta merta menjadi gelap mata dan menganggap itu sebagai kesempatan emas.
Ia samasekali tak menjadikan hal tersebut sebagai acuan mengapa ia bisa jatuh cinta pada sang direktur, sebab semua itu tumbuh secara natural, pure dari dalam hatinya.
Seumpama Ahyeon bukan dari kalangan atas pun, jika Dain sudah menyukainya dan perasaannya telah menetapkan sang direktur sebagai sosok yang ia cinta, Dain pasti akan tetap memilih untuk menjalin hubungan dengan kekasihnya itu terlepas dari siapapun status Ahyeon.
Benar-benar defenisi dari mencintai tanpa syarat bukan?
"Gomawoyo kau sudah menemani unnie belanja.. apa kau senang sayang?" Tanya Ahyeon mengendarai sedannya menuju jalan pulang.
Dain mengangguk cepat "harusnya aku yang berterimakasih padamu chagiya.. kencan kita membuatku lebih dari senang malah, aku merasa jauh lebih baik dan relax sekarang" balasnya seraya memamerkan gummy smile-nya.
"Baguslah kalau begitu, unnie ikut senang mendengarnya. Oh ya tadi sebelum kita pulang, kau minta dibelikan permen, kenapa hanya minta itu hm? Bukannya harga permen lebih murah dari es krim yang unnie tawarkan, katanya mau hadiah yang exclusive, tapi pas di mall yang diminta malah cuma lollipop" Ahyeon melanjutkan kalimatnya, menggoda sang kekasih dengan menyebut-nyebut perihal hadiah exclusive demi menggugah atensi Rora kembali.
Dan benar saja, usai mendengar kata "sakral" yang dilontarkan sang direktur, Dain seketika menoleh ke arah Ahyeon yang kini tengah memasang senyum lebarnya. Ia tau kemana arah percakapan mereka sekarang ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
CheeZe CaKe
FanficBerawal dari pertemuan yang tak disengaja antara 2 gadis yang berbeda latar belakang disebuah kedai. Karena Cheesecake gratis, tanpa sadar keduanya kian dekat hingga terjalinlah sebuah ikatan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
