Salvatore

483 61 46
                                        

"O-OPPA??" Dain dan Ahyeon kompak menampilkan raut kaget usai melihat Dareum yang terbangun dan tanpa sengaja memergoki aksi mesum mereka.

Karena panik, Rora sontak melepas tangkupannya pada wajah Ahyeon dan langsung beralih pada sang kakak. Sedangkan Ahyeon sendiri masih berdiri diam ditempatnya, ia tak tau harus melakukan apa di situasi semacam ini. Jelas ia bingung dan canggung!

Kabar siumannya Dareum tentu membuatnya merasa lega, setidaknya ia tau bahwa laki-laki itu berhasil melewati masa kritisnya.

Namun yang menjadi kebingungan Ahyeon yang lain adalah, bagaimana ia menyikapi Dareum, dan apa yang harus ia lakukan setelah pria itu sembuh nanti?

Lalu bagaimana nasib hubungannya dengan Dain? Meski pertemuan mereka hari ini telah memberikan sedikit gambaran bahwa tampaknya Rora juga ingin "balikan", tapi tetap saja, belum ada kata-kata yang terucap dari mulut Rora secara gamblang bahwa gadis itu ingin melanjutkan hubungan mereka.

Yang namanya wanita itu butuh kejelasan bukan?

Ahyeon takut kalau-kalau gadis itu berubah pikiran lagi setelah melihat kondisi Dareum. Terlebih pria itu secara terang-terangan menyaksikan aksi mesum yang nyaris saja ia dan Rora lakukan, pasti sedikit banyaknya Dain merasa bersalah karena hal itu, merasa berkhianat dengan janjinya sendiri, dan terkesan tak mempedulikan kondisi sekarat kakaknya.

Ibarat, sudah tau Dareum berada dalam pertaruhan antara hidup dan mati, eh Dain malah enak-enakan berciuman dengan Ahyeon tepat didepan ranjang sakitnya pula.

Bukankah itu GILA namanya?

"Oh God, terimakasih banyak Tuhan... terimakasih banyak..." Rora menciumi tangan sang kakak dan terus menggaungkan kalimat penuh syukur saat tau Dareum telah terbangun dari tidurnya yang cukup panjang.

"Sebentar ne, aku panggilkan eomma dan Halmoni dulu" dengan mata berkaca-kaca gadis muda itu spontan berlari keluar ruangan demi memberitahu kabar baik ini.

Ahyeon yang mendapati adegan dramatis antara kakak-adik tersebut hanya bisa termangu memperhatikan, sesekali ia melempar tatapannya pada si pria, namun di detik berikutnya ia membuang muka ke sembarang arah.

Meski hanya sekilas, Ahyeon dapat menangkap adanya sirat kekecewaan dibalik mata sendu Dareum yang kini tengah menatapnya intens.

Pria itu mematung seraya menampilkan ekspresi yang cukup sulit untuk diartikan. Mulutnya yang masih menggunakan masker oksigen membuat Dareum hanya bisa membisu diranjangnya karena ia sendiripun masih kesulitan untuk bicara.

"Apa kau kecewa Dareum-ssi? Maaf karena aku, kau jadi seperti ini. Tapi tolong jangan salahkan adikmu jika kau berpikir adegan yang kami lakukan tadi adalah sebuah tindak kesengajaan. Ada beberapa hal sulit yang terjadi disini, hingga kami sampai ke tahap itu.." Ahyeon membuka percakapan.

Ia sengaja menghampiri ranjang Dareum agar pria tersebut bisa mendengar jelas, setiap point dari apa yang ia ucapkan barusan.

"Jika kau penasaran dengan apa yang terjadi, kau bisa tanyakan langsung pada Ahjumma Lee dan Halmoni. Mereka lebih berhak menjelaskan segalanya dengan lebih rinci karena kau pasti lebih mempercayai ucapan kedua orangtua dan juga keluargamu ketimbang aku yang hanya orang asing disini.."

"Namun ada satu hal yang ingin aku sampaikan, adikmu Dain, dia sudah berkorban banyak untukmu. Dia melakukan segala cara termasuk memutuskan hubungannya denganku hanya karena ingin nyawa mu selamat. Dia mengorbankan cintanya demi memihak pada kakaknya. Selama kau terbaring disini, dia tidak berhenti menangis dan begitu ketakutan andai dia kehilanganmu. Dain terus-menerus menyalahkan dirinya sendiri saat tau kau mengalami kecelakaan.."

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang