Marionette (Lift Me Up)

493 64 76
                                        

Ahyeon dan Joy langsung bergerak menuju ke rumah sakit tempat dimana Dareum dan Dain dirawat.

Sang direktur yang merasa gelisah setengah mati menyuruh sekretarisnya untuk mengambil alih kemudi mobilnya. Bukan apa-apa, Ahyeon hanya takut kecemasannya yang berlebihan itu membuatnya kesulitan fokus saat menyetir.

Tak bisa dibohongi, jika Ahyeon masih sangat berharap hubungannya dengan Dain bisa kembali utuh seperti semula. Terlebih lagi setelah ia tau alasan sebenarnya mengapa Rora meminta untuk putus, Ahyeon jadi merasa bersalah karena sempat "mengiyakan" keputusan Dain sebelum gadis itu pergi dari kediamannya.

Selama diperjalanan, sang direktur tak henti-hentinya menghela nafas kasar, meremas jari-jarinya yang agak berkeringat, dan menggigit cemas bibir bawahnya sendiri. Gesture tubuhnya seolah ingin memperlihatkan adanya ketegangan yang kuat disana.

Joy yang menyaksikan gelagat Ahyeon hanya mampu mengusap bahu boss nya sesekali. Memberikan beberapa kalimat motivasi agar atasannya itu bisa bersikap lebih tenang dan tidak overthinking.

Ahyeon menanggapinya dengan senyuman tipis. Bukannya ia tidak berusaha untuk tenang, tapi memang pikirannya sudah kemana-mana sejak tadi.

Ia memikirkan beberapa kemungkinan yang akan ia temui sebentar lagi. Semacam, bagaimana cara menghadapi Rora setelah mereka bertemu nanti? Lalu seperti apa respon gadis itu saat melihat kedatangannya ke rumah sakit?

Apakah Dain akan bersikap SAMA seperti sikapnya yang tadi pagi?
Atau mungkin saja Rora menolak untuk bertemu dengannya karena alasan tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang sejak tadi bersarang penuh didalam isi otak Ahyeon hingga ia tak bisa duduk tenang sedikitpun.

Ia takut upayanya kali ini berujung gagal kembali karena kondisi Rora yang belum sepenuhnya "pulih". Sebagaimana yang kita tau, bahwa seorang yang tengah frustasi akan sulit menggunakan akal sehatnya.

Itulah sebabnya Ahyeon cemas jika ia datang diwaktu yang salah! Tapi disisi lain ia benar-benar mempertimbangkan ucapan sang sekretaris. Joy terus mendorongnya untuk tetap memperjuangkan hubungannya dengan Dain, karena apa yang terjadi pada mereka merupakan tindak kekeliruan yang harus segera diluruskan.

Jika Ahyeon terlalu mengulur waktu untuk membenahi semua ini, yang ada Rora akan semakin percaya bahwa keputusannya meninggalkan Ahyeon merupakan sebuah tindakan yang BENAR!

Tidak tidak, stigma itu harus segera terhapus dari otak Dain. Yang namanya musibah dan ujian itu datangnya dari kehendak Tuhan, jadi tidak ada kewajiban bagi Rora untuk bertanggungjawab atas kecelakaan yang menimpa kakaknya hingga ia mengorbankan diri sejauh itu.

20 menit berlalu, kedua wanita ini pun akhirnya tiba di rumah sakit tempat dimana Dareum dan Dain dirawat.

Dengan langkah tergesa-gesa mereka menaiki lift menuju lantai 4. Berdasarkan info yang diberikan Rami dan Chiqi, kamar inap kakak-beradik Lee itu terletak pada nomer 77.

Setibanya mereka di depan kamar inap yang dituju, tampak Young Ae dan Halmoni masih setia menunggu.

Kedatangan sang direktur dengan Joy tentu membuat kedua wanita tersebut sontak berdiri dan menguarkan wajah terkejutnya.

"Ahyeon? Joy?" Ucap Young Ae, meski dirinya kaget namun tangannya tetap terulur untuk menyambut mereka berdua dengan rasa antusias. Memberikan sebuah pelukan hangat untuk mereka masing-masing.

"Maaf kedatangan kami mengejutkan Ahjumma dan Halmoni" balas Joy mewakili setelah pelukan mereka terlepas.

Young Ae tersenyum haru "Gwenchanayo.... Ahjumma yang harusnya minta maaf karena tidak mengabari kalian sebelumnya. Kejadian ini membuat kami semua terlalu cemas, jadi fokus kami hanya pada Dareum dan Dain. Mainhae.."

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang