Gossip 2 (Heboh)

489 65 36
                                        

"Lepaskan tangan kekasihku atau kalian bertiga aku pecat!!" Tegas sang direktur mengultimatum. Mimik wajahnya terlihat tak santai samasekali.

Dari nada bicaranya terdengar amat sangat serius dan terselip kesan yang begitu menyeramkan, seolah tak ingin memberikan celah pada ketiga pegawainya untuk sekedar memberikan penjelasan.

Mendapati kehadiran sang boss, ketiga karyawan yang tadinya sok angkuh menolak peringatan Joy, kini berubah raut menjadi kicep, lesu, dan tak berkutik sedikitpun. Sikap mereka layaknya pencuri yang sedang kepergok sang empunya rumah.

Mereka menunduk dan reflek melepaskan genggaman yang semula melekat kuat pada lengan Dain.
Jantung mereka berdebar-debar hebat, keringat dingin sontak mengalir di pelipis masing-masing hanya dalam hitungan detik.

Tak ada yang berani bertatap muka dengan sang direktur alih-alih memberi alibi, yang bisa mereka lakukan saat ini hanyalah berdoa sekuat tenaga, berharap ada keajaiban yang dapat menolong situasi mereka yang kini tengah dalam kondisi sekarat.

Ahyeon berjalan mendekat ke arah ketiga anak buahnya yang lancang. Bersendekap dada dengan nafas yang tampak naik turun saking memburunya. Sejak tadi ia sedang menahan emosinya mati-matian, tentu saja ia tak terima melihat kekasihnya diperlakukan seperti itu.

Namun karena ia mengingat janjinya bersama Rora untuk tidak main hakim sendiri seperti yang terjadi tempo hari, maka Ahyeon berusaha meredam egonya untuk tidak menghukum ketiga pegawainya itu tanpa mengetahui duduk perkaranya terlebih dahulu.

Intinya ia mencoba untuk menggunakan akal sehat dan juga kebijaksanaannya disini, agar keputusan yang ia ambil nantinya tidak salah kaprah seperti yang sudah sudah.

"Kalian bertiga, masuk ke ruanganku!" Titah Ahyeon to the point. Image yang ia tampilkan benar-benar sangat dingin dan menakutkan, tak seperti imagenya yang tegas namun kalem yang selama ini menjadi personal branding nya sebagai pimpinan perusahaan.

Biasanya Ahyeon masih mau bersikap humble dengan menaikkan sudut bibirnya untuk merespon sapaan para pegawainya dikantor.

Meski jarang berbasa-basi atau bicara banyak selain dalam sesi meeting, nyatanya, Ahyeon tak pernah menunjukkan sisi lainnya seperti yang tengah ia tunjukkan sekarang.

Semarah-marahnya Ahyeon dalam urusan pekerjaan tak pernah semenakutkan saat ia marah jika ada yang mengganggu kekasihnya. Se-posesif itu ia terhadap Dain.

Hening. Tak ada jawaban maupun pergerakan sebagai balasan dari ketiga wanita tersebut usai mendapat perintah sang direktur.

Para pegawainya itu masih tertunduk lesu, sambil memainkan jari-jari mereka dengan gusar. Mereka terlalu takut untuk bertemu tatap dengan sang boss yang dari suaranya saja sudah terdengar sangat mematikan.

Bagaimana ini? Tamatlah riwayat kami! Bathin mereka kompak.

"Kenapa masih disini, apa kalian tuli? Cepat masuk ke ruanganku sekarang!" Ulang sang direktur lagi. Nada bicara Ahyeon kali ini betul-betul keras, sangat jauh dari kesan ramah, hingga berhasil membuat ketiga karyawannya bergidik ketakutan.

Keringat yang tadinya hanya tercetak samar-samar, kini telah membesar menyerupai bulir biji jagung. Membasahi penuh area kening ketiganya, menunjukkan kegugupan luar biasa, mereka seakan sedang menunggu untuk menghadapi sebuah vonis persidangan yang akan menentukan nasib mereka kedepannya.

Andai mereka tau gadis yang mereka hadang merupakan kekasih sang boss, mereka takkan mungkin lancang mengajak Dain bicara apalagi sampai menyentuhnya seperti tadi.

Mereka mengira, jika gadis yang tengah menarik perhatian mereka belakangan ini merupakan teman dekat Ahyeon yang memang baru "kelihatan" atau mungkin hanya salah satu adik sepupunya sang direktur saja. Mereka samasekali tak kepikiran bahwa boss mereka akan mengencani dan memilih pasangan dari kalangan anak sekolahan.

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang