Hańin

503 60 52
                                        

"Mari kita cicipi ramyeon spesial buatan kekasihku, apakah semeyakinkan seperti kelihatannya" Monolog Dain sembari mempersiapkan sendok dan sumpitnya.

Ahyeon memasang raut agak was-was, ia lupa bahwa tadi ia tidak sempat mencicipi rasa ramyeon buatannya samasekali. Bagaimana kalau rasanya kurang asin? Atau bahkan keasinan? Rora sudah memujinya setinggi langit, tapi kalau rasa ramyeonnya tidak sesuai ekspektasi, kan Ahyeon bisa malu.

Slurrpp

Dain menyendokkan kuah ramyeon itu terlebih dulu, menyeruputnya dengan perlahan untuk memastikan rasa authentic nya.

Selagi kuah tersebut masuk kedalam mulutnya, sepanjang itu pula Rora memusatkan atensinya dengan sangat lekat ke arah Ahyeon yang tengah menunggu reaksinya, ekspresinya seolah mengatakan bagaimana rasanya, apakah itu oke?

Dain bisa melihatnya secara jelas meski sang direktur tak melontarkan kalimat apa-apa, ia tau betul betapa khawatirnya Ahyeon kalau-kalau ramyeon buatannya gagal enak.

Harus ia akui bahwa pencapaian tertinggi seorang juru masak terletak pada kepuasan orang-orang yang memakan hidangannya.

Jadi kalau orang yang memakan masakannya mengatakan rasanya enak, maka disitulah letak keberhasilan dan kebahagiaan sang koki, begitupun sebaliknya.

Tack tack tack, ting ting

Denting jam berbunyi nyaring bersamaan dengan suara dentingan sumpit yang ada di tangan Dain.

Hampir 2 menit berlalu, tapi Rora belum mengatakan apapun usai ia mencicipi kuah ramyeon tersebut, raut mukanya juga datar-datar saja seolah tak tergugah ditatap resah oleh sang pacar dewasa, ia malah lanjut makan, mengambil bagian mie nya dengan sumpit dan mulai memakannya dalam sekali suap.

Ahyeon yang sejak tadi menunggu komentar Dain semakin dibuat tak tenang, ia samasekali tak bisa menebak apa yang ada dalam pikiran kekasihnya.
Ekspresinya benar-benar lurus, tak ada sedikitpun raut yang menunjukkan dengan pasti apakah ramyeon buatannya enak atau tidak.

Jika memang tidak enak, mengapa Rora terus memakannya, dan kalau rasanya enak, lalu mengapa Dain tak memujinya seperti tadi. Apa kekasihnya itu sengaja melakukan cara ini agar Ahyeon semakin merasa tertekan?

"Yah Dain-ah, mengapa kau diam saja? Bagaimana rasa ramyeon buatan unnie? kau sudah memakannya 3x suap, tapi sampai sekarang belum mengatakan apapun mengenai hasil akhirnya. Jangan buat unnie penasaran.." cecar Ahyeon, mulutnya sudah tak bisa diam ingin segera tau pendapat Rora.

Dain tak bergeming, ia masih saja meneruskan aktivitas makannya, menyuapkan kuah ramyeon itu lagi dan lagi kedalam mulutnya sambil sesekali menatap Ahyeon yang tampak gusar.

Lalu tak lama berselang, ia memakan bagian mie nya lagi, menyeruputnya dengan agak terburu-buru sampai membuat area mulutnya sedikit berantakan. Menyisakan bercak kuah ramyeon di sekitaran area bibirnya.

Ahyeon yang melihat cara makan kekasihnya sontak mengambil selembar tissue, berniat untuk membersihkan mulut kekasihnya yang cemong.

Namun sebelum sang direktur berhasil melakukan niatnya, dengan cepat Dain menahan tangan kekasihnya, ia menggelengkan kepala sebagai isyarat bahwa Ahyeon tak perlu melakukan itu.

Sang direktur yang masih belum paham dengan sikap aneh gadisnya hanya menanggapi Rora dengan ekspresi bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang direncanakan pacar jahilnya itu. Apa Dain tengah mempersiapkan kenakalan lain? Tapi apa? Sejak tadi Ahyeon benar-benar clueless. Isi pikiran kekasihnya betul-betul tak bisa ia diidentifikasi sedikitpun.

"Unnie penasaran bukan tentang pendapatku mengenai rasa ramyeon buatanmu?" Ucap Dain usai ia mencondongkan tubuhnya ke arah depan, mendekati wajah Ahyeon yang sedang kebingungan melihat tingkah randomnya.

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang