Disappointed, Angry and Sorry

592 81 22
                                        

"Sebenarnya kami...." nafas Dain tercekat, ia tak sanggup melanjutkan kalimatnya alih-alih memberikan penjelasan pada sang ibu.

Padahal mulutnya sudah ingin memberitahu apa yang telah terjadi antara dirinya dan Asa, tapi entah mengapa ia seolah tak mampu menerangkan segalanya karena takut melihat reaksi ibunya.

Ditambah lagi mentalnya serasa ke trigger dan otaknya langsung memutar ulang kejadian kemarin malam, dimana Asa sengaja menjebaknya di dalam toilet rumahnya sendiri, hal tersebut semakin menyulitkan Dain untuk bicara.

Melihat gelagat aneh yang ditunjukkan sang anak, Young Ae sontak memeluk putrinya. Meski ia begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada kedua gadis ini, sebisa mungkin dirinya tak berlaku gegabah dan terkesan menyudutkan Dain, agar anaknya lekas membeberkan persoalan yang menimpa mereka, walau sejujurnya rasa curiga mulai menyelimuti hatinya.

Sebagai seorang ibu, tentu nalurinya tak bisa dibohongi, batinnya akan langsung terasa jika ada sesuatu yang tak beres pada diri anaknya.

"Eomma tau kalian pasti punya masalah internal yang membuat kalian tidak terlihat baik-baik saja. Gwenchana sayang, eomma akan menunggumu siap untuk bicara. Eomma akan dengarkan semuanya dan menjadi pihak netral disini, beritahu eomma yang sebenarnya agar eomma bisa menilai persoalan kalian secara adil" ucapnya masih dengan memeluk Dain.

Young Ae mencoba memberikan pengertiannya agar putrinya merasa nyaman dan tak tertekan sedikitpun.

Sementara Asa yang sejak tadi diam dihadapan ibu dan anak tersebut tak bisa melakukan apa-apa selain tertunduk dan menahan tangisnya.
Tubuhnya bergetar, ingin rasanya ia pergi dan lari dari situasi ini, tapi nyalinya tak mengizinkannya untuk kabur.

Ia seakan tak punya pilihan, karena cepat atau lambat, dirinya pasti akan menghadapi kondisi dimana Asa harus bertanggungjawab atas apa yang telah ia lakukan terhadap Dain.

"Kajja kita masuk dulu, jelaskan pada Ahjumma bagaimana kalian bisa saling kenal, dan mengapa ekspresi kalian saat bertemu seperti ini. Tolong katakan yang jujur ne? Ahjumma percaya padamu" Young Ae bertutur lembut seraya mengajak gadis berdarah Jepang itu masuk ke dalam rumahnya.

Asa yang sedang kalut hanya mengikuti pergerakan sang empunya rumah tanpa melakukan perlawanan samasekali, ia benar-benar tak memiliki energi untuk sekedar mencari alibi agar dapat menghindari waktu, dimana sebentar lagi dirinya akan segera diadili.

Ya, di ADILI!

Asa yang melihat kehadiran Ahyeon diambang pintu juga tak bisa berkutik sedikitpun, rasanya benar-benar seperti dikeroyok 3 orang mematikan sekaligus.

Yang semakin membuat gadis Jepang bergidik adalah saat dimana Ahyeon menampilkan raut datarnya ketika mereka berpapasan, sang direktur tak menunjukkan emosi apapun pada wajahnya, dan malah membuat kesan yang amat sangat menyeramkan bagi Asa.

Seumur-umur ia belum pernah menyaksikan Ahyeon seperti ini.
Mati sudah! Ia hanya bisa pasrah tentang apapun yang akan terjadi kedepannya. Jika memang sahabatnya tersebut membencinya, ia harus menerima itu, karena ini memang kesalahannya.

Setelah semua orang masuk kedalam rumah, lebih tepatnya di ruang keluarga, suasana tiba-tiba saja terasa agak horor. Asa duduk sendirian di sofa tunggal seolah ia merupakan seorang terdakwa, sementara Ahyeon dan Dain duduk berdua tepat disebelah si gadis Jepang.

Sedang Rami dan Chiquita duduk di sofa yang lebih panjang bersama Young Ae, dengan posisi bersebrangan dengan ketiga sosok yang akan diintrogasi.

Hening, 1 sampai 2 menit belum ada dari mereka yang mau membuka suara, baik Dain, Ahyeon dan Asa sama-sama memilih bungkam karena tak tau harus mulai dari mana.

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang