"Bisa oppa jelaskan maksud dari semua ini?" Dain meremas kertas yang ada dalam genggaman tangannya.
Emosinya tak terbendung saat mengetahui bahwa kakaknya memiliki keterlibatan dengan kekasihnya. Tapi sejak kapan? Sejak kapan Dareum mengenal sosok Ahyeon?
Sejak kapan kakaknya memiliki perasaan cinta terhadap pacar dewasanya itu? Mengapa tak ada satupun dari mereka yang membuka suara tentang ini?
Baik Ahyeon maupun Dareum, keduanya samasekali tak mengatakan hal apapun untuk sekedar memberitahu, bahwa mereka sudah saling kenal sebelum Dain mengenalkan mereka secara resmi tepat di acara pesta ulangtahunnya tadi malam.
Apakah mereka berdua sengaja menyembunyikan fakta ini darinya? Tapi untuk apa? Jika memang benar mereka sudah saling mengenal satu samalain sebelumnya, lalu mengapa mereka tidak bicara jujur ketika Dain bertanya seperti apa kesan pertama Ahyeon setelah bertemu dengan Dareum?
Rora masih ingat betul jawaban Ahyeon yang mengatakan, bahwa ia hanya terkejut karena harus bertemu dengan sosok kakak laki-laki Dain di moment hari spesial gadisnya tersebut. Tak ada alasan lain yang keluar dari mulut Ahyeon.
Bagaimana bisa Ahyeon berbohong mengenai hal sepenting ini?
Apa selama ini Ahyeon dan Dareum memiliki hubungan khusus yang terjalin dibelakangnya? Jika iya, lalu mengapa mereka harus berbohong dan kompak mengatakan bahwa mereka tidak saling mengenal?
Semua pertanyaan-pertanyaan tersebut menggerogot isi otak Rora hingga ia merasakan kepalanya begitu sakit sekarang.
Dadanya sesak, pikirannya kalut, kedua matanya memerah dan berkaca-kaca, menahan tangis yang rasanya ingin tumpah.
Hatinya teriris diguncang perasaan sedih, marah sekaligus kecewa yang teramat sangat. Ia tak menyangka jika kedua orang yang ia sayangi tega membohongi dan membodohinya seperti ini.
Kesalahan apa yang ia perbuat sampai Ahyeon dan Dareum tega mengkhianatinya?
"T-tenanglah Dain-ah oppa bisa jelaskan semuanya, kau hanya salah paham" Dareum mencoba menenangkan adiknya yang mulai terlihat emosional.
Dengan lembut ia merangkul bahu Rora yang mulai bergetar, berharap sang adik bersedia mendengarkan penjelasannya.
Namun dengan cepat Dain menepis sentuhan Dareum "Salah paham? Salah paham yang seperti apa yang oppa bicarakan? Apa aku salah dalam memahami gambar dan tulisan yang oppa buat? Apa oppa tau kalau orang yang kau lukis di kertas ini adalah kekasihku? Lalu mengapa kau menyimpan hal seperti ini didalam dompet pribadimu? Wae oppa wae?!" Dain mencecar Dareum dengan segenap pertanyaan yang sejak tadi menyesakkan dadanya.
Nada bicaranya sedikit meninggi dibarengi dengan suara isakan yang membuat adegan diantara kakak-beradik tersebut terlihat semakin dramatis.
Melihat reaksi adiknya yang berapi-api, Dareum berusaha untuk tetap tenang agar ia dapat mengendalikan suasana yang semakin lama semakin terasa runyam.
"Dain-ah.. jebal, tolong dengarkan oppa dulu. Oppa akan ceritakan segalanya, tolong tenanglah, kita bicarakan semua ini baik-baik ne?" Bujuknya. Pria itu mencoba menyentuh bahu adiknya demi menurunkan emosi Rora.
Sedang Dain tak langsung menjawab, nafasnya terlihat memburu seperti sedang menahan bom kemarahan yang siap meledak kapan saja.
Sebenarnya ia tak ingin berprasangka buruk atau menuduh Dareum yang bukan-bukan, mengingat figur seorang kakak laki-laki yang diperankan Dareum selama ini selalu lurus dan tak pernah sedikitpun neko-neko.
Sejak Dain kecil hingga sebesar ini, Dareum senantiasa menunjukkan sifat penuh kasih sayang serta sikap mengayomi yang tak kalah hangat dari karakter yang dimiliki Ayah mereka. Itu sebabnya kedua kakak beradik ini sangat dekat secara emosional.
KAMU SEDANG MEMBACA
CheeZe CaKe
FanfictionBerawal dari pertemuan yang tak disengaja antara 2 gadis yang berbeda latar belakang disebuah kedai. Karena Cheesecake gratis, tanpa sadar keduanya kian dekat hingga terjalinlah sebuah ikatan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
