1 jam berlalu, pasangan ini telah menyelesaikan agenda makan siang yang penuh dengan intensitas tinggi karena berhasil menciptakan moment lunch exclusive diwaktu dan ditempat yang terbaik.
Sepanjang makan, keduanya tak ragu untuk saling menyuapi, agar masing-masing dari mereka dapat mencicipi ragam hidangan yang di pesan bersama-sama, dari makanan berat hingga ke makanan penutup, yang harus mereka akui, jika semua menu yang ada disini rasanya benar-benar luar biasa enak.
Selama menikmati waktu bersama, keduanya mengobrol sambil melemparkan segenap candaan yang membuat suasana semakin riuh dan menyenangkan, membicarakan beberapa hal random hingga pada akhirnya pembicaraan mereka berlanjut ke arah topik yang lebih serius dan sensitif.
Entah siapa yang memulai lebih dulu, namun intinya, percakapan tersebut telah mendorong keduanya untuk saling menggoda dan berujung dengan kekalahan sang direktur yang tak sanggup menerima kenakalan Dain, sebab tak hanya mulutnya saja yang seduktif, tapi bahasa tubuhnya pun tak kalah implisit.
Sekali lagi, walau mereka berbeda usia 5 tahun, dan konteksnya disini Rora masihlah anak sekolah, namun untuk urusan goda menggoda, Ahyeon tak pernah bisa mengungguli gadisnya, ia sendiri pun tak mengerti apanya yang salah.
Selama mereka menjalin hubungan, sang direktur senantiasa kalah dalam setiap permainan yang ia buat. Meskipun Ahyeon sengaja memulai start lebih dulu, namun anehnya hasilnya akan tetap selalu sama!
Padahal ia merasa sudah sangat pro dan percaya diri ketika berhasil menarik Dain masuk kedalam jebakannya, tapi saat Rora yang mengambil alih, keadaan spontan berbalik seakan sedang melakukan switch.
Contohnya seperti yang terjadi sekarang ini, sudah 15 menit lamanya mereka membahas tentang ke-agresifan yang sempat digencarkan Ahyeon beberapa saat yang lalu.
Awalnya sang direktur terlihat sangat pede ketika menunjukkan sisi nakalnya, seolah-olah moment intens yang ia ciptakan tadi memberikan kesan bahwa ia yang dominan disini, tapi setelah digiring sedemikian rupa oleh Rora, tingkat kepedean Ahyeon tiba-tiba saja menciut dan berubah menjadi salah tingkah akut.
Untuk ke sekian kali, Ahyeon harus menerima kekalahan telak dari kekasihnya. Faktanya, mulut dan tingkah implisitnya Rora jauh lebih mematikan dari usaha mati-matian sang direktur untuk menjadi sosok yang terlihat lebih "kuat" dalam hubungan mereka.
Sikapnya yang kelewat genit ternyata tak cukup ampuh untuk membuatnya bertahan dalam permainan. Karena secara realita, kesan dominan akan selalu berpihak pada Rora meski gadis itu tak melakukan apa-apa.
That's a Fact! Semua orang yang melihat itu pasti juga akan memiliki pemikiran dan penilaian yang SAMA.
"Ck, mengapa kau selalu menang untuk hal-hal semacam ini Dain-ah. Padahal unnie yang memulai lebih dulu, tapi kau selalu berhasil mematahkan kepercayaan diriku hanya karena tingkah dan ucapan-ucapanmu yang mematikan! Haish jinjja sekali-sekali berikan unnie kesempatan untuk menang, unnie juga ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi dominan chagiyaaa.." Protes Ahyeon.
Ia menggembungkan pipinya, melontarkan rasa kesal karena Dain selalu mendominasi setiap moment intens yang terjadi diantara mereka.
Rora menyengir, wajah songongnya semakin menjadi melihat kekasihnya yang tengah menggerutu lucu.
"Unnie hanya perlu belajar lebih giat untuk bisa melumpuhkan ku.."
Alis Ahyeon menukik.
"Caranya? Kau tidak sedang mendorong unnie untuk menonton blue film bukan?" Tudingnya dengan memicingkan mata.
Rora melotot, ia reflek memukul lengan Ahyeon karena tak percaya dengan apa yang diucapkan kekasihnya barusan.
"Enak saja!! Unnie kira aku se-mesum itu huh? Aku bahkan membenci film-film seperti itu.. itu jorok dan menjijikkan!" sewotnya dengan raut geli.
KAMU SEDANG MEMBACA
CheeZe CaKe
Fiksi PenggemarBerawal dari pertemuan yang tak disengaja antara 2 gadis yang berbeda latar belakang disebuah kedai. Karena Cheesecake gratis, tanpa sadar keduanya kian dekat hingga terjalinlah sebuah ikatan yang tak pernah mereka duga sebelumnya.
