Clearly (Peppermint)

497 56 16
                                        

"Ne....... aku ingin hubungan kita kembali!!!" Ucap Dain lugas seraya mengusap pelan pipi sang direktur.

Ahyeon yang mendengar ungkapan Rora malah mematung. Otaknya nge-blank selama beberapa saat karena masih tak percaya dengan apa yang sedang terjadi.

"K-kau....... kau tidak sedang mempermainkan unnie bukan?" Balas Ahyeon terbata dengan mata yang semakin berkaca-kaca.

Ia tak tau apakah reaksinya terkesan senang atau malah terlihat sebaliknya. Ahyeon takut jika dirinya hanya salah tanggap dan memiliki asumsi yang berbeda mengenai arti dari ucapan sang mantan.

Rora yang tadinya sibuk mengusap pipi lembab Ahyeon sontak berubah haluan. Kini tangan kanannya beralih untuk mengelus surai panjang Ahyeon yang tergerai, membelainya mulai dari pucuk kepala dan berhenti tepat di area rambut dekat dengan telinga, mengulang-ngulang gerakannya secara lembut dan berkala, memperlihatkan sebentuk kasih sayang yang nyata.

"Apa aku terlalu menyakiti unnie? Sebesar apa trauma yang ku ciptakan hingga kau tak percaya dengan ucapanku?" Dain terus membelai rambut mantan kekasihnya sampai Ahyeon tak sanggup untuk menahan bulir bening yang sejak tadi sudah ingin ia tumpahkan.

"Hikss.... lebih dari itu"

Sang direktur menangis dengan suara isakan yang begitu lirih. Membuat Dain semakin merasa bersalah karena telah membuat hancur perasaan wanita yang sudah begitu tulus mencintainya.

Ditariknya tubuh rapuh Ahyeon untuk kemudian ia peluk erat "Mianhae...... aku sudah melukai hatimu dan membuatmu menangis sepanjang hari" Dain mengusap-usap punggung wanita tersebut dengan kedua tangannya.

"Aku hanya bingung dengan apa yang harus ku lakukan, masalah ini sangat berat bagiku unnie, mentalku serasa dicambuk dari segala arah... itu sebabnya aku kesulitan dalam menentukan sikap, aku tak tau bagaimana cara menemukan jalan keluar. Otakku benar-benar buntu!" Rora berusaha menenangkan sang direktur dengan perlakuan hangatnya. Mencoba memberi keyakinan agar Ahyeon mempercayai ucapannya kali ini.

"Harusnya unnie berhenti mengejarku saat tau aku tak mampu mempertahankan hubungan kita. ketidak-berdayaanku telah mengacaukan segalanya, 2x aku mengatakan ingin berpisah, tapi 2x juga unnie tetap menentang keputusanku dengan berbagai cara. Bagaimana mungkin aku bisa meninggalkanmu jika sudah seperti itu? unnie selalu bersikeras mengejarku demi menunjukkan rasa cintamu yang tulus, aku jadi semakin tak tega..."

Rora mengeluarkan uneg-uneg yang ia simpan selama 2 hari terakhir tanpa melepaskan pelukannya. Ia tau posisi mereka kurang nyaman, namun bukan saatnya untuk mengeluhkan posisi duduk yang agak ambigu ini.

Jauh lebih penting baginya untuk bicara dari hati ke hati, agar semua yang terpendam dalam benak masing-masing dapat keluar tanpa harus mempertahankan ego ataupun gengsi.

"Jika kau tau kau tak bisa hidup tanpa unnie, lalu mengapa kau tetap ngotot meminta hubungan kita berakhir Dain-ah? ini samasekali tidak adil! Kau sendiri yang berjanji untuk tidak pernah meninggalkan unnie apapun yang terjadi, tapi kau juga yang melanggarnya.. hikss... kau berhasil membuat hatiku remuk. Wae Dain-ah wae? Mengapa kau tega melakukan ini padaku!" Giliran Ahyeon yang bicara.

Meski suaranya terbata karena berujar sambil menangis, namun Dain dapat menangkap dengan jelas, seluruh point yang tengah digelontorkan sang mantan.

Ingin rasanya Rora memaki diri sendiri karena ketidak-becusannya dalam membina hubungan mereka. Tapi apa boleh buat? Ia pun juga berada dalam kehancuran, hati dan tubuhnya juga sama remuknya. Kebingungan hebat membuat Dain kehilangan sikap bijak dan wibawa yang selama ini menjadi imagenya.

"Mianhae.... unnie boleh memukulku, menamparku, atau apapun itu. Keluarkan semua kemarahan unnie atas kekecewaan yang kau dapatkan karena sikapku. Aku siap menerimanya dengan senang hati"

CheeZe CaKeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang