[42] - Rakri Menghilang

232 31 6
                                        

"Brengsek! Bagaimana dia bisa sekurang ajar itu?" umpat Sheyna kesal begitu sampai di kantornya, dia menyisir rambutnya ke belakang berusaha menenangkan dirinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Brengsek! Bagaimana dia bisa sekurang ajar itu?" umpat Sheyna kesal begitu sampai di kantornya, dia menyisir rambutnya ke belakang berusaha menenangkan dirinya. Sheyna sadar bahwa tidak seharusnya dia ikut marah pada Rakri, terlebih lagi dia tidak tahu apa yang terjadi pada Rakri saat bertemu dengan Almira.

Inilah hal yang dikhawatirkan Sheyna jika Rakri bertemu ibunya untuk ke sekian kalinya, mental pria itu terus terguncang setelah bertemu dengan Almira. Kondisi Rakri sudah terlalu parah untuk dikasihani, namun juga terlalu kurang ajar untuk ditoleri.

"Beraninya dia berpikir seperti itu ...." gerutu Sheyna menggertakkan giginya marah.

Entah kenapa akhir-akhir ini perasaannya terus terguncang karena Rakri, dia pun sadar bahwa ada yang berubah dalam dirinya. Namun Sheyna menyangkalnya dengan keras, ini tidak lebih dari rasa kasihan terhadap Rakri.

Rakri hanyalah sosok yang dikasihani karena pria itu terus-menerus mengingatkannya pada Sheina.

Sheyna bergeming, sudah lama sekali nama Sheina tidak terlintas dalam pikirannya. Mungkin itu pertanda bagus karena dia tidak terlalu berlarut dalam kesedihannya, nyatanya sosok Rakri terus menghantui pikirannya hingga dia tidak memikirkan hal lain.

"Tidak mungkin," gumam Sheyna dengan wajah syoknya. Dia berjalan menuju meja kerjanya dan membuka laci mejanya, dia memandang kotak beludru hitam kecil yang tersimpan rapi di sisi kanan laci. Tangan kanan Sheyna meraih kotak tersebut sembari duduk di kursi kebesarannya.

Perlahan tangannya membuka kotak tersebut menampakkan sebuah kalung dengan liontin lonjong berukurang sedang. Sheyna membuka penutup liontin tersebut yang memperlihatkan foto keluarga kecil Sheina, ibu jarinya bergerak mengelus liontin tersebut.

"Ini hanya rasa kasihan, kan? Karena satu-satunya yang kucintai hanya kamu, Sheina ...." lirih Sheyna menatap sosok Sheina muda yang tersenyum lebar dan cerah, ia menutup liontin tersebut dan menggenggamnya, mendekapnya di dadanya dengan mata terpejam.

"Aku tidak merasakannya pada orang lain, tidak mungkin ...." imbuh Sheyna menggenggam erat liontin di tangannya seolah-olah hidupnya bergantung pada liontin tersebut.

Perasaan menyimpang yang sudah lama dia miliki dan pendam seorang diri, hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Hanya Chandra, sekretarisnya, dan dirinya yang menyimpan rahasia ini. Perasaan yang tumbuh dan bertahan untuk Sheina seorang.

Cahaya dalam hidupnya.

Cahaya yang direnggut paksa oleh semesta dengan kejam.

WiH?

Di dunia ini tidak ada yang bisa dipercayai.

Tidak ada yang bisa dijadikan sandaran untuk bertahan hidup. Semua orang hidup dan bertahan hidup dilakukan oleh diri sendiri, bukan orang lain atau bersama orang lain. Kegelapan adalah rumah para monster, bayangan adalah cara monster bergerak.

Who is He? [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang