[25] - Rancangan Ganda

353 36 4
                                        

"Sheyna

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Sheyna ...." panggil Rakri membuat wanita itu menoleh, kedua alis yang nyaris bertaut menyiratkan kemarahannya, tatapan dingin yang perlahan melunak, Sheyna menghembuskan napas panjang. Dia memperbaiki postur duduknya begitu Rakri duduk di sebelahnya.

"Panggil Rion untuk membawa laporannya, kita lanjutkan rencana kita." perintah Sheyna bangkit dari duduknya, dia berjalan mengambil map coklat di meja kerjanya dan kembali mendekati Rakri.

Rakri mengangguk dan menghubungi Rion, dalam hitungan menit pria itu sudah sampai. Ketiganya kembali berkumpul, Rion membuka map coklat di tangannya dan menyerahkan dua rangkap kertas pada mereka berdua.

"Meliani sudah selesai melakukan operasi, tidak ada cedera serius pada organ dalamnya, namun dia tetap harus tinggal di rumah sakit sampai jahitan lukanya kering. Pria yang menusuknya dipulangkan secara diam-diam dalam pengawasan polisi, kemungkinan banyak pihak yang mengincarnya." terang Rion membuat Sheyna mengangguk paham.

Rakri memandangi potret Meliani di rumah sakit, lalu dia membaca kembali kertas di tangannya. "Siapa yang kau pilih selanjutnya, Rakri?" tanya Sheyna membuat Rakri menoleh padanya.

"Imelda, kita harus membereskan wanita itu sebelum dia berhasil melarikan diri." jawab Rakri membuat Sheyna menaikkan sebelah alisnya penasaran, dia pikir Rakri akan memilih ibu atau ayahnya terlebih dahulu, mengingat betapa kejamnya Imelda menyiksa mental dan fisiknya.

"Wanita ini gila, tapi dia pintar. Penerobosan terakhir kali, termasuk orang yang mau membunuhmu kemungkinan besar itu adalah Imelda," imbuh Rakri membuat keduanya menoleh.

"Bagaimana kau bisa seyakin itu?" tanya Sheyna merasa tertarik dengan cara berpikir Rakri yang mulai berkembang, walau jelas dia tahu jawabannya. Dia hanya ingin mengetes Rakri, apakah benar pria itu sudah merubah sedikit pola berpikirnya atau belum.

"Ibu tidak mungkin menyuruh orang-orang itu untuk membunuhmu, sebab fokusnya hanya padaku. Aku tahu cara berpikir ibu, dia wanita yang tidak peduli apapun selain dirinya dan aku," jawab Rakri membuat keduanya diam mendengarkannya.

Lebih tepatnya, aku sebagai tujuannya. Dan sebesar apapun kesempatan membunuh Sheyna yang notaben seorang Perun, ibu tidak akan menyentuhnya dengan blak-blakkan seperti itu.

"Kau pasti memiliki banyak musuh, Sheyna, dan kau tahu itu. Banyak orang mencari kesempatan untuk mendekati jangkauanmu, itulah saatnya. Imelda menggunakan ibuku agar bisa membunuhmu, jika saja kau terluka saat itu dan hal ini masuk ke media, ibuku akan menjadi tersangka, sedangkan dia akan mendapatkan keuntungannya." rerang Rakri sembari memajukan selembar foto Imelda ke tengah meja.

"Wanita ini adalah wanita paling busuk, daripada menyembunyikan bangkainya, dia memilih mengubur bangkai itu dan membuat orang lain menjadi pelakunya." tekan Rakri dengan serius, Sheyna menyunggingkan senyum miring di wajahnya.

Perkiraannya benar, Rakri bisa menjadi sosok yang hebat jika dipoles sedikit dengan pengetahuan. Namun hal itu bisa menjadi pedang bermata dua baginya, sebab jika Rakri tidak dapat mengolah pola pikrinya sendiri itu hanya mengakibatkan hal buruk pada dirinya sendiri.

Who is He? [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang