☆55

1K 101 23
                                        

Amosfer canggung itu bak melekat didalam ruang rawat Jina. Chaehyun menuntun Jina yang berjalan keluar dari toilet sedangkan Jake dan Heeseung duduk di sofa dan saling diam tanpa suara.

Jina berdehem kecil ketika melihat kedua orang itu bener bener saling mendiami. Ia kemudian kembali mendudukkan diri pada ranjang rumah sakit dibantu Chaehyun yang kini juga duduk di sebelah bangsal Jina.

"Pulang aja sana kalian!" Chaehyun menyahut geram melihat kedua kakak beradik itu.

"Enggak."

"Gak."

Jake dan Heeseung menyahut bergantian membuat mereka saling menatap satu sama lain, namun kembali membuang pandangan kesal.

Jina diam diam menggulum senyum. "Aku besok udah boleh pulang—"

"Pulang ke apartment gue!" Chaehyun memotong ucapan Jina. Ia merasa situasi saat ini akan lebih baik jika Jina pulang bersamanya.

Netra Jake sontak membulat. Ia dengan segera menggeleng. "Tunggu—"

"Apa? Mau apa? Protes? Kemana aja lu Jake hah?!"

Jina menyentuh lengan Chaehyun yang seolah akan melahap Jake dengan amarahnya. Ia tahu semua orang pasti akan menghakimi Jake seperti ini.

"Chaehyun-ah." Menggeleng pelan, Jina berusaha menenangkan Chaehyun. "Biar aku bicara"

Chaehyun hanya menghela napas panjang. Ia harus bisa menahan amarahnya untuk Jake saat ini, ia tahu Jina akan terus terusan membela Jake.

"Aku tahu mungkin banyak salah paham disini, terutama antara aku dan Jake." Jina menelan ludahnya susah payah, hatinya terasa berat jika mengingat banyak kejadian tak menyenangkan akhir akhir ini.

"Tapi biarin aku jelasin ke Jake dulu semuanya. Dan tolong kasih aku waktu untuk nenangin diri, setelah kehilangan anakku."

Disana, Heeseung dan Chaehyun sama sama terdiam. Perkataan Jina sepenuhnya benar. Bagaimanapun juga ini merupakan rumah tangga mereka, akan lebih baik mereka menyelesaikan kesalah pahaman terlebih dahulu dan untuk mengenai si penculik yang Heeseung sudah tahu identitas dan dalang dibalik semuanya, pria itu akan membicarakan itu berdua hanya dengan Jake sebelum memberi tahu Jina.

Tatapan Chaehyun melembut, mendengar Jina mengucapkan kalimat tentang kehilangan anaknya membuatnya ikut merasakan sakit. Ia dengan segera memeluk tubuh wanita itu, mengelus punggungnya pelan.

"Ji.."

Jina membalas pelukkan itu, menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Chaehyun. Ia tak ingin menangis.

"God knows what's best for you."

Tatapan Jake terpaku. Ia mengepalkan tangan. Pria itu menghela napas dalam-dalam, ia kini mengalihkan pandangan. Tak yakin bisa menahan untuk tidak kembali menangis melihat Jina yang begitu kehilangan.

Heeseung beranjak, mendekati Jina. Ia mengulurkan tangan untuk mengelus surai atas perempuan itu.

"Saya percaya sama kamu, Ji." Ucap pria itu. "You're the strongest woman I've ever met."

Jake memutuskan beranjak ketika merasa atmosfer ruangan itu menjadi sesak. Ia berjalan ke luar dari ruangan Jina, menutup pintu lantas bersender pada tembok. Ia mendongak, menahan agar air matanya tidak jatuh.

Ia juga merasa kehilangan.

Dirinya adalah ayah dari anak itu. Ia juga merasa kehilangan. Ia berulang kali menghela napas panjang, memegang dadanya.

Jake merasa sakit, namun dirinya juga yakin Jina lebih menderita. Dan ini semua karenanya. Jake merasa benar benar tidak pantas untuk sekedar mendapatkan maaf dari perempuan itu.

UNCONDITIONALLY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang