☆58

966 72 24
                                        

5 bulan kemudian..

Bunda

Jake, nak..
Sudah lima bulan, bagaimana kabarmu dan Jina? Juga calon bayimu, apa semuanya sehat? Bunda dan Ara terus merindukanmu.
Kalau sempat tolong telfon bunda ya nak, bunda tidak akan meminta penjelasan lagi seperti sebelum-sebelumnya, bunda hanya ingin mendengar suaramu.

.

.

.

Jake menghela napas cukup panjang ketika membaca pesan tersebut. Tangannya men-scrool lebih banyak, dan mendapat banyak pesan serupa dari sang ibu. Setelah hampir lima bulan ini ia tidak menghidupkan ponselnya dan memilih untuk membeli ponsel baru serta berganti nomor, ia merasa sedikit bersalah terhadap sang ibu.

Sebenarnya, pria itu bisa saja mengabari ibunya alih alih memilih hilang seperti ditelan bumi. Namun, ia tak yakin, takut jika sang papa ataupun orang suruhan keluarganya akan menemukan keberadaannya disini. Hanya nomor Heeseung satu satunya keluarga yang ia simpan, ia juga bertanya mengenai keadaan rumah terutama sang ibu dan ara lewat kakaknya itu. Ia dan Jina memilih mengasingkan diri dan menjauh dari rumah.

Perempuan itu tak keberatan ketika Jake mengajaknya pindah ke Busan, di sebuah daerah kecil bernama Yeongdo-gu. Jina malah memilih rumah yang begitu sederhana untuk mereka tinggali dan sedikit jauh dari tempat Jake bekerja. Tidak apa-apa untuk Jake, asalkan Jina mendapat sebuah tenang yang perempuan itu butuhkan setelah huru-hara kehidupan belakangan ini.

Dan benar saja, sang istri beberapa kali menyunggingkan senyum tipis ketika selesai menyiram beberapa bunga di dalam pot. Ia berjongkok, bahkan mengajak berbincang pada tanaman yang sudah tumbuh warna warni didepan rumahnya itu, membuat Jake terkekeh gemas ketika memandangi sang istri dari dalam rumah, lewat jendela kaca besar. Hatinya menghangat, entah sampai kapan ia dan Jina memilih mengasingkan diri dari rumah, yang jelas ini sangat sepadan.

Jina beranjak, berbalik dan mendapati Jake yang memandangnya melalui kaca besar, senyum perempuan itu merekah dengan alis terangkat. Ia memiringkan kepala, merasa heran dengan Jake yang terus menerus tersenyum memandangnya. Dengan perut yang membesar perempuan itu berjalan memasuki rumah, menghampiri sang pria.

"Ada apa?" Jina terkekeh kecil sementara Jake balik menanggapi, pria itu buru-buru memasukkan ponsel ke dalam saku.

Menggeleng kecil, Jake meraih pinggang si cantik, mengelus surai legam panjangnya pelan. "Nggak papa.."

"Nggak papa, kok ngeliatin terus?"

"Emang nggak boleh?"

"Nggak!" Sang istri menyahut, "Nggak boleh lama lama."

Sontak mengerutkan dahi, Jake bertanya, "Kenapa nggak boleh lama lama liatin istri aku?"

"Malu.." Perempuan itu menepuk pundak Jake pelan, hendak berbalik namun pria tersebut lebih dulu menahannya, meloloskan tawa. Jake juga masih tidak memahami kenapa Jina masih suka menjadi kepiting rebus saat ia menatapnya lama.

"Bosan? Mau keluar?"

Jina menggeleng, "Aku suka disini. Tapi kalau kamu bosan, belanja aja yuk!"

"Aku nggak pernah bosan kalau sama kamu."

Lihat saja kelakuan pria ini, bagaimana Jina tidak mudah memerah, dengan wajah tampan dan perkataannya yang terkesan menggoda, wanita mana yang tidak mudah jatuh cinta?

Perempuan itu sontak mencubit hidung Jake, ia mengernyit gemas. "Iiihh kamu nggak malu sama anak kamu genit genit begitu?"

"Enggak, tuh." Jake terkekeh, "Kan dia belum bisa lihat, masih di dalam perut kamu.."

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Jun 20, 2025 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

UNCONDITIONALLY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang