☆57

656 72 16
                                        

"Mau cerita sekarang?"

Jemari Jake mengelus lembut rambut Jina yang tengah bersandar pada dada bidangnya. Perempuan itu terlihat sibuk memainkan tangan Jake satunya, menggenggam, mencium dan beberapa kali mengelus-elus punggung tangannya.

Setelah makan malam yang Jake akhirnya memilih untuk memesan melalui daring alih alih memasak sendiri, karena tiba-tiba Jina menginginkan jajangmyeon, kini keduanya menikmati waktu diatas ranjang dibalik selimut hangat.

Perempuan itu mengangguk kecil, menghela napas panjang sebelum membuka suara.

"Kamu ingat waktu itu acara makan malam ulang tahun nenek, aku minta pulang duluan?"

Jake mengangguk. "Ingat sayang."

"Hari itu, entah kamu sadar atau tidak, nenek berulang kali menyinggung tentang panti asuhan. Sejujurnya, Jake, sebelum hari itu, nenek pernah datang ke rumah ini untuk menemuiku."

Jake terdiam, tubuhnya terasa menegang ketika Jina menyebutkan neneknya.

"Beliau tidak tahu kalau aku anak angkat keluarga Jeon."

"Apa yang nenek katakan, Ji?"

Jina menggeleng. "Enggak, bukan itu intinya. Waktu nenek nyinggung tentang panti asuhan saat makan malam, ternyata keluargaku tersinggung. Papa sama mama."

Jina berbalik, menatap Jake. "Kalau kamu ingat aku sempat ke toilet malam itu, aku suruh kamu kembali ke ruang keluarga lebih dulu, setelahnya aku lewat didepan ruangan papa kamu."

Jake masih terdiam mendengar cerita sang istri, jantungnya benar benar berdetak lebih cepat.

"Aku dengar percakapan orang tua kita, papa marah ke tuan Shim, papa kamu, karena beliau tersinggung. Lalu papa bilang kalau papa ingin membahagiakan aku karena papa yang membunuh kedua orang tua kandungku."

"Ji–"

"Jake." Perempuan itu menggenggam tangan Jake dengan erat, menahan diri untuk tidak menangis. "Selama ini aku nggak tahu kebenaran tentang diri aku sendiri. Aku hanya percaya kalau aku cuman anak yang nggak diinginkan dan di buang ke panti asuhan."

"Aku mencoba mencari tahu fakta mengenai orang tua kandungku sendiri, sehari setelah ulang tahun nenek, aku langsung datang menemui ibu panti, beliau hanya memberiku sebuah alamat, terletak di busan."

"Itu alasan kamu meminta bulan madu kesana?" Jake menyahut.

Jina mengangguk.

"Kenapa kamu ga bilang apa apa ke aku, Ji?"

"Aku takut, aku belum berani bilang apapun ke kamu karena aku ingin menyelesaikan urusanku ini sendiri tanpa melibatkan kamu, Jake."

Alis pria itu berkerut. "Kenapa?"

"Aku nggak mau membebani kamu.."

Jake memejamkan mata, menghela napasnya dalam dalam.

"Dengerin aku..." Jina menyahut lirih.

Pria itu lantas mengangguk, memfokuskan atensinya kembali.

"Aku datengin alamat itu, Jake. Aku coba bicara sama pemilik rumah, tapi orang itu kelihatan panik, nggak mau nemuin aku. Lalu ada seorang perempuan datengin tempat itu ternyata dia anak dari pemilik rumah, namanya Kim Juha, dan kebetulan ada kak Heeseung dateng bareng sama dia."

"Kak Heeseung?"

Jina mengangguk kecil. "Iya, kak Heeseung ga sengaja nabrak motor dia dan nganterin dia pulang ke rumah. Akhirnya nggak ada pilihan lain, aku cerita semua ke kak Heeseung alasan aku ada disana."

UNCONDITIONALLY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang