☆56

1.4K 99 35
                                        

-

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

-

Seluruh jiwa yang lahir di dunia ini pada dasarnya murni. Tak ada yang bisa memilih kita dilahirkan bagaimana dan dalam keadaan apa. Semuanya sudah ditetapkan oleh Tuhan dan pasti dengan alasan yang indah.

Terkadang keadaan dan juga kondisi seseorang yang mungkin saja tidak sanggup menghadapi kekejaman yang ada di dunia ini membuat seseorang memilih menjadi jahat. Namun semua tergantung bagaimana seseorang itu mengendalikan dirinya sendiri dan membiarkan dirinya mengelola akal pikirannya dengan benar.

Melirik Chaehyun yang sudah tertidur lelap di atas sofa, Jina beranjak perlahan turun dari ranjang rumah sakit untuk membuka tirai pada jendela disana. Hanya menampilkan langit gelap yang terhias bulan sabit. Perempuan itu menatap hiasan benda langit yang bersinar itu selama beberapa menit.

Perasaannya hampa. Ia merasa kosong, sudah terlalu banyak air mata yang luruh untuk menangisi segalanya.
Ia bisa berteriak bahwa dunia ini tak adil, ia bisa memberitahu semua orang disini jika dirinya lelah jika ia mau. Namun sepertinya yang lebih ia butuhkan disini hanyalah kehadiran seseorang yang bisa memahaminya walaupun ia tak mengeluarkan sepatah kata.

Kehadiran Jake yang mungkin bisa menenangkannya walaupun pria itu tak berucap dan hanya sekedar memeluknya. Jina merindukan dunianya.

Perempuan itu merasa takut. Bisakah setelah kesalahpahaman ini membuat ia dan Jake kembali seperti dulu? Bisakah Jake mempercayai dirinya lagi? Ia benar benar takut jika Jake tak bisa menerimanya lagi.

Berjalan menuju sebuah tas miliknya yang sempat Chaehyun bawakan, Jina mengambil sesuatu disana, didalam sebuah kotak. Itu merupakan sebuah kalung liontin yang dulu pernah Jake berikan. Jina masih menyimpannya di laci kamarnya selama ini.

Perempuan itu juga sudah membuka dan mengetahui isi kalung liontin itu sehari setelah Jake memberikan kalungnya. Foto kecil mereka. Jina memandangi foto saat mereka masih kecil itu, pada sebelah kanan terdapat fotonya dan sebelah kiri foto Jake. Ia mengulas senyum, memakaikan kalung itu pada leher jenjangnya.

"Kamu bisa buka kalung ini, kalau kamu udah cinta sama aku."

Jina terkekeh kecil mengingat ucapan Jake. Ia ingat sebenarnya ia sudah membuka kalung ini sejak Jake memberikannya waktu itu, saat malam hari, Jina sudah membukanya. Padahal Jina tidak tahu bagaimana perasaan pastinya pada Jake saat itu, namun dengan rasa penasaran dan mungkin ia yang masih denial dengan perasaannya membuatnya membuka kalung ini.

Ia memandangi foto itu sembari memikirkan bagaimana wajah anak mereka nanti? Apakah lebih mirip Jake atau dirinya? Mungkin saja jika Jina tak mengalami vanishing twin syndrome anak kembarnya akan terlihat lucu, mungkin saja ia bisa menyuruh Jake membuatkan kalung liontin lagi berisi kedua foto anak mereka.

UNCONDITIONALLY Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang